Simalungun, hetanews.com - Cagar Alam Dolok Tinggi Raja atau biasa disebut Kawah Biru berlokasi di Nagori Dolok Marawa Kecamatan Silou Kahean, Kabupaten Simalungun.

Meskipun bukan lokasi wisata, namun tempat itu sering dikunjung para pengunjung baik dari Kabupaten Simalungun maupun luar daerah seperti Medan, Kabupaten Deliserdang, Serdang Bedagai, Kota Tebingtinggi dan Siantar. Para pengunjung yang datang ingin menikmati suasana di Kawah Biru. Selain itu ada juga memanfatkan air belerang di lokasi itu untuk kesehatan kulit.

Namun akhir - akhir ini kondisi lokasi yang berada di kawasan hutan itu kotor akibat banyaknya sampah berserakan dibuang para pengunjung. Kondisi ini mengundang keprihatinan dari Forum Peduli Cagar Budaya dan Pariwisata Simalungun (Forcabups) dan Patunggung Simalungun.

Bertempat di lokasi Dolok Tinggi Raja, Forcabups dan Patunggung Simalungun bersama warga setempat melakukan kerja bhakti mengumpulkan sampah, Minggu (10/4/2016). Puluhan plastik sampah berukuran besar disediakan untuk menyisir sampah berserakan di lokasi yang berada dibawah pengawasan Kementrian Kehutanan (Kemenhut) Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan luas 167 hektar.

Ketua Forcabups Jordi Purba, pihaknya sengaja datang ke lokasi ini karena melihat banyaknya sampah berserakan di lokasi tersebut dan sebagai bentuk kepedulian pihaknya bersama warga melakukan ketja bhakti memungut sampah.

"Kita ingin memberikan pembelajaran pada semua pihak dan pengunjung untuk menjaga kebersihan di lokasi ini. Aksi ini juga sebagai bentuk dukungan agar lokasi itu dijadikan objek wisata," paparnya.

Aksi kerja bakti pengumpulan sampah yang berserakan di lokasi Dolok Tinggi Raja atau Kawah Biru. (foto: Jansen Siahaan)

Jordi menuturkan, potensi wisata di Dolok Tinggi Raja cukup berpotensi dan lebih bagus dibandingkan di daerah lainnya. Menurutnya, jika diperbandingankan dengan lokasi yanh sama di Turki, maka dapat disejajarkan dengan Dolok Tinggi Raja.

"Namun karena ini cagar alam, maka tak diperbolehkan ada kegiatan wisata. Informasinya minggu depan ada tim dari Kementrian datang kemari melakukan evaluasi. Aksi ini juga sebagai bentuk dukungan pada mereka (tim Kementrian) agar lokasi itu dijadikan objek wisata," sebutnya.

Sayangnya dibalik potensi wisata Dolok Tinggi Raja terbentur dengan sarana intrastruktur jalan yang kondisinya rusak parah. Jordi menuturkan, jalur transportasi begitu memprihatinkan baik dari arah Tebingtinggi dan Raya (Simalungun) menuju ke Dolok Tinggi Raja.

"Kita juga berharap pemerintah daerah (pemda) ikut serta membantu perbaikan jalan. Karena keberadaan lokasi itu jika nantinya dijadikan objek wisata  akan mengguntungkan pemda, termasuk masyarakat sekitar," paparnya.

Salah seorang pengunjung asal Medan, Oki Prima mengaku, baru pertama kali mengunjungi Dolok Tinggi Raja. Menurutnya, lokasi ini memiliki keunikan dan satu - satunya di Sumatera Utara.

Sementara itu tokoh masyarakat Kecamatan Silou Kahean, Zulfikar Purba menyambut baik adanya rencana agar Dolok Tinggi Raja diusulkan sebagai lokasi wisata. Menurutnya, ini akan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Pemkab Simalungun dan peningkatan kesejahteraan terhadap masyarakat sekitar.

“Ini juga akan mempromosikan daerah Kecamatan Silou Kahean dan kita mendukung rencana dijadikan menjadi lokasi wisata,” sebut mantan Pangulu Nagori Dolok ini.

Diketahui jarak tempuh ke lokasi baik dari arah Tebingtinggi dan Raya berkisar antara 2 - 2,5 jam. Ini akibat kondisi jalan yang rusak parah, ditambah adanya bahaya longsor menuju Dolok Tinggi Raja.

Sesampainya di lokasi, para pengunjung berjalan kaki menuju lokasi selama 5 - 8 menit. Tiba di lokasi akan tampak sebuah kolam belerang berwarna biru. Namun diingatkan bagi para pengujung untuk bersikap sopan dan tak berbicara kasar. Pasalnya lokasi Kawah Biru itu masih dikenal sakral.