HETANEWS
CITIZEN JOURNALISM

Usai Didemo Umat Islam, Akhirnya Kapolres Tebingtinggi Minta Maaf

Kordinator aksi demo damai Muslim Istiqomah ketika berargumen dengan Kapolres Tebingtinggi, AKBP Slamet Loesiono

Tebingtinggi, hetanews.com -  Gabungan Aliansi Umat Islam Kota Tebingtinggi melakukan aksi damai dimulai dari depan Masjid Raya Nur Addin, berlanjut di kawasan Bundaran Air Mancur, Jalan Sutomo, Mapolres setempat Jalan Pahlawan dan DPRD, Senin (25/4/2016).

Aksi ini menuntut Kapolres Tebingtinggi AKBP Slamet Loesiono untuk minta maaf kepada ulama dan umat muslim di daerah itu. Ini terkait pernyataan Slamet yang dinilai melecehkan umat muslim.

Kordinator aksi, Muslim Istiqomah meminta Kapolres untuk langsung membuat pernyataan komitmen memberantas narkoba dan meminta maaf kepada ulama dan umat muslim Kota Tebingtinggi.

Muslim menyatakan, mendukung pemerintah, aparat penegak hukum, Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk serius memberantas narkoba di Tebingtinggi. Selanjutnya meminta Kapolres, BNN, TNI dan pemerintah untuk menindak tegas serta memecat aparat yang terlibat dengan narkoba dan membekingi narkoba.

“Kami meminta AKBP Slamet Loesiono minta maaf kepada umat Islam atas pernyataannya yang tidak beretika beberapa waktu lalu,” sebutnya.

Dalam aksi di depan Mapolres Tebingtingi, pendemo menuntut agar Kapolri dan Kapoldasu member sanksi pada Slamet Loesiono karena telah menghina umat muslim dan ulama di daerah itu. Aksi yang berlangsung damai mendapat pengawalan ketat dari ratusan personil Polres Tebingtinggi.

Akhirnya Slamet Loesiono menemui pendemo. Dalam adu argument antara Muslim Istiqomah dengan Kapolres karena telah menghina ulama dan umat islam Kota Tebingtinggi yaitu dengan mengatakan rumah suluk dipergunakan sebagai tempat menyabu.

Sedangkan rumah suluk di Tebingtinggi hanya dua yaitu di Kelurahan Tambangan dan di Jalan Bahbolon, bukan seperti dibilang Kapolres di Kampung Semut Kota Tebingtinggi. "Kapolres harus minta maaf kepada ulama dan umat Islam,"ujar Muslim.

Menanggapi pernyataan Muslim, akhirnya Slamet Loesiono meminta maaf atas kesalahannya telah menuduh rumah suluk sebagai rumah ibadah umat Islam tempat peredaran narkoba. "Saya minta maaf atas kesilapan ini. Semua atas ketidak tauan saya. Sekali lagi saya minta maaf,” ujar Slamet.

Usai mendengar pernyataan Kapolres, rombongan aksi pendemo terdiri dari mahasiswa, pemuda dan ormas islam Kota Tebingtinggi ini langsung membubarkan diri. Mereka melanjutkan aksinya di depan kantor DPRD Kota Tebingtinggi dan selanjutnya membubarkan diri secara tertib.

Penulis: ardiansyah. Editor: aan.