Tobasa,  hetanews.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba Samosir, menggelar sosialisasi Penerimaan Siswa Baru (PSB)  tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) di Aula SMKN 2 Laguboti , Kamis (9/6/2016). Acara sosialisasi ini dipimpin Wakil Bupati Tobasa Hulman Sitorus, Sekdakab Tobasa Audy Murphi O Sitorus, Ketua DPRD Tobasa Boyke Pasaribu, Wakil DPRD Tobasa Asmadi Lubis, Ketua Komisi C Wilson  Pangaribuan, Kepala Dinas Pendidikan Tobasa Lalo H Simanjuntak.

Adapun agenda dalam kegiatan itu yakni membahas penerimaan siswa baru di SMUN 2 dan SMUN 1 Balige,  yang menjadi sekolah favorit dan kebanggaan Kabupaten Tobasa. Dua sekolah tersebut pun mengusulkan pembobotan yang diberlakukan selama ini di SMAN 2 dan SMAN 1 agar direvisi dan dikaji ulang. Kemudian, PSB di sekolah itu juga dilakukan melalui seleksi tes tertulis bukan melalui NEM. Selain itu, sekolah itu juga meminta agar mereka dibebaskan dari rayonisasi.

Dalam rapat dan sosialisasi ini, sempat terjadi perdebatan ketika beberapa Kepala Sekolah SMUN lainnya merasa keberatan karena tidak kebagian siswa bahkan khawatir semua siswa/i yang pintar dan berkualitas, akan bersekolah di Balige, seperti yang diutarakan S Sidabutar Kepala Sekoah SMAN 1 Laguboti dan Panjaitan dari SMAN Borbor.

Menjawab permasalahan ini, Ketua DPRD Tobasa,Boyke Pasaribu, mengatakan setiap keputusan menimbulkan dua konsekuensi positif dan negatif. Namun, saat ini keputusan mengijinkan SMAN 2 dan SMAN 1 Balige untuk bebas rayon dengan pelaksanaan PSB melalui seleksi tes tertulis dinilai sangat baik demi kebaikan pendidikan Tobasa.

Terkait  sistem PSB  di dua SMAN 2 dan SMAN 1 Balige, Wakil Bupati Hulman Sitorus, mengatakan keputusan itu demi kebaikan untuk memberi kesempatan bagi para siswa/i alumni SMP di Tobasa untuk berkompetisi masuk ke sekolah ini, karena sebaiknya siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi didukung oleh lingkungan sekolah seperti kedua sekolah itu.

Ketua Komisi C Wilson Pangaribuan, juga sempat menyampaikan keluhannya tentang minimnya kelulusan alumni SMP masuk ke sekolah plus di Tobasa.

Selanjutnya, Wakil DPRD Tobasa,Asmadi lubis, berpendapat sudah waktunya Tobasa mampu berkompetisi dan sekolah butuh sistem yang baru demi peningkatan kualitas, serta memiliki komitmen yg benar, disiplin dari stakeholders, bekerja dengan kesadaran karena pendidikan ujung tombak keberhasilan generasi penerus bangsa. Lalu, SMAN 1 dan 2 dibebaskan rayon.

Kepsek SMKN 1 Balige Tigor siahaan,  dalam kesempatan itu mengusulkan agar pemerintah juga mempertimbangkan pembiayaan operasional SMK, mengingat biaya pendidikan SMK  lebih tinggi dari SMA.

"Bagaimana kami bisa meningkatkan kualitas dan mutu jika dana yang kami kelola tidak memadai,contohnya untuk mengundang tenaga ahli membentuk siswa/i menjadi tenaga kerja yang handal dan siap pakai atau membuat kesepakatan MoU terkait tenaga kerja ke salah satu perusahaan," katanya.

Untuk menjawab permasalahan disejumlah SMK Tobasa, Wakil bupati mengatakan pendidikan adalah harga mati bagi  Tobasa, karena prioritas Tobasa hebat adalah membina SDM dalam akademis. "Untuk mengatasi permasalahan yang sedang dialami SMK sebagai pencetak tenaga kerja akan kita pikirkan kedepan," katanya.

Usai pertemuan, Ketua DPRD Tobasa,Asmadi Lubis, mengatakan pertemuan ini merupakan tindak lanjut usulannya ke Bupati Darwin Siagian-Hulman Sitorus sebagai upaya mempertahankan mutu serta kualitas pendidikan. Kemudian , menghindari intervensi maupun tekanan dari pihak ketiga waktu penerimaan  siwa baru SMAN 2 dan SMAN 1 Balige.

"Kita perlu mengambil sikap tegas guna menyelamatkan dunia pendidikan Tobasa ,SMAN 2 dan SMAN 1 merupakan sekolah berkualitas  layak untuk kita pertahankan agar Tobasa tetap eksis menuju kota pendidikan," katanya.