HETANEWS.COM

Berkata Kasar, Mantan Kapolres Simalungun Digugat

Suasana persidangan di PN Simalungun (foto : Bismar Siahaan)

Simalungun, hetanews.com - Ucapan kata kasar dari mantan Kapolres Simalungun, AKBP Heri Suleswono, serta pemukulan terhadap beberapa warga yang tinggal di sekitaran PTPN III Kebun Bandar Betsy, Kecamatan Bandar Huluan, berbuntut panjang.

Ini terbukti dengan digelar persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun (21/3/2016) beragendakan pemanggilan saksi dari pihak Kepolisian.

“Putusan PN Simalungun adalah putusan, an***, bab*, mony** dan abal - abalnya itu,” ungkap penasehat hukum tergugat, Abdul Malik Silalahi, Ali Husan Husen, menirukan ungkapan mantan Kapolres Simalungun pada saat kejadian tanggal 16 Juni 2015 lalu.

Selain itu, Abdul Malik juga menggugat Polres Simalungun sampai ke Komisi Nasional Perlindungan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM), dengan gugatan atas pemukulan dilakukan pihak Polsek Perdagangan.

Sidang yang berlangsung memanggil saksi dari tergugat yaitu Hendrawan ( Kabag OPS Simalungun), Alwan ( Kasi Propam Simalungun) dan Ipran Saragih (Kepala Patroli Dialogis PTPN III).

Di hadapan majelis hakim dipimpin Novarino Manurung, didampingi hakim anggota Douglas RP Napitupulu dan Romauli H Purba, ketiga saksi memberi keterangan yang tidak jauh berbeda.

Para saksi kebanyakan mengungkapkan tidak mengetahui adanya perkataan Heri Suleswono itu. “Para warga yang melakukan protes itu sudah dijanjikan 4 rante tanah dan uang Rp 50.000. Kami menganggap laporan yang dilakukan pemohon itu kebanyakan fitnah dan tidak ada kebenaran nya,” ungkap saksi kepada majelis hakim.

Kasus ini, bermula ketika Abdul Malik melakukan eksekusi tanah yang diduga digarap pihak PTPN III. Karena sebelumnya Abdul Malik sudah memenangkan kasus ini dengan No 45/BA/EKS/2011/PN Simalungun ( No 11/PEN PDT/ EKS/2012/PN Simalungun tanggal 02 agustus2012).

Namun dalam melakukan eksekusi para petani ini mendapat perlawanan dari securty (satpam) PTPN III serta pihak Kepolisian yang melakukan pengawalan terhadap PTPN III. Ini membuat beberapa warga mengalami luka di kepala. Akibat itu, warga juga melakukan pengerusakan jembatan di PTPN III,dan 1 unit sepeda motor yang diduga milik karyawan perkebunan.

Selama persidangan, penasehat hukum pemohon mendapat teguran dari majelis hakim, serta mendapat bentakan dari saksi Alwan. “Suara bapak jangan terlalu kuat - kuat lah kalau menanyakan pada saya.” imbuh nya sambil kembali duduk ke bangku saksi.

Usai persidangan, Alwan kepada hetanews menerangkan, jika suatu hal yang tidak mungkin yang dikatakan mantan Kapolres Simalungun seperti itu. Dia mengatakan, bahwa laporan itu sebuah fitnah. “Karena tidak mungkin pejabat negara menghina lembaga negara juga kan," ungkap Alwan.

Sidang ini akan dilanjut kembali pada Senin (28/3/2016) dengan mendengarkan keterangan saksi - saksi dari PTPN III sebagai pihak tergugat.

Penulis: res. Editor: aan.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan