HETANEWS

EWI: Sikap Arogansi Dirut PLN, Pembangkangan Terhadap Negara dan Rakyat

Direktur EWI, Ferdinand Hutahaean. (foto : Edo Panjaitan)

Jakarta, hetanews.com -  Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean berpendapat bahwa konflik terbuka antara Menteri ESDM Sudirman Said dengan Dirut Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir akhirnya meledak saat coffe morning di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menurutnya, konflik yang sudah terlalu lama terbiarkan terjadi dan sudah mengganggu kebijakan pemerintah dalam membangun pemenuhan kebutuhan energi listrik bagi masyarakat. 

“Bahkan di kalangan praktisi kelistrikan, sudah banyak yang mengeluh tentang sikap Dirut PLN yang arogan dan tidak patuh pada pemerintah. Salah satunya para pelaku di Mini Hydro dan Mikro Hydro,” ujar Ferdinand Hutahaean dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (24/7/2016). 

Alasannya, sambung Ferdinand, bahwa tarif yang sudah ditetapkan pemerintah tidak diimplementasikan oleh Dirut PLN. Sehingga pertumbuhan pada sektor ini menjadi lamban, padahal seharusnya Mini Hydro dan Mikro Hydro merupakan andalan pemenuhan listrik di daerah yang jauh dari jangkauan distribusi PLN. 

“Arogansi Dirut PLN ini juga yang diduga membuat Komisaris Utama PLN Kuntoro mundur beberapa waktu lalu. Sebab, tidak ada kesamaan visi antara pemerintah dengan Dirut PLN,” ujarnya. 

Menurutnya, visi Menteri ESDM sangat jelas dan “clear” bahwa pemenuhan listrik bagi rakyat adalah kewajiban negara, dan PLN tidak boleh dijadikan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang orientasinya “profit taking” atau ambil untung saja, tetapi PLN adalah BUMN yang melayani kebutuhan rakyat. 

“Inilah visi berbeda yang sangat tajam, dimana Dirut PLN menargetkan PLN harus untung besar hingga mengabaikan prinsip PLN adalah BUMN sebagai pelayanan publik,” terangnya. 

Atas visi itu, tambahnya, Dirut PLN terkesan bertindak semaunya, dan bahkan mengabaikan etika kepatutan hirarki tatanan pemerintahan.

Peranan Dirut PLN, menurutnya, secara hirarki berada di bawah Menteri ESDM karena PLN adalah eksekutor kebijakan pemerintah yang diwakili Menteri ESDM.

“PLN tidak boleh punya kebijakan sendiri, akan tetapi hanya mengeksekusi kebijakan pemerintah. Ini yang harus dipahami oleh Sofyan Baasir,” tegasnya. 

Menurutnya, sikap arogansi berujung pembangkangan Dirut PLN ini juga tidak terjadi begitu saja. Pihaknya juga melihat keberadaan Menteri BUMN seolah menjadi “backing” kekuasaan bagi Sofyan Baasir. Hal ini sangat kasat mata dimana Dirut PLN sepertinya lebih mengikuti arahan Menteri BUMN daripada Menteri ESDM. 

Ia mengatakan, Jokowi sebagai Presiden juga turut andil dalam masalah ini. Alasannya adalah ketika Jokowi mengunjungi beberapa pembangkit di Kalimantan dan meresmikan pembangkit di Aceh, yang ikut serta dalam rombongan tersebut adalah Menteri BUMN dan Dirut PLN, sementara Menteri ESDM tidak ikut serta. 

“Urusan apa Menteri BUMN dengan masalah teknis listrik? Menteri BUMN tugasnya adalah manajerial pembinaan BUMN, bukan masalah teknis BUMN. Kesalahan ini yang mengakibatkan Sofyan Basir “besar kepala” dan merasa tidak perlu mengikuti kebijakan Menteri ESDM,” bebernya. 

Ia menegaskan, bentuk pembangkangan ini harus dihentikan. Rini Soemarno tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi karena sudah mengganggu kebijakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat. “Menteri harus profesional, jangan memerintah dan merasa lebih berkuasa hanya karena lebih dekat kepada presiden. Ini negara bukan perusahaan pribadi Rini Soemarno,” tegasnya. 

Ia pun lantas mendesak agar Dirut PLN segera dicopot, dan diganti dengan orang yang lebih paham tentang listrik, bukan yang paham mencari uang. Ini BUMN layanan publik, bukan BUMN yang berorientasi pencari uang.

“Jangan bebankan rakyat untuk infrastruktur kelistrikan, sebab itu adalah tugasnya negara. Arogansi Dirut PLN itu sudah masuk kategori pembangkangan kepada negara dan rakyat. Copot dan ganti segera,” tandas Ferdinand.

Penulis: edo. Editor: aan.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.