Catatan David Simamora

hetanews.com - Sebelum menginjakkan kaki di tanah Minahasa, saya hanya nikmati lewat acara televisi dan media sosial, belum banyak tahu tentang daerah ini. Namun berbagai macam informasi tentang gambaran Minahasa telah santer di telinga ditambah lagi Nyiur melambai di sepanjang pesisir Manado menuju Minahasa, seolah memanggil “Mari Jo Torang ke Minahasa, Mari Jo Torang ke Manado” sehingga tak lengkap rasanya tanpa mengalami sendiri kehidupan di daerah ini. 

Istilah Minahasa sendiri awalnya tidak menunjuk sebagai suatu wilayah administrasi atau pun penduduk (etnik) yang mendiami ujung utara pulau Sulawesi, tetapi kepada suatu lembaga atau dewan berkumpulnya para ukung atau kepala suku yang disebut Minhasa of landraad (Molsbergen, 1928: 137).

Minahasa yang dimaksud di sini adalah orang Minahasa yang mendiami tiga daerah pemerintahan sekarang, yakni daerah pemerintahan sekarang, yakni daerah Kabupaten Minahasa Induk, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, Kota Madya Manado, Kota Bitung, dan Kota Tomohon . Atas dasar geografis dan perbedaan bahasa/dialek, Minahasa mengenal beberapa suku, yakni: Toumbulu, Tounsea, Toulour, Toutemboan, Bantik, Passan, Ponosakan, Tounsawang.

Tetapi bagi masyarakat luar, kata “Manado” menjadi semacam sebutan umum untuk menggambarkan Minahasa, sama halnya jika Sumatera Utara selalu di indentikkan dengan sebutan Medan, Padahal Medan itu hanya salah satu daerah di Sumatera Utara.

Berbicara Manado banyak gambaran yang terdengar ketika menyebutkan nama daerah ini. Ada yang bilang kota ini dipenuhi oleh perempuan cantik darah minahasa, Ada pula yang bilang di Manado tak lengkap rasanya kalau belum merasakan indahnya alam bawah laut Bunaken. Dan mungkin masih banyak lagi yang akan muncul ketika menyebutkan kota Manado.

Menurut cerita, ibu kota propinsi Sulawesi Utara secara umum selalu dikenal dengan istilah 3B dan jangan bilang ke Manado kalau tidak melihat 3B, begitulah kira- kira ungkapan yang sering terdengar di telinga para pendatang yang berkunjung ke daerah ini. Lantas apa itu 3B, ternyata 3B itu Bunaken, Bubur dan Bibir.

Bunaken adalah  salah satu pulau kecil, dikenal sebagai  diving spot yang digilai oleh para penyelam karena pemandangan taman lautnya yang indah, dan merupakan Pioneer dalam memperkenalkan Sulawesi Utara sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi turis lokal maupun internasional.

Lalu, Bubur Manado atau dikenal dengan Tinutuan adalah makanan sehat-organic yang merupakan campuran berbagai jenis sayuran, biasanya dimakan dengan sambal khas Manado. Tidak lengkap kunjungan ke Manado tanpa menyempatkan diri mencicipi bubur Manado.

Sedangkan Bibir dalam hal ini melambangkan wanita Manado yang pada umumnya terbilang memiliki paras wajah dan postur tubuh yang cantik. Maklum, letaknya yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasific memungkinan terjadinya perkawinan silang berbagai yang membuahkan warga Sulawesi Utara saat ini.

Konon, penduduk asli Manado berasal dari ras Mongolia yang kemudian kawin-mawin dengan bangsa Jepang dan Portugis.

Berbicara Perempuan asal Sulawesi Utara sudah terkenal seantero Nusantara. Surga gadis cantik di Sulut itu adalah asli Minahasa, Tomohon, Tondano, dan beberapa daerah lainnya.

Hampir semua pendatang yang pernah menginjak daerah ini, pasti akan terkesan dengan kecantikan gadis-gadisnya, dimana “Kecantikan perempuan itu laksanan rembulan yang sedang tampak, mengalahkan kecantikan seluruh makhluk”.

Disini perempuan seksi bukan sesuatu yang langka. Kaos dan baju ketat di tubuh putih dan ramping jadi sesuatu yang biasa. menurut saya, Perempuan itu itu memang tampil menarik dan benar-benar peduli penampilan.

Memang, secara fisik rata-rata perempuan Manado dianugerahi tubuh dan paras menarik. Karenanya, mereka pun umumnya amat perhatian terhadap segala hal berkisar perawatan tubuh. Ini suatu hal yang wajar mengingat di Manado, banyak warganya yang merupakan campuran dari suku orisinil (Minahasa) dengan pendatang dari Eropa (Spanyol dan Portugis).

Sebagaimana lazimnya keturunan hasil percampuran kedua ras yang terpaut jauh secara genetik, biasanya menghasilkan keturunan yang latif secara ragawi. contoh, artis-artis jelita seperti Julie Estelle, Angel Lelga, Angelina Sondakh, dan Alice Norin yang merupakan perempuan asal Minahasa. Kecantikan mereka begitu memukau.

Namun dibalik kecantikan perempuan Minahasa laksana artis. Banyak tudingan dan gambaran negatif sebab rata-rata mereka hanya menonjolkan fisik dan penampilan sikap perempuan Minahasa nan hedonis, getol berpesta atau berglamor ria, sehingga Lebih baik kalah nasi dari pada kalah aksi, biar so nda makan yang penting tas gendong ganti terus, kira- kira begitulah ungkapan yang sering terdengar ditelinga.

Terlintas dalam benak saya, apakah kesan itu memang benar adanya, Apakah sejarah perjalanan kaum Perempuan Minahasa hanya di identikkan dengan hal kesenangan semata tanpa prestasi, dalam perjalanan menyusuri tanah Minahasa Kesan yang saya dapat saat tiba di Manado, Tomohon, Tondano, Langowan, Bitung adalah rasa persaudaraan, terbuka dengan pendatang, kebersamaan, aktifitas rohani dan kerukunanan umat.

Orang Minahasa dikenal sebagai sahabat yang sangat menyenangkan. ramah, terbuka, murah senyum dan suka bergurau. Perempuannya ramah bersahaja menyapa sehingga mencari teman dan cepat akrab di Minahasa ternyata bukan hal yang sulit.

Hal ini seirama dengan pernyataan Dr RAD Siwu, sosiolog dari Universitas Kristen Tomohon yang menggambarkan Perempuan Minahasa itu penuh inisiatif, mudah diajak bicara, murah senyum, tampil anggun dan penuh wibawa.

Justru inilah kecantikan dan keindahan wanita Minahasa, yakni keterbukaannya, senyumnya yang murah, serta suka berdebat, dan tidak mau diremehkan. Jadi, kecantikannya utuh, tidak sekadar atau wajahnya yang manis. (http://regional.kompas.com/read/2012/05/04/11184075/Inilah.Pesona.Wanita.Minahasa)

Sesuatu yang membuat saya tertarik menelisik tentang perempuan Minahasa adalah karakter perempuan Minahasa yang dikenal sebagai sosok yang setia.

Dari perbincangan dengan beberapa masyarakat Minahasa mereka selalu memuja kesetiaan Perempuan Minahasa, sembari sedikit berkelakar (bercanda) yang dalam bahasa setempat “Bakusedu”  cari cewek minahasa jo noh vid  so gaga setia lagi begitulah kira- kira kalimatnya.

Tentang kesetiaan wanita Minahasa, Geraldine Y.J. Manoppo Watupongoh mengungkapkan hasil penelitiannya dalam Jurnal Antropologi Usrat yang berjudul Wanita Minahasa berupa wawancara dengan sejumlah pria non-Minahasa.

Disebutkan, 95 persen responden mengakui wanita Minahasa itu setia sebagai istri dan ibu, 5 persen tidak berpengalaman dan ragu. Seratus persen mengakui wanita Minahasa terbuka menerima dan memberikan pendapat.

Kemudian, 75 persen mengakui kecantikan wanita Minahasa terletak dalam keseluruhan penampilannya, sedangkan 25 persen karena segi-segi tertentu. 50 persen mengakui wanita Minahasa suka bekerja, tetapi tuntas tidaknya suatu pekerjaan sangat tergantung pada suka-tidaknya ia pada jenis pekerjaan itu.

Juga dikemukakan, 50 persen responden berpendapat bahwa wanita Minahasa bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan, dan 100 persen suami yang beristri Minahasa mengakui bahwa istrinya menuntut agar dirinya diperhatikan suami, bukan dengan kata, tetapi dengan tindakan.

Dalam tradisi dan budaya Minahasa, perempuan menempati kelas sosial nan tinggi. Mereka tidak hanya punya gambaran positif, namun juga diagungkan. Bahkan, diceritakan secara turun-temurun bahwa kaum perempuanlah yang menjadi ‘nenek moyang’ atau cikal bakal lahirnya masyarakat Minahasa.

Berbagai cerita rakyat nan ada menggambarkan perempuan Minahasa atau Manado sebagai simbol-simbol kebaikan dan kemuliaan. Gambaran perempuan Minahasa yang cantik, dipadukan dengan gambaran positif lainnya, yaitu kuat fisik dan andal mentalnya.

Meskipun ada keragaman bahasa dan budaya, diyakini bahwa pada intinya Minahasa memiliki asal yang sama, secara fisik terwujud dalam figur ’ibu’ Lumimuut. Asal usul Tou Minahasa dalam perspektif mitologis sangatlah feminis. salah satu cerita rakyat hingga kini masih akrab pada sebagian tua-tua Minahasa, ialah cerita mengenai Lumimuut dan krema, Lumimuut adalah Dewi Bumi yang memberikan kesuburan pada tanah Minahasa dan keturunan.

Dua orang perempuan Manado ini dianggap sebagai perempuan kudus (dewi-dewi) dan diyakini sebagai nenek moyang mereka.

Cerita-cerita rakyat yang lainnya pun menceritakan perempuan Minahasa dalam penggambaran positif. Seperti cerita tentang seorang gadis bernama Pandagian. Perempuan Minahasa ini dikisahkan masuk surga sebab kejujuran dan kehalusan budi pekerti.

Atau kisah mengenai perempuan yang cerdik pandai dan setia kepada suaminya, yaitu Pingkan Mogogunoi. Nama Pingkan untuk seorang perempuan Minahasa adalah simbol kekuatan, keberanian, dan kesetiaan

Dari cerita-cerita rakyat Minahasa tersebut, dapat kita temukan nilai tentang image positif terhadap kaum peremupuan Manado. Hal ini menyebabkan masyarakat Manado termasuk kelompok masyarakat yang egaliter terhadap peran sosial (gender) antara laki-laki dan perempuan.

Kelas sosial perempuan Minahasa tidak pernah di bawah kaum laki-lakinya. Contohnya, sejak dahulu orang Minahasa tidak mempermasalahkan apakah memperoleh anak laki-laki atau perempuan.

Perempuan Minahasa ternyata telah lebih dulu berkembang dibanding daerah lain di Indonesia, sebab di bumi Minahasa pada tahun 1881 telah berdiri Sekolah Khusus Perempuan Meisjesschool di Tomohon atau lebih dikenal dengan Sekolah Nona Manado atau Prot. Meisjesschool Tomohon. Jauh sebelum gerakan emansipasi perempuan oleh RA.

Kartini yang lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879, perempuan di Manado dan Minahasa sudah mendapatkan kesempatan bersekolah secara bebas. Tidakkah itu luar biasa? Tidak heran kalau beberapa nama perempuan Sulawesi Utara telah menjadi orang berprestasi di ranah Nasional.

Pada tahun 1920 Perempuan di Minahasa juga telah memiliki hak suara dalam pemilihan anggota-anggota Minahasa Raad. sebuah badan perwakilan dibentuk di Minahasa (semacam majelis local).padahal saat itu, dibanyak wilayah kaum perempuan masih tertinggal. Jangankan memiliki hak suara, bersekolah saja mereka ditabukan.

Kemajuan kaum perempuan Minahasa ini menjadi materi yang disampaikan oleh nona Stientje Adam sebagai perwakilan dari Minahasa dalam Kongres Pemuda Indonesia I tahun 1926 di Batavia (Ayu Hermawan,___: 17)

Dalam sejarah bangsa Minahasa, kaum perempuannya memiliki prestasi yang tidak bisa diabaikan. Beberapa kali wanita-wanitanya menjadi tonggak suatu sejarah. Pada masa legenda dahulu ada sejumlah wanitanya yang menjadi pahlawan seperti Lumimuut dan Karema sendiri, Pingkan Tiwow dari Buyungon, Pingkan Mogogunoi dari Tanawangko, Ratu Oki dari Tombatu, Woki Konda dari Pasan-Ratahan, dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya perempuan Minahasa mencatatat prestasi gemilang, Mereka adalah Wilhelmina Warokka (Mien) – seorang guru wanita pertama di Meisjesschool Tomohon, Ny. Maria Y. Walanda-Maramis – seorang pemerhati status sosial kaum wanita Minahasa, Wulankajes Rachel Wilhelmina Ratulangi (kakak Dr. Sam Ratulangi dan istri Mayoor A.H.D. Supit) – wanita Indonesia pertama yang merebut ijasah K.E. (Kleinambtenaar) tahun 1898.

Wulan Ratulangi (kakak kedua Dr. Sam Ratulangi) – wanita Indonesia pertama yang berhasil memperoleh ijasah Hulpacte tahun 1912, Nona Marie Doodoh – orang Indonesia pertama yang lulus Europeesche Hoofdacte, Stientje Ticoalu-Adam – pembicara dalam Kongres Pemuda Indonesia tahun 1926 dan 1928, Johana Masdani-Tumbuan – pembaca teks Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda tahun 1928, Ny. S.K. Pandean – singa betina dari Minahasa.

Dr. Marie Thomas – dokter wanita pertama Indonesia lulusan STOVIA tahun 1922, Dr. Anna Warouw – dokter wanita ketiga Indonesia lulusan STOVIA tahun 1924, Dr. Dee M.A. Weydemuller – dokter wanita kedua Indonesia lulusan NIAS Surabaya 1924, Prof. Dr. Annie Abbas-Manoppo – sarjana hukum wanita pertama Indonesia lulusan HKS Batavia tahun 1934 juga guru besar wanita pertama Indonesia, Ny. A. M. Tine Waworoentoe (anak A.L. Waworuntu) – walikota wanita pertama Indonesia tahun 1950, Antonetee Waroh – anggota parelemen wanita pertama di Indonesia Timur, Dr. Agustina/Zus Ratulangi (anak Dr. Sam Ratulangi) – anggota parlemen wanita & termuda di Indonesia, Pdt. Tine Lumentut – dianggap sebagai wanita pertama di dunia yang memgang jabatan setingkat Uskup Agung dalam kapasitasnya sebagai Ketua Sinode GKST (setingkat Uskup Agung).

Selain itu kita mengenal Marianne Katoppo, STh, sastrawan wanita Indonesia, Vonny Anneke Panambunan – wanita yang menjadi Bupati Minahasa Utara sejak tahun 2005, Linneke Sjenny Watoelangkow – wanita yang menjadi Wakil Walikota Tomohon sejak tahun 2005. Mona Claudia Kloer Anggota DPRD Kota Manado, Brigjen Pol (Purn) Jeanne Mandagi sebagai Jenderal pertama perempuan Indonesia, Angelina Patricia Pingkan Sondakh Putri Indonesia 2001 dan Kezia Roslin Cikita Warouw Putri Indonesia 2016 dan mungkin masih banyak deretan prestasi lain yang menggambarkan perempuan Minahasa.

Kehebatan perempuan Minahasa tidak lepas dari kultur budaya Minahasa yang mempunyai keistimewaan tersendiri. Perempuan Minahasa baik sebagai anak kecil, gadis ataupun perempuan dewasa dapat bergaul di dalam maupun di luar rumah.

Juga di sawah, kebun atau pun di pesta-pesta. Tidak itu saja, dalam perkawinan, perempuan Minahasa mempunyai peran sederajat dengan kaum pria. Ini bisa dilihat dari sapaan perempuan sebagai tetendean (tempat bersandar), kasende (teman makan) siesa (belahan sebelah, teman hidup). Bahkan di era moderen sekarang ini, perempuan juga bisa berperan ganda dalam menafkahi keluarga.

Selain tugas- tugas sesuai kodratnya, wanita Minahasa bekerja sama dengan pria diberbagai tugas seperti di kebun, dalam membuat pakaian dari kulit kayu dan menumbuk padi (Padtbrugge, 1679). Itulah Hebatnya Perempuan Minahasa, begitu pekerja keras, Mau membantu suami dalam memenuhi kebutuhan Keluarga yang fungsinya untuk bersama-sama.

Dalam segala aspek kehidupan masyarakat Minahasa keberadaan Perempuan selalu sejajar dengan laki- laki baik dalam hal mengkonsumsi makanan sebagai sesuatu yang bersifat gender, karena mereka meyakini peran yang sama sesuai dengan kodrad kemanusiaannya. dalam kenyataannya, pengkonsumsian makanan dilakukan tanpa mempertimbangkan batas-batas gender.

Perempuan, seperti halnya laki-laki, dapat menikmati hidangan ’laki-laki’, dan juga laki-laki dapat menikmati makanan ’perempuan’ tanpa ragu. Praktik konsumsi yang fleksibel ini sesuai dengan gambaran serta peran tentang kedua gender yang diharapkan Minahasa, yaitu tumpang tindih dan tidak bertolak-belakang satu sama lain (Gabriele Weichart, 2004:75).

Peranan perempuan Minahasa dalam berbagai bidang juga perlu diakui. Salah satu organisas gereja yang terbesar di Minahasa memiliki pelayannya yang terbanyak adalah kaum wanita. Pada tahun 2005 GMIM memiliki 818 gereja (majelis jemaat lokal) yang dibagi kedalam 85 wilayah pelayanan dengan kurang lebih 1 juta anggota jemaat yang dilayani oleh 950 pendeta, 65% diantaranya adalah pendeta perempuan (http://www.sabdaspace.org/gmim_gereja_dengan_mayoritas_pendeta_perempuan).

