Oleh. David Simamora*

Keberadaan bangunan sejarah, situs atau monumen merupakan potensi terhadap  pengembangan heritage tourism atau wisata warisan budaya sebagai alternatif pengembangan pariwisata di perkotaan. sejarah panjang telah melahirkan kota Siantar sebagai daerah yang memiliki (warisan budaya) yang sangat kaya, baik cultural heritage, yang bersifat kasat mata (tangible) maupun tidak kasat mata (intangible). Hal ini dapat dilihat dari peninggalan bangunan-bangunan tua berupa kantor pemerintahan, bank, sekolah, hotel, kawasan pertokoan, rumah, tempat ibadah, museum, jalur kereta api, kendaraan dan peninggalan budaya, bahasa, karya seni,dll membuat kota ini semakin kompleks dengan keberadaan warisan budayanya.

Namun potensi itu belumlah menjadi perhatian pemerintah daerah Siantar, warisan budaya berbentuk benda sampai sekarang belumlah dilakukan pendaftaran menjadi benda cagar budaya, seharusnya pemerintah kota Siantar melakukan Pendataan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan satuan ruang geografi dengan cara pencatatan, penggambaran, pemetaan, dan pemotretan; Pengkajian cagar budaya untuk identifikasi dan klasifikasi terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, dan satuan ruang geografis yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai cagar budaya Kotamadya; Penginventarisasian cagar budaya; dan Penyusunan pangkalan data (data base) cagar budaya Kotamadya.

Penetapan cagar budaya dilakukan melalui kegiatan yang berupa; Penilaian dan pengakajian ulang (verifikasi) terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, dan satuan ruang geografis yang sudah terdaftar dalam data base cagar budaya; Pengusulan rancangan Surat Keputusan Walikota tentang Penetapan Cagar Budaya; Penerbitan Surat Keputusan tentang Penetapan Cagar Budaya.

Pendaftaran; penetapan; pengamanan dan penyelamatan serta pengelolaan seringkali tidak mendapat perhatian dalam pelestarian dan pengembangan. Akibatnya, kekayaan warisan budaya masyarakat pun kian memudar, kian jauh dari konteks kehidupan riil, dan akhirnya terbengkalai.

Padahal pendaftaran dan perlindungan seta pelestarian terhadap cagar budaya itu penting, sebab telah diatur melalui Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar  Budaya. bahwa benda cagar budaya adalah  benda  alam  dan/atau  benda  buatan  manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang  memiliki  hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Lebih lanjut dijelaskan dalam pasal 88 ayat 1 bahwa  Pemerintah,  Pemerintah Daerah, dan setiap orang dapat memanfaatkan cagar budaya  untuk  kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pariwisata.

Sehingga pemerintah kota Siantar boleh mengangkat karateristik budaya  daerah sebagai daya tarik wisata dan memanfaatkan potensi ini untuk kepentingan pariwisata ditengah tren wisata heritage tourism atau cultural heritage tourism yang akhir - akhir ini digandrungi dan banyak menarik minat wisatawan. sebab heritage, atau warisan berupa berbagai peninggalan dalam segala bentuk, bukan hanya sebagai sebuah identitas kota Siantar tapi juga bernilai ekonomi serta memberi dampak sosial.

Setiap kota memiliki cerita tersendiri tentang sejarah yang melekat padanya, melalui bangunan tua, kantor pemerintahan, jalur kereta api, jembatan, seni patung, arsitektur, kerajinan tangan, pertujukan seni, peninggalan keagamaan, kuliner, cerita rakyat, tradisi dan lainnya masih mengguratkan perjalanan panjang sebuah kawasan atau kota. Jika dapat dikelola baik dan terpelihara dengan apik maka goresan yang menghiasi wajah renta kota tua menjadi begitu mempesona dan merangsang wisatawan untuk datang, tak sekadar menjenguk si tua nan jelita dan mengenang keberadaannya, tapi juga mencoba memahami seberkas perjalanan dan nilai dari makna dibalik peristiwa dalam perjalanan waktu.

