HETANEWS

Polres Tobasa Tangkap Ketua LSM Ibarat Teroris

Herman (tengah) saat diamankan dari rumahnya.

Tobasa, hetanews.com - Dituduh melakukan pemerasan terhadap seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) tak lain Kabag Umum Pemkab Toba Samosir (Tobasa) Erwin Panggabean, Ketua DPD LSM Lembaga Peduli Lingkungan Masyarakat (LPLM) , Herman Richardo Hutapea diciduk personil Polres setempat.

Herman diciduk petugas dari rumahnya, Kamis(23/6/2016) sekira pukul 03.30 WIB, subuh.  Kini Ricardo yang getol menyoroti masalah pengadaan sound system di Sekretariat Pemkab Tobasa bernilai miliaran rupiah itu ditahan di Mapolres setempat.

Herman saat membaca surat penangkapan terhadap dirinya dikeliling sejumlah personil Polres Tobasa.

Menurut istri Herman, Natasya boru Siahaan, bahwa penangkapan terhadap suaminya tidak beralasan. Sebab tudingan pemerasan tidak memiliki bukti yang kongrit dan ini jebakan bagi suaminya. 

“Awalnya, suami saya ditelepon beberapa kali oleh seseorang bernama Erwin Panggabean untuk bertemu. Tapi suami saya awalnya menolak. Namun karena didesak terus , akhirnya suami saya menemuinya,” sebut Natasya.

Akan tetapi begitu bertemu di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Laguboti dengan Erwin Panggabean yang menelponnya, Rabu (22/6/2016) sekira pukul 22.00 WIB, sejumlah personil Polres Tobasa yang stanbay di lokasi langsung menangkap  dan melakukan pengeledahan terhadap Herman, dengan tudingan pemerasan. 

“Karena tidak ada barang bukti, akhirnya polisi melepaskannya. Jadi penangkapan itu tidak beralasan,” ungkap Natasya , Kamis(23/6/2016).

Natasya mengatakan, penangkapan terhadap suaminya dituding bagaikan teroris dan membuat keluarganya serta anak-anaknya menjadi trauma. Sampai saat ini, Natasya bersama anak-anak masih trauma atau takut tinggal di rumah.

Sejumlah personil Polres Tobasa berjaga - jaga di luar rumah Herman

“Karena polisi yang datang menangkap suami saya sekitar 25 orang, dengan bersenjata lengkap laras panjang. Kasus penangkapan ini juga akan saya laporkan ke Propam Polda Sumatera Utara (Poldasu) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk meminta perlindungan hukum,” kata ibu tiga anak itu.

Usai penangkapan suaminya, terang Natasya, dua jam kemudian petugas Polres Tobasa datang ke rumah mereka. Selanjutnya melakukan pengeledahan isi rumah mereka.

“Polisi datang melakukan pengeledahan seisi rumah termasuk di dalam kamar. Mereka juga mendesak saya supaya menyerahkan uang hasil pemerasan yang diberikan Richardo kepada saya. Kebetulan saat itu, ada uang Rp 300 ribu saya pegang,” sebutnya.

Kemudian Natasya menyerahkan uang itu kepada petugas. Selanjutnya polisi mencocokan selebaran uang yang sudah diotocopy dengan uang yang diberikan Natasya.

“Karena tidak ada yang cocok nomor serinya, maka uang saya dikembalikan oleh polisi,” terang Natasya sembari menyampaikan ada 6 unit mobil polisi menangkap suaminya.

Surat perintah penangkapan terhadap Herman.

Ketika dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Tobasa, AKP Manson Nainggolan mengatakan, Herman ditangkap karena melakukan pemerasan. Ketika ditanya siapa pelapornya, Mansonmengatakan si korban (tanpa menyebutkan namanya).

“Dasar penangkapan karena melalukan pemerasan atas adanya laporan korban. Ancaman 6 tahun dan saat ini dia (Herman) masih ditahan,” jelas Manson.

Penulis: frengki. Editor: aan.
Komentar 6