Siantar, hetanews.com – Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Kejuruan (SMK) di Kota Siantar sebagian besar menjual praktik jual beli seragam sekolah untuk siswa/siswi baru tahun ajaran (TA) 2016/2017. (Baca juga: SMA/SMK Negeri di Siantar ‘Paksa’ Orang Tua Siswa Beli Baju Seragam )

Dari informasi yang didapat, menyebutkan kalau praktek jual seragam dilakukan beberapa sekolah negeri seperti SMKN 1 Siantar Jalan Bali, SMKN 2 Siantar Jalan Asahan, SMAN 1 Siantar Jalan Parsoburan, SMAN 2 Siantar Jalan Patuan Anggi, SMAN 3 Siantar Jalan Pane dan SMAN 6 Siantar Jalan Cadika.

Dengan maksud hati ini menyeragamkan pakaian siswa-siswi mereka, tetapi kepala sekolah menyepelekan atau mengindahkan peraturan yang ada. Sekolah-sekolah ini jelas melanggar Peraturan Pemerintah Nomor (PP) Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelengaraan Pendidikan, pada pasal 181 dan 198 dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 45 tahun 2014 Bab IV pasal 4.

Peraturan ini bersifat nasional, tetapi yang jelas Kepala Sekolah SMA/SMK Negeri di Kota Siantar telah mengindahkan peraturan ini. Juga, Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dispenjar) Kota Siantar telah mengeluarkan surat edaran (SE) pada Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekola Menengah Kejuruan (SMK) Negeri, agar tidak melakukan penjualan pakaian seragam sekolah yang memberatkan orang tua siswa.

Adapun data yang didapat hetanews.com, SE dengan nomor 420/4277/PP/2016 tertanggal 10 Juni 2016 dan ditanda tangani langsung Kepala Dispenjar, Resman Panjaitan. Berarti surat ini sudah jauh hari disampaikan Dispenjar, bahkan jauh sebelum pengumuman hasil seleksi masuk sekolah negeri. (Baca juga:Dilarang Dispenjar Siantar, Sekolah Ngotot Jual Seragam​ )

Ketika awak media ini menelusuri harga jual seragam, didapat bahwa sekolah telah “mencekik” orang tua siswa-siswi baru itu dengan harga yang sangat tinggi. Sekolah menjual seragam putih abu-abu dengan harga dikisaran Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu. Untuk seragam pramuka, sekolah menjual dengan harga dikisaran Rp 190 ribu sampai Rp 210 ribu.

Sementara itu, di Pasar Horas Kota Siantar, ketika awak media ini menanyai ke pedagang seragam sekolah, mereka mengatakan bahwa mereka menjual seragam sekolah dan pramuka jauh dibawah harga yang ditetapkan sekolah.

“Harga matinya Rp 125 ribu untuk seragam sekolah putih abu-abu. Sementara itu, untuk seragam sekolah, harga matinya kami jual Rp 150 ribu. Kalau soal beda merk, harganya ya tidak jauh-jauh lah. Paling beda tipis harganya,” ucap Boru Chaniago, seorang pedagang seragam sekolah di Pasar Horas.

Ia juga mengatakan,ada pelanggannya yang pernah bercerita kalau seragam sekolah yang dibelinya tidak sesuai dengan ukuran badannya. “Ada kemarin itu yang beli disini karena seragamnya tidak sesuai ukuran badan anaknya. Katanya seragam itu gak bisa diganti ukurannya di sekolah,” katanya tanpa menyebutkan sekolah mana yang dimaksud.

Sementara itu, Tambunan, pedagang seragam yang lain juga menyebutkan kalau harga seragam sekolah yang mereka jual tidak jauh berbeda. “Harga seragam putih abu-abu Rp 125 ribu sampai Rp 130 ribu. Seragam pramuka, harganya Rp 150 ribu. Merk sini sama yang dijual sekolah-sekolah itu hanya beda tipis kalau soal harga,” jelasnya.

Dari pengakuan-pengakuan pedagang diatas soal harga seragam sekolah, ya jelas sekolah telah melakukan praktik bisnis yang menguntungkan kepada mereka tetapi sangat merugikan orangtua/wali siswa karena harganya sangat “mencekik” alias melambung tinggi dari harga pasaran yang ada.