HETANEWS

Atlit Renang Siantar Bersedia Bertanding Bawa Nama Daerah Lain

Dimas Adrianto dan Putri Marisa Pangaribuan. (foto : Tommy Simanjuntak)

Siantar, hetanews.com - Siapa yang salah jika atlit lebih memilih membawa nama daerah lain dibanding daerah asalnya dan hal inilah yang sering dialami atlit renang di Kota Siantar.

Bagaimana tidak segala jerih payah mereka (atlit renang) untuk melakukan latihan demi membawa nama Kota Siantar seakan tidak dihargai. Mirisnya, bahkan ucapan terima kasih saja tidak pernah dirasakan dari kota kelahiran mereka.

Seperti yang dialami Dimas Adrianto. Anak ketiga dari tiga bersaudara ini harus gagal meraih mimpinya untuk ikut dalam Pekan Olahraga Nasional (PON), dengan alasan yang sampai saat ini tidak jelas.

“Seharus saya ikut di PON tahun ini di Bandung, Jawa Barat (Jabar), tetapi entah kenapa gak tau apa alasannya. Katanya sih ikut Polo Air, terus saya tanya yang lain, alasan beda. Padahal saya ingin sekali ikut PON," sebutnya saat ditemui hetanews di sela – sela latihan di kolam renang Detis Sari Indah Jalan Pematang, Kelurahan Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan, Sabtu (7/5/2016).

Namun semangat dari Dimas, yang memiliki postur badannya yang tinggi besar. Dirinya tetap serius mengikuti latihan untuk mencapai cita-citanya bertanding di PON selanjutnya. “Apapun alasannya itu saya sudah pasrah tidak bisa ikut bertanding. Tetapi saya yakin di tahun berikutnya bisa ikut di PON," sebut Dimas.

Pernyataan yang menyayat hati keluar dari mulut lelaki yang telah menyukai renang sejak kelas tiga Sekolah Dasar (SD) ini yang lebih memilih membawa nama daerah lain dibanding tempat kelahirannya tersebut. Dia beralasan, dirinya tidak pernah mendapatkan dukungan dari Pemko Siantar.

“Kalau ada daerah lain yang mau mengontrak jadi atlitnya yah saya terima aja. Karena percuma di Siantar ini, ucapan terima kasih saja tidak pernah saya dapat," ucapnya.

Para atlit renang saat berlatih. (foto: Tommy Simanjuntak)

Dimas telah bertanding dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) tahun 2012 di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) dan meraih medali perak, serta Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) di Pekan Baru, Riau, mendapatan medali perunggu, namun saat ini bekerja sebagai tukang las.

“Yah saat jadi tukang las lah bang, padahal kawan-kawan yang lain, maaf bukan mau sombong dulu lawan yang kalah dengan saya sekarang sudah digaji daerahnya sebesar Rp 5 juta per bulan. Yah kita ini di Siantar, ya ginilah bang. Itulah yang membuat saya mau kalau ditawari oleh daerah lain, buat apa di Siantar kalau tidak dihargai," keluhnya.

Hal senada juga dialami Putri Marisa Pangaribuan. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan ekonomi ini juga memiliki segudang prestasi.

“Kemarin saya ikut Kejuaraan Perkumpulan Renang Seluruh Indonesia (Kerpasi) di Bandung tahun 2012 dapat perak dan perunggu. Bulan Desember tahun 2015 di Malaysia yaitu Asean Universiti tetapi membawa nama USU, saya dapat medali perunggu,"sebutnya.

Putri yang sudah menyukai renang sejak umur 4 tahun ini,menceritakan pengalaman pahitnya ketika melakukan pertandingan. “Waktu itu (bertanding) kami nginap di suatu tempat dan tidur kayak ikan rebus gitu, hanya beralaskan tikar dan ramai – ramai lah tidurnya," sebut Putri.

Penulis: tom. Editor: aan.
Komentar 2