HETANEWS.com - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), menyuguhkan sambutan mewah ketika Presiden China, Xi Jinping, tiba di Riyadh pada Kamis (8/12).

Kemewahan ini menandakan niat Arab Saudi memperdalam hubungannya dengan China. Ketika memasuki wilayah udaranya, pesawat yang ditumpangi Xi dikawal jet Angkatan Udara Arab Saudi.

Penembakan kehormatan dengan meriam turut melatarbelakangi para bangsawan senior Arab Saudi yang menemuinya di bandara pada Rabu (7/12). Pengawal Kerajaan Arab Saudi yang menunggangi kuda lalu mengawal mobil Xi memasuki Istana al-Yamamah.

Mereka mengibarkan bendera China dan Arab Saudi. Penguasa de facto kerajaan kaya minyak itu menyambut Xi dengan senyum hangat.

Xi mengungkapkan, perjalanannya membuka era baru hubungan China dengan negara-negara Arab di Teluk, serta Arab Saudi.

Xi akan menghadiri pertemuan dengan para pemimpin Arab pada Jumat (9/12). Dia menyebut negara-negara ini sebagai harta karun energi dan lahan subur pengembangan industri teknologi tinggi.

"[China dan negara-negara Arab akan] terus menjunjung tinggi nilai non-campur tangan dalam urusan dalam negeri, saling mendukung dengan tegas dalam menjaga kedaulatan dan integritas wilayah," jelas Xi, dikutip dari Reuters, Kamis (8/12).

Presiden Amerika Serikat Joe Biden melakukan pertemuan dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Jeddah, Arab Saudi. Foto: Mandel Ngan/Pool via REUTERS

Kemeriahan yang mengiringi kedatangan Xi sangat berbeda dengan sambutan sederhana yang diberikan kepada Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Dia berkunjung ke Arab Saudi pula pada Juli.

Hubungan kedua negara itu memanas akibat kebijakan energi Arab Saudi dan pembunuhan Jamal Khashoggi, pada 2018. Tuduhan keterlibatan MBS dalam pembunuhan jurnalis Arab Saudi yang bekerja di AS itu membayangi kunjungan canggung Biden.

AS lantas mengkritik lawatan Xi sebagai upaya China memperluas pengaruh di seluruh dunia. Tetapi, AS mengatakan, tindakan China tidak akan mengubah kebijakan mereka terhadap Timur Tengah.

Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya mengaku tidak akan memihak dalam konflik semacam ini. Mereka berniat mendiversifikasi mitra demi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional.

China adalah mitra dagang utama bagi negara-negara Teluk. Hubungan bilateral kian berkembang lantaran kawasan itu sedang mendorong diversifikasi ekonomi. Arab Saudi mengatakan, pihaknya akan tetap menjadi mitra energi tepercaya untuk China.

Mereka akan meningkatkan kerja sama rantai pasokan energi dengan mendirikan pusat regional di Arab Saudi untuk pabrik-pabrik China.

Hingga 34 kesepakatan beragam juga telah ditandatangani perusahaan-perusahaan dari China dan Arab Saudi.

Perjanjian tersebut meliputi investasi energi hijau, teknologi informasi, layanan cloud, transportasi, konstruksi, dan sektor lainnya.

Walau tidak membeberkan angka, media pemerintah sempat menyebut rencana perjanjian senilai USD 30 miliar (Rp 469 triliun).

"Dalam beberapa tahun terakhir, [Arab Saudi] telah menegakkan otonomi strategisnya, melawan tekanan Amerika Serikat," terang pakar Timur Tengah di China Institutes of Contemporary International Relations (CICIR), Tang Tianbo.

Sumber: kumparan.com