Ternyata banyak prestasi serta kepahlawanan perempuan Minahasa, yang dalam perjalanan sejarahnya perempuan Minahasa mengambil peran aktif dalam setiap tatanan hidup berbangsa dan bernegara, menjadi tokoh sentral dalam memainkan instrument penting untuk kemajuan negeri ini. Namun semua itu lenyap oleh cerita-cerita miring yang menilai tentang perempuan Minahasa dari kulit luarnya saja.

Diera perkembangan ini Perempuan Minahasa mememiliki tantangan tersendiri, Perempuan-perempuan dari Minahasa menjadi sasaran primer buat diperdagangkan. Mereka diperjualbelikan ke daerah lain seperti Papua, Kalimantan, Bali, Jawa, dan Sumatera. Bahkan, ada juga nan sampai ke luar negeri, seperti Malaysia, Hongkong, dan negara-negara di Timur Tengah.

Modus operandinya mereka awalnya diiming-imingi pekerjaan layak sebagai penjaga toko atau pekerja pabrik. Namun, kenyataannya mereka diperkerjakan secara paksa di lokasi-lokasi hiburan malam atau lokalisasi.

Tercatat selama 2010 hingga 2014, telah terjadi 69 korban TPPO yang dilaporkan kebanyakan korban direkrut pelaku melalui penawaran lapangan pekerjaan dengan tujuan eksploitasi seksual, pornografi, penjualan anak dan kerja paksa baik dalam maupun luar negeri. Ini berdasarkan Data Tindak Pidana Perdangan Orang (TPPO) Polda Sulut (http://manadopostonline.com/read/2015/06/17/Awas-Trafficking-Sulut-Tembus-69-Kasus/9725, diakses 22/2/2016).

Praktek Trafiking mendapat tanggapan dari Prof. G. Manopo watupongo (Ketua Program Study Linguistik Pasca Sarjana Unsrat) mengenai perempuan Minahasa yang kerap mengalami Trafiking,bahwa orang Minahasa sangat menghargai Perempuan.

Ada orang ketiga yang memanfaatkan kecantikan dan keluwesan perempuan Minahasa untuk mencari keuntungan dan ini kejahatan. Harus diakui bahwa kecantikan, keluwesan dapat menjadi berkat dan bencana.

Senada dengan Drs. Parengkuan (Dosen Sejarah Fakultas satra Unsrat) memanfaatkan perempuan untuk tujuan jahat bukan budaya Minahasa. (LM. Gandhi Lapian, 2006: 159). Keberadaan Perempuan Minahasa harus dimuliakan, karena secara cultural masyarakat Minahasa juga tidak mengenal pelecehan terhadap harkat dan martabat perempuan, sehingga makna dari Kata ”perempuan” yang berasal dari puan, yang berarti mulia, yang harus dihormati akan tetap luhur dalam kehidupan.

Dipenghujung tulisan ini dapatlah kita memahami bahwa perempuan Minahasa bukanlah insan yang selalu berusaha terlihat sempurna dengan sibuk berdandan atau melakukan berbagai macam cara untuk membuat penampilan fisiknya menarik.

Kecantikan perempuan Minahasa bukanlah selalu wajah yang rupawan, kulit yang putih mulus, tubuh proporsional dan penampilan yang seksi. Namun kecantikan batin yang terpancar dari hati, pikiran, perkataan, dan tingkah laku. tutur katanya yang sopan, perbuatannya yang selalu menebarkan kebaikan serta punya semangat untuk mengejar mimpi dan cita-citanya.

Perempuan Minahasa sama halnya dengan perempuan- perempuan lainnya di Indonesia yang memiliki peranan penting dalam kehidupan, meski tidak jarang mereka berada pada posisi genting. Perempuan Minahasa menempatkan posisinya tidak untuk didepan, tidak untuk dibelakang tapi untuk menjadi mitra sejajar suaminya.

Sebagai ibu, isteri dan sebagai seorang yang bekerja. Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan formal tidak membebaskan dirinya daripada tanggung jawab terhadap keluarga. Betapa tinggi pun pangkatnya, pendidikannya atau pendapatannya, perempuan tetap perlu menjalankan tugas domestiknya, yaitu berperanan sebagai isteri kepada suaminya dan ibu kepada anak-anaknya maupun di dalam lingkungan sosialnya.

Hal ini perempuan memegang banyak peranan sekaligus. Ia perlu pandai mengimbangi peranan dengan bijak dan berkualitas.