Lubukpakam, hetanews.com - Gembong narkoba internasional terpidana 12 tahun penjara, Tony, mendapat fasilitas karaoke dan ruang AC di Lapas Klas II B Lubukpakam. Ketika dipergoki petugas BNN dan kepolisian, Tony santai mengakuinya bahkan menyebutkan transaksi narkoba di Sumut dikendalikannya dari dalam Lapas.

Sepintas aman-aman kalau kita melihat situasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang terletak di Kelurahan Paluh Kemiri, persisnya di belakang stadion mini Polres Deliserdang, Jalan Sudirman Lubukpakam.

Namun di balik kokohnya tembok Lapas ini, terdapat rapuhnya mental para aparat yang bertugas menjaga ribuan narapidana. Ketegasan para petugas hanya berlaku pada narapidana yang tidak memiliki uang, dan mereka pun jadi bulan-bulanan petugas.

“Berbeda kali bang sama orang-orang yang punya uang di dalam penjara, bisa diaturnya semua petugas Lapas,” ungkap seorang mantan napi berinisial, IN, Minggu (17/4/2016).

Menurut mantan napi itu, bukan rahasia lagi kalau perilaku para napi dan petugas saling berhubungan. Napi yang berduit dapat keluar masuk Lapas sebelum masa tahanannya berakhir.

Begitu juga dengan penikmat narkoba di lingkungan narapidana.

“Malah mereka lebih nyaman mengisap sabu-sabu di dalam penjara ketimbang di luar,” lanjut IN mengingat perilaku buruk petugas Lapas yang juga ikut menikmati narkoba dari napi. Kejadian Lapas Klas II B Lubukpakam baru-baru ini adalah puncak persoalan yang sudah lama sejak 2006. Misalnya petugas Lapas memalak tarif ruangan biologis kepada narapidana, memberi fasilitas mewah dan penyelundupan narkoba ke dalam Lapas.

Puncaknya, tahun 2016, BNN (Badan Narkotika Nasional) menangkap narapidana bandar sabu internasional, Tony. Sebelumnya, BNN telah menangkap jaringan Tony yang berada di luar penjara. Dari pengedar itu terungkap Tony merupakan ‘pemain lama’ di Medan yang mengendalikan sabu dari Lapas.

Selain menangkap Tony, petugas menangkap 21 narapidana dan diamankan ke Polres Deliserdang yang hampir semuanya terlibat kejahatan narkoba. Vonis 12 tahun tak membuat Tony ciut hidup di penjara.

Malah, pria yang sudah menjalani separuh hukuman pokok ini hidup mewah. Bayangkan, sepak terjangnya dari bilik penjara leluasa membuka jaringan peredaran dari Malaysia, Jakarta, Sumut, dan Aceh. Sudah pasti dengan uang yang diperoleh dengan jalan haram itu pun mampu membungkam mulut para petugas Lapas Lubukpakam.

Kalapas Lubukpakam yang dicopot terkait kasus peredaran narkoba di lingkungan para napi, Setia Budi Irianto, pun berkilah ruangan karaoke tidak disediakan khusus untuk Tony, namun untuk pegawai yang ingin rileks. Begitu juga ruangan salon untuk mengembangkan bakat warga binaan wanita.

Peredaran narkoba, khususnya di Lapas Lubukpakam, sebenarnya sudah diketahui petugas. Seperti tahu sama tahu (TST), yang penting setoran cukup dan keinginan pihak Lapas bisa dipenuhi napi.

Setelah dicopot dari jabatannya, Setia Budi tidak tinggal diam. Dia mengatakan ada oknum yang acap kali datang ke Lapas diduga menemui Tony untuk meminta “upeti”. Katanya, oknum tersebut diduga berasal dari BNN atau Poldasu.

Sumber: Waspada Online