Simalungun, hetanews.com - Seribuan warga menyaksikan acara ritual pengusiran begu ganjang (sosok hantu yang ditakuti di kalangan orang Batak) di Huta (Dusun) Meriah Jambu, Nagori Pokan Baru, Kecamatan Hutabayuraja, Kabupaten Simalungun, Senin (2/5/2016). 

Acara ritual dilaksanakan di depan rumah marga Tambunan atas kesepakatan 150 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari tiga Serikat Tolong Menolong (STM). Ritual ini dibebankan biaya sebesar Rp150 ribu per KK.

“Tujuan ritual ini guna mengusir begu ganjang karena di Huta Meriah Jambu sudah banyak warga yang meninggal sebelumnya secara tidak wajar,” kata sejumlah warga yang tidak mau disebutkan namanya.

Kondisi ini membuat warga resah dan khawatir atau merasa tak nyaman. Walaupun kutipan biaya yang dibebankan dinilai memberatkan dengan kondisi ekonomi saat ini, warga tak mempermasalahkan. Namun yang terpenting daerah mereka bebas dari adanya pengaruh begu ganjang.

Proses ritual yang digelar mulai pukul 12.00 WIB ini, pihak panitia mengundang seorang paranormal berinisial Boru S dari Huta Embong, Simpang Sigodang, Kabupaten Simalungun.

Dalam prosesi mencari keberadaan begu ganjang, sang paranormal melepaskan seekor kambing putih yang didesain dengan benang benalu warna putih merah digantungkan di leher hewan tersebut. Sementara bagian badan kambing dibalut kain hitam dan diikat kain putih.

Selanjutnya kambing itu disembelih. Paranormal lalu bergerak berjalan mencari keberadaan begu ganjang itu, dan akhirnya berhenti di salah satu rumah yang sudah lama tak berpenghuni.

Kemudian paranormal itu mendapatkan sesuatu berupa boneka ukuran kecil dan memiliki rambut. “Ini lah dia alat yang digunakan untuk membunuh warga yang sudah tiada,” sebut paranormal disambut gembira para warga.

Sejumlah personil Polsek Tanah Jawa dikerahkan untuk melakukan pengamanan selama berlangsungnya ritual tersebut.

Namun proses ritual ini juga dikiritik warga lainnnya dan menilai sebuah kemunduran . “Kita ini mundur beribu langkah dari sudut keimanan . Ini karena kita gak percaya dan yakin pada Tuhan, melainkan paranormal,” sebut salah satu warga bermarga Gultom.