Dewasa ini benda cagar budaya banyak dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata oleh karena meningkatnya kebutuhan akan kegiatan pariwisata budaya. Pada kenyataannya  pariwisata telah berkembang menjadi sebuah mega bisnis. Jutaan orang mengeluarkan triliunan dollar Amerika, meninggalkan rumah dan pekerjaan untuk memuaskan atau membahagiakan diri (pleasure)dan untuk menghabiskan waktu luang (leisure) begitu juga wisata heritage sebagai kegiatan perjalanan minat khusus untuk menikmati dan mempelajari sejarah melalui berbagai peninggalan yang terdapat dalam suatu daerah tertentu.

Wisata Heritage sangat berkaitan erat dengan pengelolaan pusaka (heritage) sebagai warisan kebudayaan masa lalu atau peninggalan alam. Sehingga cukup jelas bahwa  tantangan dalam pengembangan bangunan bersejarah dalam industri pariwisata tidaklah mudah. Diperlukan kajian terlebih dahulu sehingga pemanfaatan yang telah dilakukan sebagai daya tarik wisata dengan alasan mensejahterakan masyarakat tidak mengesampingkan langkah-langkah pelestarian yang seharusnya diutamakan dalam proses pemanfaatan bangunan-bangunan bersejarah di kota Siantar sebagai daya tarik wisata.

Pematangsiantar sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan heritage culture tourism dimana Kriteria daerah tujuan wisata diatur dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.37/UM.001/MKP/07 tentang Kriteria dan Penetapan Destinasi Pariwisata Unggulan. Kriteria destinasi wisata unggulan tersebut adalah (a) ketersediaan sumber daya dan daya tarik wisata; (b) fasilitas pariwisata dan fasilitas umum; (c) aksesibilitas; (d) kesiapan dan keterlibatan masyarakat; (e) potensi pasar; dan (f) posisi strategis pariwisata dalam pembangunan daerah. Enam hal inilah yang telah dimiliki dan perlu digali lagi untuk mengangkat Pematangsiantar menjadi daerah tujuan wisata Heritage culture. Pada akhirnya, Siantar akan dipetakan menjadi destinasi  wisata  Heritage culture dalam profil pariwisata nasional.

Objek Wisata Heritage Potensial di Siantar

Kota Pematangsiantar adalah salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara, dan kota terbesar kedua di provinsi tersebut setelah Medan. Karena letak Siantar yang strategis, ia dilintasi oleh Jalan Raya Lintas Sumatera.  Kota ini memiliki luas wilayah 79,97 km2 dan berpenduduk sebanyak 240.787 jiwa (2010). Kota Siantar yang hanya berjarak 128 km dari Medan dan 52 km dari Parapat sering menjadi kota perlintasan bagi wisatawan yang hendak ke Danau Toba.

Di Siantar berserakan tempat yang sangat potensial dijadikan daerah tujuan wisata sejarah, kota ini juga menarik karena kota tua ini memiliki kompleksitas dan keragaman suku, Toba, Jawa, Simalungun, Mandailing, Karo, Tionghoa, Minang, dan ragam suku lainnya.

Berjalan-jalan di kota Siantar seakan berada di sebuah kota tua. Kaya dengan bangunan peninggalan sejarah kolonial Belanda. Kita akan serasa terbawa ke suasana ratusan tahun silam. Berikut potensi –potensi yang dapat dijadikan wisata heritage di kota Pematangsiantar.

  • Lokasi Kerajaan Siantar dan makam Raja Sang Nauluh Damanik

Lokasi Kerajaan Siantar yang berada di Pematang dapat di rekonstruksi ulang atau minimal pemerintah kota membangun istana kerajaan siantar sebagai wujud keberadaan kerajaan Siantar masa lalu.sehingga keberadaan lokasi kerajaan serta makam Raja Sang Nauluh Damanik (Raja Siantar) dapat menjadi kunjungan wisata jika berada di Siantar, perlu diketahui bahwa Raja Sang Naualuh Damanik, lahir di Siantar tahun 1857.Pernah memerintah Kerajaan Siantar dari tahun 1882–1904 dan tercatat sebagai Raja ke XIV dari Dinasti Siantar (1350-1904) yang kemudian ditangkap belanda dan diungsikan ke Bengkalis dan wafat pada Tahun 1914.

  • Birmingham Small Arm (BSA)

Adalah sesuatu yang unik dan keberadaannya hanya di kota Siantar, yaitu jenis sepeda motor buatan Inggris yang awalnya diciptakan untuk kendaraan perang, disamping motor-motor lainnya yang juga digunakan seperti Norton, Triumph, BMW, hingga Harley Davidson, juga ada. Rata-rata usia motor sudah mencapai 60 tahunan. Motor yang saat ini berjumlah sekitar 400 unit itu ada yang dibuat tahun 1941, 1948, 1952, dan yang lebih "gres" buatan tahun 1956.

Becak Siantar sudah dapat dijadikan menjadi salahsatu benda cagar budaya, karena sesuai dengan Undang Undang nomor 11 tahun 2010 tentang CagarBudaya, setiap benda peninggalan sejarah di atas usia 50 tahun dapat dinyatakan cagar budaya dan wajib dilindungi pemerintah.

Potensi becak siantar dapat menjadi sarana transportasi pariwisata untuk menikmati dan mengunjungi destinasi pariwisata di kota Siantar. dengan melibatkan para pemilik dan para abang becak sehingga dengan demikian keberadaan becak siantar dapat dimaksimalkan untuk kepentingan pariwisata dan tentunya berdampak terhadap kesejahteraan para abang becak.

  • Museum Simalungun

Museum Simalungun diresmikan pada tanggal 30 April 1940 oleh Pemko Siantar dan di dukung oleh Raja- Raja Simalungun, Pemuka Adat dan masyarakat.Museum Simalungun banyak menyimpan benda- benda budaya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakatnya. Di museum ini ditemukan Warisan megalitik yang sangat berharga pada masa itu adalah patung (batu).Selain itu juga di dapati koleksi berupa pustaha Lak-lak, Patung-patung batu peninggalan megalitik, peralatan dapur, peralatan makan, peralatan tenun, peerhiasan emas dan perak, koin dan uang dan lain sebagainya.

Koleksi- koleksi Museum Simalungun tentunya menyimpan lembaran peristiwa sejarah yang sangat penting bagi bangsa Simalungun. Museum Simalungun dan koleksinya menyatakan kepedulian raja-raja marpitu terhadap generasi yang akan datang untuk tidak melupakan sejarah Simalungun.

  • Balai Kota

Balai Kota berdiri megah di Jalan Merdeka. Gedung tersebut dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 2 Januari 1920. Di pintu masuk Balai Kota tertulis di prasasti, OC Erste Steen Gelego op den 2 Januari 1920 door J Tideman voor zitter van den Gemeenteraad Siantar.

Balai Kota Siantar itu pernah menjadi kantor Gubernur, dan kantor Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, serta sempat menjadi titik kumpul Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

  • Gedung Juang 45

Di Gedung juang 45 berdiri patung tiga tokoh pejuang kemerdekaan yang terdiri satu perempuan dan dua laki-laki. Patung perempuan memegang peralatan medis, sedangkan patung laki-laki yang berada di tengah mengacungkan bambu runcing yang diujungnya berkibar bendera merah putih.

Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini dulunya adalah suatu pusat pertahanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di tahun 1945 - 1949. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai tempat aktivitas para pejuang veteran. Namun sangat disayangkan sebagian ruangannyatelah dikomersilkan sebagai sebagai restoran dan tempat hiburan.

  • Siantar Hotel

Dibangun sekitar tahun 1913 merupakan saksi sejarah meletusnya Peristiwa Siantar Hotel tanggal 15 Oktober 1945, yang dilatarbelakangi oleh insiden bendera di Siantar Hotel, yang ternyata mengusik hati para Pemuda Siantar. Dimana Belanda/NICA mencoba menaikkan benderanya yang tiga warna dan di tambah lagi dengan tindakan serta perilaku yang angkuh dan sombong yang diperlihatkan serdadu-serdadu Belanda/NICA kepada rakyat Indonesia atau rakyat Siantar yang tentunya akan memancing emosi rakyat yang telah lama terpendam untuk membalasnya. Peristiwa Siantar Hotel 15 Oktober 1945 mempelopori luasnya gelombang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Siantar dan Simalungun.

  • Pabrik es

PT. Pabrik Es Siantar merupakan satu-satunya pabrik tertua di Siantar yang sudah berdiri sejak 1916 dengan naman NV Ijs Fabriek. PT. Pabrik Es Siantar didirikan oleh seorang yang berkebangsaan Swiss bernama Heinrich Surbeck. Heinrich Surbeck merupakan sarjana teknik kimia dan pertama kali datang ke Sumatera Utara pada tahun 1902. Beberapa tahun kemudian Surbeck mendirikan pabrik gambir di Gunung Melayu (Asahan), mendirikan pembangkit listrik dan hotel, pabrik es dan minuman di Pematang Siantar di bawah nama NV.

  • Patung Dewi Kwan Im

Siantar juga terkenal dengan kota dengan tingkat toleransi beragama yang sangat tinggi. Keanekaragaman beragama di Indonesia, berjalan sangat baik di kota ini. Hal ini dapat kita lihat dari keanekaragaman tempat beribadah. Tidak ada satu aliran agama yang mencolok di kota ini, bisa dikatakan bahwa tempat-tempat beribadah di kota ini sangat besar. Tidak ada salahnya jika kita jadikan objek wisata rohani. Mungkin tidak sedikit yang masih enggan mengenal keunikan bangunan-bangunan rumah ibadah.

Salah satu destinasi wisata kota Siantar adalah Maha Vihara Vidya Maitreya. Tempat ini menjadi salah satu pilihan karena memiliki patung yang juga dikenal dengan Dewi Kwan Im (Guan Yin). Patung setinggi 22,8 meter yang terbuat dari batu granit ini memang memesona dan merupakanpatung Dewi Kwan Im tertinggi di Asia Tenggara.

  • Gedung Stasiun Kreta Api Siantar

Merupakan jaringan Kereta Api yang menghubungkan Medan-Siantar yang menjadi pusat perkebunan Teh. Diresmikan 05 Mei 1916 oleh NV Deli Spoorweg Matschappij (DSM).

Jika digali keberadaannya maka potensi –potensi heritage lainnya dapat kita temukan, dan pengembangan potensi heritage tourism ini dapat didukung oleh suasana Kota Pematangsiantar yang sejuk, sangat cocok untuk menikmati beragam citarasa wisata kuliner dan tenunan ulos yang dapat dijadikakan cindera mata khas kota Siantar. 

Pemanfaatkan potensi tersebut sebaiknya dilakukan pemerintah untuk bisa menghasilkan Pendapatan Asli Daerah/PAD bukan justru sebaliknya kecenderengan yang terjadi para pemimpin daerah, tidak konsen menjaga dan merawat bangunan tua malah bangunan tersebut dihancurkan dan dijadikan lahan bisnis dengan bertopengkan modernisasi dan pembangunan.

Di negara lain bangunan dan peninggalan masa lampau yang bernilai sejarah tidak dihancurkan malah direvitalisasi/ dihidupkan kembali dan menjadi kebanggaan serta pengasilan pemerintah setempat.Singapura punya bangunan kota sejarah little India, Inggris mempunyai China Town, Penang Heritage dan sebagainya.

Harus kita akui sebagian besar kota di Indonesia sangat tertinggal dalam sistem pengelolaan dan persepsi terhadap Heritage (warisan) peninggalan budaya masyarakat. Namun, Siantar masih potensial untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata heritage yang tidak kalah dari kota kota wisata heritage di Asia Tenggara bahkan Dunia.

Karena bila warisan budaya itu dikelola dengan sistematis maka akan memberikan topangan kesejahteraan, bukan cuma pada sisi budaya, tetapi juga sisi ekonomi, wisata, dan sistem sosial yang terpelihara. Maka diperlukan suatu upaya untuk mengembangkan warisan budaya Siantar sebagai Heritage Tourism.

*Siantar Heritage Society