Siantar, hetanews.com - Eksekusi yang dilakukan Pengadilan Negeri (PN) Simalungun membuat puluhan warga kehilangan rumah di Perumahan Griya, Jalan Sangnaualuh Damanik Km 3,5, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, Rabu (27/4/2016).

Baca: (http://www.hetanews.com/article/51421/pn-simalungun-eksekusi-lahan-dan-bangunan-perumahan-griya).

Eksekusi diajukan ahli waris almarhum Maruhum Hutabarat, mengatasnamakan sebagai pemilik sah dari lokasi tanah yang menjadi lokasi rumah. Ini setelah keluarnya putusan Mahkamah Agung (MA).

Para warga yang kehilangan rumah ini yang tergabung dalam Komunitas Korban Perumahan Griya menyampaikan, bahwa mereka sudah membeli rumah tersebut dari PT Surya Cemerlang pada tahun 2003 lalu.

"Waktu itu PT Surya Cemerlang melakukan presentasi di Siantar Hotel, bahwa di area eks Pengalengan Nenas (Lokasi Perumahan Griya) akan didirikan perumahan baru. Presentasi berkali-kali mereka itu. Singkat cerita kami tertarik untuk membeli," ujar Dion, salah seorang warga kepada wartawan di Jalan Sibolga, Kota Siantar, Kamis (28/4/2016).

Dion menuturkan, PT Surya Cemerlang waktu itu dipimpin oleh Sumanto Wijaya warga Kota Medan bekerja sama dengan almarhum Maruhum Wijaya (pihak pengaju eksekusi rumah).

"Pokoknya kami benar-benar sangat yakin lah dulu sama kedua orang ini. Sewaktu kami ajukan kredit ke beberapa bank bank mengakui, makanya mau membeli," ujarnya,

Kata Dion, mereka saat itu banyak yang melakukan pembayaran dengan dicicil. Namun ada juga yang membayar dengan cara tunai. "Ada yang tunai dan dicicil. Namun saat ini sudah banyak yang lunas dan ada yang tinggal beberapa bulan lagi pembayarannya," ujar Dion.

Menurutnya, saat ini yang tergabung dalam Komunitas Korban Perumahan Griya ada 15 orang warga yang rumahnya dieksekusi dan kemungkinan bakalan bertambah lagi. “Kemungkinan akan lebih banyak lagi. Jadi kami berharap nanti teman-teman lainnya bisa datang ke alamat Jalan Sibolga No 32," sebutnya.

Kedepan kata Dion, mereka akan menempuh jalur hukum untuk mencari tau apa sebenarnya yang terjadi dibalik pengusuran rumah-rumah tersebut. "Kami akan mengajukan gugatan nanti, walaupun sudah ada teman-teman melaporkan ke polisi, dan pemilik PT Surya Cemerlang sudah Daftar Pencarian Orang (DPO)," ujarnya.

Dion mengatakan saat ini berharap uang untuk membayar rumah tersebut kiranya dikembalikan pada mereka. "Gak muluk-muluk mau kami, hanya mau uang dikembalikan. Kami mintalah kemurahan hati dari almarhum Maruhum Hutabarat tidak langsung melakukan pembangunan di lokasi, sehingga ada kejelasan hak kami," tuturnya.

Lanjut Dion harga rumah yang sudah mereka beli beraneka ragam dan tergantung sistem pembelianya. "Harganya berdarkan tipe rumahnya. Yang paling murah harganya Rp 60 - 300 jutaan," ujarnya.

Pembeli lainnya atas nama Erni Yusnita Siregar dan Toni Erikson Siregar menyampaikan, bahwa mereka membayarnya melalui Bank BII (sekarang Maybank) "Waktu itu kami membayarnya dengan cara ditransfer ke rekening atas nama Feni Leng, waktu itu menjabat sebagai Wakil Direktur kalau tidak salah," ujar Toni.

Erni juga menyampaikan, bahwa saat ini bukti pembayaran rumah masih mereka simpan. "Ada di rumah bukti pembayaranya. Dibuktinya ditulis pembayarannya sudah lunas," ucap Erni.