MAKASSAR, HETANEWS.com - Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar, Komisaris Besar Budhi Haryanto mengungkapkan hasil tes psikologi dua tersangka kasus penculikan dan pembunuhan berencana dilakukan AD (17) dan AMF (18) terhadap MFS (11). Hasil tes psikologi menunjukkan jika tersangka AD dan AMF ini mempunyai kecenderungan egosentris dan kurang analisis.

"Hasil tes psikologinya anak ini mempunyai kecenderungan egosentris dan kurang analisis. Karena faktor lingkungan yang mempengaruhi," ujarnya saat tampil acarra popcast Close The Door, Dedy Cobuzer yang ditayangkan di YouTube, Kamis (19/1).

Meski demikian, Budhi menegaskan kedua tersangka bukan masuk kategori psikopat. Ia menegaskan kedua tersangka nekat dan tega membunuh AMF karena faktor sosiologis lingkungannya.

"Dia bukan psikopat, bukan. Karena faktor lingkungan sehingga dia punya pengendalian kontrol diri yang kurang. Makanya, faktor lingkungan yang paling dominan sehingga melakukan pembunuhan," tegasnya.

Budhi juga mengungkapkan sebelum kejadian pembunuhan, tersangka AD pernah berdoa agar bisa kaya dan memiliki uang. Tetapi, karena doa tersangka tidak terkabul, hingga membuatnya tidak pecaya Tuhan.

"Si pelaku ini pernah berdoa minta kaya sama tuhan. Ternyata kan tidak dibuat kaya. Akhirnya dia enggak percaya tuhan," tuturnya.

Budhi menegaskan apa yang dilakukan tersangka AD dan AMF masuk dalam kategori pembunuhan berencana. Apalagi, pembunuhan tersebut sudah direncanakan sejak satu tahun lalu.

"Makanya saya sampaikan ini pembunuhan berencana. Terus si pelaku mengajak korban untuk pura-pura membersihkan rumahnya dengan iming-iming dikasih Rp50 ribu," sebutnya.

"(Korban) Diskenariokan untuk terlena dengan disiapkan laptop, dikasih headset. Nah pada saat korban asik bermain laptop, di saat itulah di eksekusi," imbuhnya.

Budhi mengaku kedua tersangka mengeksekusi pelaku dengan cara mencekik dan membanting korban. "Dieksekusi dengan cara dicekik dan tidak bisa bernafas dengan ditutup mulutnya dan akhirnya sampai meninggal," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, penyidik Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar Makassar telah merampungkan berkas perkara penculikan dan pembunuhan terhadap MFS. Polisi berharap jaksa bisa segera mempelajari perkara yang menyita perhatian ini.

Plt Kepala Satreskrim Polrestabes Makassar, Komisaris Jufri Natsir mengatakan berkas perkara penculikan dan pembunuhan dilakukan AD dan AMF terhadap bocah MFS telah rampung. Dia mengaku sudah menandatangani berkas perkara dua tersangka tersebut untuk diserahkan ke jaksa Kejaksaan Negeri Makassar.

"Tadi pagi saya sudah tandatangani berkas perkaranya dan anak-anak sementara bawa ke JPU untuk dipelajari," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Rabu (18/1).

Meski demikian, Jufri mengaku belum mengetahui berkas perkara dua tersangka tersebut sudah diterima atau belum oleh JPU. Ia beralasan belum mendapatkan laporan dari anak buahnya.

"Saya tidak tahu berkasnya sudah diterima JPU atau belum. Tapi tadi sekitar jam 2 anggota bawa ke sana (Kejari Makassar)," tegasnya.

Sementara terkait masa penahanan terhadap tersangka AD yang akan habis, Jufri membenarkan. Untuk itu, pihaknya mempercepat penyusunan berkas perkara terhadap tersangka sebelum masa penahannya habis.

"Karena tersangka AD ini kan masih di bawah umur, maka masa penahanannya cuma 15 hari," sebutnya.

Sementara untuk tersangka AMF, Jufri mengatakan masa penahanannya sama seperti pelaku kriminal dewasa. Masa penahanan AMF bisa mencapai 20 hari karena sudah masuk kategori dewasa.

"Kalau AMF masa tahanannya kan normal. Dia kan sudah masuk dewasa, karena usianya sudah 18 tahun," ucapnya.

Meski masa penahanan berbeda, tetapi penyidik langsung merampungkan berkas perkara keduanya. Hal itu, dikarenakan agar JPU bisa satu kali memeriksa berkas terhadap kedua tersangka.

"Biar sekaligus agar diteliti berkasnya oleh jaksa," tuturnya.