HETANEWS.COM

Kepala Forensik RSUD Siantar Diperiksa Kasus Kematian Andi Pangaribuan

Luka yang ditemukan di leher Andi Pangaribuan saat ditemukan tewas di sel tahanan Polres Tobasa beberapa waktu lalu. (foto : Ist)

Siantar, hetanews.com Kepala Instalasi Forensik RSUD Djasamen Saragih, Kota Siantar, Reinhard Hutahaean membenarkan dirinya diperiksa sebagai saksi atas kasus kematian tahanan Polres Toba Samosir (Tobasa), Andi Pangaribuan.

Reinhard diperiksa Polda Sumatera Utara (Poldasu) pada 22 Desember 2015 silam. Dirinya dimintai keterangan sesuai hasil pemeriksaan jenazah warga Pintu Bosi, Kecamatan Laguboti, tahanan Polres Tobasa yang ditemukan mati tergantung di dalam sel tahanan pada 6 November 2015.

Menurut Reinhard, hasil pemeriksaan luar dan dalam (autopsi) korban telah mengalami pengawetan dengan cairan formalin dengan lama kematian sulit ditentukan. Korban mengalami luka memar kelopak mata, luka lecet didada dan punggung yang disebabkan trauma kekerasan tumpul.

"Kami tidak bisa menetapkan seseorang meninggal karena dibunuh atau bunuh diri. Karena yang menetapkan itu polisi soal bunuh diri atau dibunuh.

Karena hasil autopsi harus dihubungkan dengan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan saksi-saksi. Sedangkan kami hanya lakukan autopsi," ujarnya dihubungi melalui telepon seluler, kemarin.

Reinhard berujar, hasil autopsi korban meninggal disebabkan mati gantung yang mengakibatkan mati lemas akibat terhalangnya udara masuk ke paru-paru dengan kesan jejas jeratan cenderung tenang.

Terkait kasus kematian Andi ini, telah ditetapkan dua orang personil Polres Tobasa sebagai tersangka namun belum ditahan hingga saat ini. "Mereka masih bertugas. Soal ditahan atau tidaknya itu wewenang penyidik," ujar Kabid Humas Poldasu, AKBP Rina Sari Ginting kepada wartawan, Sabtu (25/6/2016).

Ia menambahkan, kedua anggota Polres Tobasa bernama Brigadir Linton Chandra Pangaribuan dan Brigadir Marco Panata Purba memang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dianggap melanggar melanggar Pasal 351 Ayat (2) KUHP dengan ancaman tujuh tahun penjara. "Mereka diancam Pasal 351 Ayat (2) KUHP dengan ancaman tujuh tahun penjara," tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, pengamat hukum dari Pusat Studi Hukum dan Pembaruan (Pushpa), Muslim Muis mengatakan, dalam kasus ini penyidik Polda Sumut patut dicurigai melakukan kecurangan dan berusaha menghilangkan sejumlah pasal sebagaimana diatur dalam KUHP.

“Korbannya kan tewas. Dari hasil pemeriksaan ditemukan luka lebam. Seharusnya, pasal yang diterapkan itu Pasal 351 ayat (3) jo Pasal 170 jo Pasal 55 karena pelakunya lebih dari satu orang dan korbannya meninggal dunia,” paparnya.

Muslim mengungkapkan, dia pun meminta Kapoldasu Irjen Raden Budi Winarso segera mengevaluasi penyidik yang menangani kasus tersebut dan kemudian membentuk tim agar kasus ini benar-benar bisa terungkap sesuai dengan fakta.

Sebelumnya diberitakan, seorang tahanan Polres Tobasa bernama Andi Pangaribuan ditemukan tewas dengan posisi leher tergantung baju di sel tahanan pada Sabtu, 6 November 2015.

Atas kasus itu, pihak keluarga kemudian melaporkan dugaan tindak pidana pembunuhan tersebut ke Poldasu yang ditangani Subdit III/Jahtanras Dit Krimum Poldasu, sesuai dengan nomor laporan LP/1437/XIII/2015/SPKT II, tanggal 30 November 2015.

Hingga kini, dua polisi yang bertugas di Polres Tobasa, yaitu Brigadir Linton Chandra Panjaitan dan Brigadir Marco Panata Purba sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus tewasnya Andi Pangaribuan.

(tambahan sumber: okezone)

Penulis: bt. Editor: aan.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan