SIANTAR, HETANEWS.com - Korban Suwandi Simanjuntak yang dikenal dengan sebutan "Bandot" meninggal dunia akibat sejumlah luka yang dideritanya karena dipukuli 7 orang terdakwa.

Para terdakwa AHS (42), HLR (51), JS (23), SPS (26), SVP (36), SS (25) masing masing warga Siantar Marihat dan FAP (28) warga Sidamanik didakwa pasal 338 KUHP atau pasal 351 (3) KUH Pidana Jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan yang dilakukan secara bersama sama yang mengakibatkan kematian.

Ke-7 terdakwa disidang di Pengadilan Negeri Pematangsiantar yang digelar terbuka untuk umum. Karena ancaman hukuman diatas 15 tahun maka majelis hakim menetapkan agar para terdakwa didampingi pengacara.

"Jika tidak mampu membayar pengacara, maka hakim menetapkan pengacara dari Posbakum yaitu BBH USI untuk mendampingi selama proses persidangan," kata Rinto Leoni Manullang sebagai Ketua majelis hakim.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Robert O Damanik menguraikan perbuatan para terdakwa yang dilakukan pada Rabu, 27 September 2023 sekira tengah malam pukul 01.00 wib di Jalan Melanthon Siregar Kelurahan Sukaraja Siantar Marihat.

Bermula ketika saksi Faber Sianturi melihat terdakwa yang sedang duduk di simpang Gang Mahoni dan 2 orang lainnya yang memegang goni berwarna putih. Faber pun langsung berteriak "panakko" yang artinya pencuri.

Korban langsung lari, demikian juga 2 orang lainnya dan ternyata ada anjing di dalam goni warna putih tersebut. Karena sudah mengenal korban "bandot", saksi terus mengejar hingga berhasil menangkapnya di depan sebuah bengkel.

Seketika banyak warga yang datang, lalu para terdakwa yang juga mengenal "bandot" ada yang memukul bagian perut, kepala, menendang kaki dan lainnya. Sedangkan terdakwa SPS memukuli korban dengan belting/fanbel berulang kali di bagian kepala dan lainnya. Akibatnya korban mengalami sekujur luka.

Setelah korban tak berkutik lagi dan para terdakwa berhenti memukulinya, saksi Hendra Sinaga dan Riwanson Sinaga yang juga mengenal korban membawanya pulang.

Karena kondisi yang parah, keluarga membawa korban ke RS Harapan selanjutnya dirujuk ke RSUD Djasamen Saragih. Sejam mendapatkan perawatan, korban meninggal dunia.

Sesuai visum dari RS Bhayangkara, korban mati lemas karena luka yang dialami dan pendarahan di bagian perut juga bagian kepala.

Dakwaan jaksa tersebut tak dibantah para terdakwa, persidangan pun ditunda hingga 2 Minggu ke depan untuk mendengarkan keterangan saksi.

"Karena para saksi belum hadir, sidang akan kita lanjutkan 2 minggu mendatang," kata hakim sambil menutup persidangan.

Erwin Purba SH MH, pengacara Dati BBH USI di Posbakum PN Siantar membenarkan jika terhadap ke-7 terdakwa dilakukan pendampingan secara prodeo.

"Karena ancaman hukumannya tinggi, maka dilakukan pendampingan," kata Erwin usai persidangan.