SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Rasa nyaman mulai dirasakan para pelaku pencurian, meski dilakukan beramai ramai (pelaku lebih dari satu). Khususnya pencuri brondolan buah kelapa sawit, pihak perkebunan pun selalu menjadi korbannya.

Para pelaku dan penadah seenaknya bertransaksi secara terang terangan. Si penadah tetap menampung hasil brondolan meski tahu merupakan hasil kejahatan. Maka, penadah semakin kaya dan semakin berkembang usahanya.

Seperti yang dialami PT Sipef, perkebunan swasta di wilayah hukum Kabupaten Simalungun. Pihaknya berhasil menangkap salah satu pelaku pencurian dan bermaksud membawa pelaku ke Polsek Perdagangan.

Di tengah perjalanan, pihak PT Sipef melihat 4 pelaku lainnya sedang menimbang hasil cirian brondolan kelapa sawit di rumah penadah di Simpang Jakarta Huta II Nagori Pematang Kerasaan Kecamatan Pematang Bandar.

Kemudian dihampiri pihak PT Sipef dan ke-4 pelaku tersebut mengakui perbuatannya.

"Telah memungut buah kelapa sawit milik PT Sipef tanpa ijin sebanyak 90 Kg, di blok K 09 A OP 200, RT-RW Kerasaan I Pematang Bandar pada Sabtu, 3 Februari 2024 sekira pukul 15.55 wib".

Karena kejadian tersebut, pihak PT Sipef membuat laporan ke Polsek Perdagangan. Dengan terlapor 4 orang pelaku dan juga penadah.

Kapolsek Perdagangan AKP Juliapan yang dikonfirmasi hetanews melalui pesan WhatsApp, Selasa (6/2/2024) membenarkan kejadian tersebut.

Tapi menurutnya kasus tersebut telah diselesaikan secara diversi dan juga melalui Restoratif Justice (RJ).

Ternyata penuntasannya cukup singkat, dalam tempo 3 hari sejak kejadian perkaranya sudah selesai. Alasan pihak kepolisian, kerugian hanya 270 ribu, tanpa melihat bagaimana tindak pidana itu dilakukan.

Menanggapi hal ini, Edi Sihombing seorang lawyer di Siantar - Simalungun menjelaskan, harusnya pihak kepolisian lebih jeli dalam menyelesaikan perkara secara humanis seperti RJ.

"Karena yang kita tahu ada aturan hukum untuk menyelesaikan perkara secara RJ. Jadi bukan hanya memperhatikan kerugian saja, tapi jumlah pelaku dan ada pula penadahnya. Jadi ini merupakan gerombolan dan harus diproses hukum lebih lanjut," jelasnya.

Jika penegakan hukum seperti ini kata Edi, semua orang bisa berbuat hal yang sama "curi tipis-tipis". Makin berkembanglah bisnis penampungan buah kelapa sawit ilegal di wilayah hukum Simalungun.