Siantar, hetanews.com - Rekonstruksi kasus pembakaran Jamuda Gultom oleh Arifin Saragih alias Ripin dilakukan oleh Polresta Siantar di seputaran kuburan Cina, Jalan Ade Irma, Kelurahan Banjar, Kecamatan Siantar Barat, Selasa (3/5/2016) siang.

Orang tua Ripin, Minten Saragih sangat menyayangkan hal tersebut karena seakan dipaksakan oleh pihak kepolisian. “Ini semua sangat dipaksakan, peran sepihak dari Kepolisian saja. Anakku kena pasal 170 KUHP tentang penganiyaan secara bersama-sama. Siapa kawannya, kok bisa jadi bersama-sama? Siapa saksi mata?” tanya Minten ketika ditemui, Selasa (3/5/2016).

Ia mengatakan, selama anaknya diperiksa, Ripin kooperatif. “Anak saya kooperatif, pertama diperiksa sebagai saksi. Kemudian, untuk si Ferry Simanjuntak, ia dijebak dengan kasus narkotika. Dia diiming-imingi diberikan keringanan kasus narkotikanya dengan menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Si Ferry ini diintimidasi,” kata Minten.

Dalam rekontruksi itu, ia mempertanyakan barang bukti sepedamotor. “Kok bisa sepeda motor (kereta) itu jadi barang bukti. Apa dasarnya. Banyak kereta RX King Cobra di Siantar ini. Memangnya hanya anak saya yang punya RX King Cobra di Siantar ini. Kepada Kapolres dan penyidik tolong ditinjau kembali ini.

Pas mau rekonstruksi ini pun, anak saya sudah keberatan. Karena dia memang tidak bersalah ada melakukan pembakaran itu. Mereka (Polresta Siantar) tidak tahu kalau saya sudah melaporkan kasus ini ke Kompolnas dan Komisi III DPR RI. Kami berdoa untuk berserah yakin ini semua rekayasa,” jelasnya.

Apabila nantinya berkas Ripin Saragih masih P19 , ia akan mengadukan korban. “Saya akan mengadukan Jamuda Gultom kalau P19 tidak terbukti. Apalagi Propam sudah turun. Saya yakin kalau jaksa tidak akan menerima bola panas. Dan 100 persen, saya juga yakin kalau ditanya, semua penyidik pasti beda pendapat dan akan diberikan sanksi oleh Propam,” akhir Minten Saragih.