HETANEWS

Hary Tanoesoedibjo Temu Ramah dengan Tokoh Adat Siantar

Ketua Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo saat disambut Ketua Forkala Siantar, Minten Saragih yang juga Ketua DPC Partai Perindo Siantar. (foto : Tommy Simanjuntak)

Siantar, hetanews.com -   Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Hary Tanoesoedibjo temu ramah dengan tokoh adat Kota Siantar, yang bergabung di Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (Forkala) di Hotel Sapadia Siantar, Kamis (21/7/2016).

Hadir dalam temu ramah itu, Ketua DPW Partai Perindo Sumut, Ketua Forkala Kota Siantar yang juga Ketua DPC Partai Perindo Siantar, Minten Saragih, tokoh adat dari setiap etnis dan kader Partai Perindo.

Pada pertemuan itu, sejumlah masukan disampaikan tokoh adat kepada Hary Tanoesoedibjo. Di antaranya, persoalan pemberantasan narkoba, maupun saran, agar Ketum Partai Perindo itu masuk dalam kabinet kerja Presiden RI, Joko Widodo yang biasa disebut Jokowi.

Sementara itu sebelumnya, dalam sambutannya, Hary Tanoesoedibjo yang sukses di dunia usaha tersebut, menyampaikan latar belakang dirinya terjun ke dunia politik dan menjadi seorang politisi di negeri ini.

Menurut salah seorang konglomerat yang dimiliki Indonesia ini, hal itu terjadi, pasca dirinya melakukan interaksi dengan berbagai kalangan. Interaksi itu sering ia lakukan, tidak terlepas dari peran usaha media yang ia lakoni. Bahkan, dari media lah, ia semakin banyak mengetahui kondisi bangsa Indonesia.

Hanya saja, semakin banyak yang ia ketahui, semakin menambah keprihatinan dirinya terhadap bangsa ini. Terutama, masih saja banyak masyarakat yang ia temukan.

“Di negeri ini, masih sangat sedikit masyarakatnya yang sempat merasakan jenjang pendidikan perguruan tinggi. Diperkirakan, hanya sekitar 9 persen. Angka 9 persen itu, tidak seluruhnya pula yang berhasil mendapatkan gelar kesarjanaannya,” sebut Hary.

Ditambah lagi kondisi perekonomian Indonesia yang masih diperankan kalangan elite. Hal itulah, menurutnya, menjadi salah satu penyebab, negara Indonesia tidak masuk dalam kategori negara maju.

Hal lainnya yang ia risaukan, berupa rendahnya kesadaran membayar pajak para pengusaha. Hary menyampaikan, hanya sekitar 1 juta lebih saja pengusaha yang membayar pajak. Jumlah itu, katanya, masih sangat jauh dari yang diharapkan.

Penulis: tom. Editor: aan.