Siantar, hetanews.com – Pada Kamis (29/10) lalu, dua dari tiga pelaku pembongkaran rumah Hotna Hutasoit di Jalan Wigsara no 6, Kelurahan Bane, Kecamatan Siantar Utara berhasil diringkus oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Siantar. (Baca http://www.hetanews.com/article/35365/reskrim-siantar-sergap-tamu-tak-diundang-yang-datang-berkunjung-ke-rumah-hotma-hutasoit).

Satu dari dua pelaku yang telah ditangkap, Hengky Hermanto Sinambela alias Bela (22) warga Desa Porsea, Kelurahan Pangasean, Kabupaten Tobasa yang kini berstatus terdakwa, menjalani sidang pada Kamis (11/02/2016) dengan agenda mendengarkan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, Henny Simandalahi di Pengadilan Negeri Siantar.

Sidang yang dipimpin hakim Maria Sitinjak dengan hakim anggota Silvya Terry dan Risbarita Simarangkir, JPU Henny menuntut agar terdakwa dihukum pidana penjara selama 2,5 tahun yang diatur dalam pasal 363 ayat 1 ke 4 dan 5 KUHPidana.

Setelah mendengarkan tuntutan dari JPU, terdakwa mengaku menyesali perbuatannya dan meminta keringanan hukuman. Sidang kembali ditunda hingga Rabu (17/02) dengan agenda mendengarkan putusan dari majelis hakim.

Diketahui, terdakwa bersama Budiman Sinurat alias Baday (DPO) dan Diky Abdilah Siregar (berkas perkara berbeda) melakukan pembongkaran rumah milik Hotna Hutasoit pada Senin (26/10) lalu sekitar pukul 06.00 WIB. Sejam sebelum pembongkaran, terdakwa bersama Baday mengamati (memantau) kondisi rumah tersebut.

Setelah merasa aman, keduanya mendekati jendela rumah korbannya Hotna. Keduanya membongkar pintu samping rumah dengan menggunakan linggis dan berhasil terbuka. Kemudian mereka masuk kedalam rumah. Terdakwa menuju ke kamar tengah dan melihat saksi Febi boru Panjaitan sedang tidur dan kemudian menuju ke kamar belakang mengikuti Baday yang mengambil sebuah tas sandang dari kamar belakang rumah.

Didalam tas tersebut berisi 1 buah buku BPKB Kijang Inova, 1 buah buku BPKB Honda Beat, 3 buah HP, 1 buah jam tangan dan kemudian keduanya meninggalkan rumah Hotna. Setelah sampai dihalaman rumah, Baday kembali mengajak terdakwa untuk masuk kedalam rumah untuk mengambil sepeda motor Honda Beat Nomor Polisi BK 2241 WAF milik Hotna.

Kemudian Baday mengajak saksi Diky yang sudah menunggu disekitar rumah untuk menjual sepeda motor tersebut dan pergi menuju Kecamatan Bandar Kerasaan, Kabupaten Simalungun. Mereka menjual sepeda motor tersebut dengan harga 6 juta. Akibat perbuatan tersebut, korban Hotna mengalami kerugian sekitar 24 juta.