JAKARTA, HETANEWS.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, Indonesia tengah menjajaki langkah sebagai negara maju atau negara ekonomi besar dunia. Namun, negara adidaya seperti Uni Eropa kini sedang berjuang menghadapi resesi, dan tak ingin posisinya diambil alih negara berkembang seperti Indonesia.

Menurut dia, niat Indonesia jadi negara besar sudah dirintis oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), lewat program hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah dari setiap bahan mentah yang jadi harta karun Indonesia selama ini.

Tembung: Orang Indonesia Yang Lahir Tahun 1941-81 - Akan Dapat Pembayaran Besar-besaran di Tahun Baru

Namun, niatan itu sedikit terlambat, lantaran negara-negara importir besar sudah terlanjur menikmati kekayaan imbas penjualan produk yang berasal dari raw material Indonesia, seperti sawit ataupun nikel.

"Akhirnya apa, pertumbuhan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja ada di negara lain. Akhirnya ketika boom daripada sumber daya alam ini lewat, akhirnya langsung kita juga terkena efeknya," kata Erick Thohir dalam Rilis LSI Januari 2022, Minggu (22/1).

Namun, niatan itu sedikit terlambat, lantaran negara-negara importir besar sudah terlanjur menikmati kekayaan imbas penjualan produk yang berasal dari raw material Indonesia, seperti sawit ataupun nikel.

"Akhirnya apa, pertumbuhan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja ada di negara lain. Akhirnya ketika boom daripada sumber daya alam ini lewat, akhirnya langsung kita juga terkena efeknya," kata Erick Thohir dalam Rilis LSI Januari 2022, Minggu (22/1).

Tak ingin kekayaan Indonesia terus dikeruk, Erick menyatakan, Jokowi pada periode 2017-2018 memulai program hilirisasi sumber daya alam. Kebijakan ini tentu membuat negara maju meradang. Selain digugat di persidangan WTO, dia menganggap Uni Eropa juga melakukan diskriminasi terhadap ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia lewat kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II.

"Mereka pelan-pelan ingin menutup market kita. Jadi market kita harus dibuka, tetap market mereka harus ditutup dengan alasan-alasan policy yang tentu disusupi," keluhnya.

Kendati begitu, Erick Thohir pede dengan kekuatan ekonomi Indonesia melawan Uni Eropa yang berada di pinggir jurang resesi. Terlebih, Indonesia masih menikmati surplus neraca perdagangan luar biasa besar, USD 51 miliar.

"Ekspor kita juga terus meningkat. Ini yang ditakutkan oleh negara pesaing kita, karena sampai 2045 kita direncanakan masuk top 4-5 ekonomi besar dunia. Mereka sudah baca data ini, mereka ingin perlambat, istilahnya jangan cepat kaya lah Indonesia," sindirnya.