HETANEWS

Niat Mengantar Pulang Berujung Pembunuhan

Salah seorang saksi memberikan keterangan di persidangan. (foto : Bismar Siahaan)

Simalungun, hetanews.com - Berniat mengantar pulang justru berujung terjadinya pembunuhan, sehingga menyebabkan Elpino Tarigan (20) alias Pindo menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Kamis (2/6/2016).

Dalam persidangan yang diketuai majelis hakim Julius Panjaitan, dengan hakim anggota Sinta Pasaribu dan Melinda Aritonang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Augus Sinaga menghadirkan tiga orang saksi yang mengetahui kejadian dialami korban Bintang Tarigan (42).

Ketiga saksi menuturkan, saat itu mereka hanya melihat terdakwa dan korban berjalan sejauh 200 meter dari lokasi warung tua tempat keduanya berjumpa. Saat itu keadaan Bintang sedang mabuk berat akibat banyak minum tuak di warung tuak milik Besli Situmorang.

“Kami tidak ada mendengar keributan atau permasalahan antara terdakwa dengan korban. Karena kedua korban merupakan satu marga,” ucap ketiga saksi saat memberikan keterangan secara terpisah.

Sementara di dalam dakwaan disebutkan, pada tanggal 13 Desember 2016, Elpindo warga Huta Sipinggan Nagori Panombean Panei, Kecamatan Panombean Panei, Kabupaten Simalungun, bertemu dengan Bintang Tarigan yang sudah terlebih dahulu minum tuak di warung Besli Situmorang.

Saat korban sedang mabuk, Elpindo kemudian mengajak pulang. Lalu keduanya pulang  Namun saat masih berada 200 meter dari lokasi warung tuak tersebut, korban menolak diantar pulang terdakwa, karena menilai diirnya bisa pulang sendiri. Ternyata terdakwa  tetap ingin mengantar pulang, namun Bintang tetap menolak.

Akibat terus menolak, membuat terdakwa semakin emosi, sehingga mendorong korban di bagian dada dan terjatuh ke aspal tempat mereka berdiri. Lama menunggu, Bintang tidak bangkit dari jatuh nya, sehingga membuat terdakwa agak sedikit kebingungan.

Tak berapa lama, Besli Sitummorang saat akan membeli rokok, melihat terdakwa dan korban sedang tertidur di atas aspal dengan kondisi berlumur darah. Besli lalu bertanya pada terdakwa apakah memukuli korban. Selanjutnya Besli memanggil warga sekitar untuk menolong korban.

Sayangnya saat akan mengantar korban ke bidan setempat untuk diobati, ternyata sudah menghembuskan nafas terakhirnya ( meninggal dunia ). Sementara sesuai surat visum menyebutkan, korban mengalami luka di bagian kepala hingga retak, serta ada luka lebam di bagian tangan dan dada korban.

Akibat perbuatannya, terdakwa dijerat dengan pasal 338 dan 359 KUH Pidana. Selanjutnya sidang ditunda majelis hakim sampai minggu depan dengan agenda pemeriksaan saksi lain.

Penulis: res. Editor: aan.