HETANEWS

Warga Jorlang Hataran Laporkan Bantuan Desa ke Kejari Simalungun

Ruben Purba menunjukkan proyek PNPM Pedesaan. (foto : Istimewa)

Simalungun, hetanews.com - Warga Nagori (Desa) Jorlang Hataran, Kecamatan Jorlang Hataran merasa kesal akan proyek bantuan desa yang menurut mereka banyak kejanggalan.

Akhirnya warga melaporkan kejanggalan tersebut kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Simalungun, Senin (6/6/2016).

Berdasarkan keterangan dari Ruben Purba yang juga Ketua Kelompok Tani (Poktan) di Nagori Jorlang Hataran, ada 5 bantuan desa yang menurutnya mengalami kejanggalan.

Pertama yakni pengecoran jalan setapak dari proyek Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PIPP). Ada 3 proyek jalan setapak yang mengalami kejanggalan yakni di daerah Aek Motung, Bandar Jawa dan Simpang Mayat Pematang.

“Proyeknya tahun 2013, tetapi belum lima tahun sudah rusak parah, padahal dana yang diambil itu sebesar Rp 250 juta dan itu proyek dari Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Tarukim) Pemprovsu,” kata Ruben.

Lanjut Ruben, ada juga volume jalan setapak yang tidak sesuai. Ini adalah volume jalan setapak ke gereja HKBP Pematang dan pembuatan saluran dari Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2015 dengan besaran biaya Rp 200 juta. Pihaknya meminta kepada Kejari untuk melakukan pengecekan ulang.

Selain itu kata Ruben, bantuan hand traktor (jetor) yang tidak jelas keberadaan. Menurut informasi sudah diperjualbelikan. “Kan ada 2 itu bantuan hand traktor, 1 itu dijual jadi gilingan, lalu sisa nya disewakan langsung oleh pangulu,” ucapnya.

Ruben juga menduga dana Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang tidak jelas pertanggung jawabannya. “Dana PUAP sebesar Rp 100 juta itu tidak bergulir alias runyam dan tak jelas pertanggung jawabannya. Padahal PUAP itu sudah digulirkan 6 tahun lalu, tetapi tidak ada satupun yang mendapatkan dana nya,” sebut Ruben.

Kondisi jalan yang rusak. (foto: Istimewa)

Dan terakhir yakni volume pembukaan jalan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (PNPM - Pedesaan) di Desa Bawang Siursa ke Pematang, yang hingga saat ini tidak tuntas dikerjakan. Padahal sudah setahun yang lalu dikerjakan tetapi sampai sekarang tidak tuntas.

Ruben mengharapkan adanya tidak lanjut dari Kejari Simalungun atas pengaduan mereka tersebut. “Karena kami sudah sakit mata melihat proyek-proyek itu yang tidak jelas keberadaannya,” sebut Ruben mengakhiri.

Penulis: tom. Editor: aan.