Siantar, hetanews.com - Sekitar 40 massa dari DPC Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Siantar dan pekerja Mie Pansit YY melakukan aksi di depan Rumah Makan Mie Pansit YY, Jalan Gereja No. 38, Siantar.

Karena suasana sempat membuat macet di depan lokasi aksi, dengan dijaga pihak kepolisian dari BhabinKamtibmas Polres Siantar dan Polsek Siantar Selatan, dilakukan mediasi antara SBSI, Pekerja dan Pemilik usaha Mie Pansit YY, Yong Lani Damanik.

Mediasi hampir selama 1 jam tersebut sempat tegang dikarenakan pemilik usaha yang bernama Yong Lani Damanik alias Ayong memukul meja dengan keras. "Ibu tidak ada etikanya, niat baiknya untuk mediasi tetapi emosi memukul-mukul gini. Hargai bu, disini ada bapak-bapak dari kepolisian," ujar Ketua DPC SBSI Siantar, Fernando Maurit Siahaan, yang marah melihat kelakuan dari Ayong.

Walaupun sempat diperingati, tetapi Ayong tetap emosi, yang diikuti kemarahan dari peserta mediasi lainnya. "Kalian ngapain demo-demo di sini. Kalian selalu menyudutkan saya karena saya sendiri di sini (di ruang mediasi)," tutur Ayong.

Jadi ibu melarang kami berdemo?, tanya Fansiskus,  berarti ibu mau melarang hak-hak kami untuk mengeluarkan pendapat. “Itu sudah melanggar undang-undang bu," balas Fransiskus Silalahi, Sekretaris DPC SBSI Siantar.

Ketegangan tersebut berlanjut dikarenakan Smith (22), salah satu pekerja Mie Pansit YY yang menuntut haknya juga emosi di mediasi tersebut. "Ibu tidak ada etika, di sini kita mau mediasi. Selama ini, yang ibu bilang hanya kebaikan, pernah ibu bicara kekurangan? Ibu janji tanggal 5 bonus THR kami dibagikan malah ibu pergi. Dimana coba etika ibu?" tantang Smith dengan nada tinggi.

Ketegangan mediasi ini dikarenakan setiap pihak saling beradu argumen dan saling memotong setiap pembicaraan. "Kita ini mediasi, jadi kita harap jangan ada ketegangan dan setiap yang bicara harus dihargai. Jangan memotong orang yang bicara," kata Fransiskus.

Mediasi ini membahas mengenai PHK sepihak terhadap 13 pekerja, upah yang sesuai, pemberlakuan jam kerja sesuai UU No 13 tahun 2003. "Ibu sudah menyalahi UU No 13 tahun 2003 tentang UU ketenaga kerjaan. Mereka (pekerja) bekerja 14 jam sehari, gaji tidak sesuai UMK. Ibu menggaji mereka hanya 700-800 ribu. Apa ibu tidak tahu tentang UU ketenaga kerjaan?" tanya Fransiskus.

Merasa disudutkan, Ayong meminta jangan hanya rumah makannya saja yang dipertanyakan. "Mereka (pekerja) saya berikan fasilitas yang baik. Makan bebas, tempat tidur (mess) kami sediakan. Mana ada fasilitas gini di tempat (rumah makan) mie pansit lain.

Coba tanya tempat yang lain. Kalau kalian minta ditutup, jangan hanya tempat kami ini. Semua mie pansit di sini tutuplah. Mana ada rumah makan mie pansit di sini yang gaji pekerjanya sesuai UMK. Jadi yang lain tutup juga lah. Jangan cuma kami yang minta ditutup," jelasnya.

"Ingat ya, saya tidak pernah memecat mereka (pekerja). Tapi mereka yang tidak mau kerja lagi. Coba pikiri, pas malam itu (tanggal 5) semua pelanggan disuruhnya pulang. Mereka tidak mau melayani," sambung Ayong.

Mendengar pernyataan tersebut, Smith langsung menyanggah hal tersebut, karena menurutnya, mereka begitu karena janji dari pemilik tidak dipenuhi. "Tau ibu kenapa kami gitu? Itu karena ibu gak ada etika, gak ada moral. Janji ibu bayar bonus kami tanggal 5, tapi kami tunggu-tunggu malah ibu pergi gitu aja. Kan nampak disitu ibu gak menghormati kami," balas Smith.

Karena seperti mediasi tersebut akan mentok, pihak kepolisian menjelaskan sedikit maksud dari kedatangan massa aksi. "Disini tujuan kedatangan mereka (massa aksi) untuk mediasi baik-baik dengan ibu (pemilik)," ujar salah satu personil kepolisian.

Akhirnya, Ayong si pemilik usaha akan memikirkan terlebih dahulu tuntutan dari massa aksi. "Coba saya pikiri dahulu tuntutannya. Biar saya pelajari dulu ya," ujar Ayong.