HETANEWS.COM

Tahanan Tewas, Kapoldasu Didesak Bebas Tugaskan Kapolres Tobasa

Dokumentasi foto Andi saat ditemukan tewas dengan kain tergantung di sel tahanan Polres Tobasa. (foto : Frengki Silitonga)

Tobasa, hetanews.com - DPRD Sumut mendesak Kapolda Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Pol Raden Budi Winarso supaya membebaskan tugaskan Kapolres Toba Samosir (Tobasa), AKBP Jidin Siagian. Ini terkait Andi Pangaribuan yang meninggal dunia di sel tahanan Polres Tobasa pada 6 November 2015 lalu dengan kondisi tubuh tergantung kain.

Kapolres Tobasa juga diminta agar bertangung jawab dan jangan lepas tangan atas kematian  warga Pintu Bosi, Kecamatan Laguboti tersebut. Karena kematian almarhum tidak murni bunuh diri, melainkan disiksa.

Hal itu disampaikan, Anggota DPRD Sumut  dari partai PDI-P, Sutrisno Pangaribuan saat dihubungi wartawan melalui telepon selulernya, Minggu(26/6/2016). Dirinya menyesalkan penyataan Kapolres Tobasa yang sudah berani menyatakan Andi bunuh diri tanpa ada keluar surat hasil visum (otopsi).

Anehnya, pada hari Andi meninggal, besoknya keluar pernyataan Kapolres jika itu bunuh diri. Sehingga dipertanyakan mau diarahkan kemana hasil otopsinya. "Berarti ada upaya Kapolres Tobasa  untuk merakayasa dan menutup- nutupi kasus kematian Andi. Dan hal ini juga sudah pernah saya katakan ke beberapa media," ungkapnya.

Sutrisno juga memintar Kapoldasu agar dua oknum personil Polres Tobasa yang ditetapkan sebagai tersangka ditahan dan diperiksa secara detail apa saja yang terjadi saat proses penangkapan almarhum (Andi red). Dan diminta Kapoldasu menonaktifkan Jidin Siagian dari  jabatannya serta memeriksa Kasat Narkoba Polres Tobasa.

"Jangan -jangan nanti kedua anggota polisi itu hanya korban sebuah sistem, sedangkan aktor intelektualnya belum disentuh. Jadi sekecil atau sebesar apapun masalah  di Polres Tobasa itu menjadi tanggung jawab Kapolres bukan anggotanya. Dan  tidak ada alasan Kapolres mengelak," sebutnya.

Mangatur Nainggolan

Anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Cilangkap, Mangatur Nainggolan meminta Kapolres Tobasa supaya bertanggung jawab atas kematian Andi. Da juga meminta jabatan Kapolres Tobasa dinonaktifkan agar penyelidikan dapat berjalan lebih sempurna

"Menurut pemahaman saya, Kapolres perlu diminta pertanggung jawabannya. Kenapa bisa tahanan meningal di sel  dan dasar apa yang terjadi. Kalau dibilang bunuh diri , apa bukti forensik yang menyatakan itu (bunuh diri). Saran saya, biar penyelidikan dapat lebih sempurna Kapolres Tobasa harus dinonaktifkan dulu, supaya ada efek jera. Kalau memang tidak bersalah, maka dapat diaktifkan kembali. Supaya apa, biar terlihat proses pencarian kebenaran penyelidikan itu berjalan dengan baik dan transparan," kata Mangatur melalui telepon seluler.

Dirinya  juga mengajak masyarakat supaya yakin untuk proses penegakan hukum, serta meminta aparat sosial kontrol bersatu padu untuk mengawal proses meninggalnya Andi Pamgaribuan dan melakukan  monitoring kasus Herman Richardo Hutapea, agar jangan ada korban lagi.

"Jangan hanya prajurit-prajurit yang kena, dibutuhkan juga kesatriaan pemimpin. Kalau memang secara jabatan Kapolres bertangung jawab, ya mari bertanggung jawab kematian tahanan di sel. Itu pendapat saya.  Jadi saya minta seluruh aparat sosial kontrol masyarakat,  tolong bersatu padu untuk mengawal proses meninggalnya, Andi Pangaribuan di sel tahanan Polres Tobasa dan satu lagi  Herman Richardo Hutapea, agar tetap dimonitor prosesnya, supaya jangan ada timbul korban lagi. Karena hukum membuat tertib dan bukan untuk menambah kekacauan," katanya.

Direktur LBH Keuangan itu menyampaikan, bahwa hukum tidak boleh disalah gunakan siapa pun orangnya. Karena semua masyarakat sama dihadapan hukum, termasuk Kapolres, Gubernur dan lain - lainya

"Jangankan Kapolres, Kabareskrim saja sudah masuk penjara. Dan jangan coba-coba kebal hukum di Tobasa, karena itu termasuk mempermalukan orang Batak. Sebab orang Batak itu terkenal dengan orang-orang yang berpendidikan. Jangan nanti di sana kita temukan kebobrokan hukum," kata Tokoh Buruh SBSI seperjuangan Muktar Pakpahan itu.

Sebelumnya, karena  tidak percaya dengan pernyataan Kapolres Tobasa yang mengatakan Andi Pangaribuan mati bunuh diri, pihak keluarga melaporkan dugaan tindak pidana pembunuhan  ke Poldasu,  yang ditangani oleh Subdit III/Jahtanras Dit Krimum Poldasu.sesuai dengan nomor laporan LP/1437/XIII/2015/SPKT II, tanggal 30 November 2015.

Usai menjalani serangkaian proses penyelidikan, akhirnya penyidik menetapkan dua anggota Polres Tobasa yakni, Linton Chandra Panjaitan dan Marco Panata Purba sebagai tersangka. Penetapan kedua oknum polisi itu sesuai isi Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) tertanggal 9 Juni 2016, yang diterima oleh Benny Pangaribuan selaku bang korban. 

Kasubbid Penmas Humas Poldasu, AKBP MP Nainggolan membenarkan dua anggota polisi telah ditetapkan sebagai tersangka.

"Yang pasti jika memang terbukti, tidak menutup kemungkinan kedua tersangka akan di  Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH)," ujar Nainggolan kepada wartawan di ruang kerjanya.
 

Penulis: frengki. Editor: aan.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan