JAKARTA, HETANEWS.com - Ormas Nasionalis Kombatan (Komunitas Banteng Asli Nusantara) mengingatkan para politisi PDI Perjuangan agar tidak salah dalam memilih figur calon presiden (capres).

Jika meleset bisa berakibat fatal, Pilpres bisa kalah dan perolehan suara partai dipastikan jeblok di Pemilu 2024.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kombatan, Budi Mulyawan mengatakan, kegagalan PDI Perjuangan di Pemilu 2009, lanjut Budi Mulyawan, hanya dapat 14,03 persen seharus jadi pelajaran sejarah buruk partai.

Untuk itu dirinya menyebut, tidak layak mengandalkan arogansi menang 2 periode Pilpres dan Pileg pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2019.

"Harus diakui kemenangan PDI Perjuangan dalam dua Pemilu terdahulu tidak bisa dipisahkan dari efek figur Pak Jokowi," kata Cepi, sapaan akrab Budi Mulyawan dalam keterangan yang diterima, Rabu (7/12/2022).

Menurut Budi Mulyawan, salah besar jika ada yang tak peduli lembaga survei, kemudian memaksa pilih figur Capres yang ujung-ujungnya saat perolehan suara Pilpres dan Pileg kalah.

"Justru lempar batu sembunyi tangan (menyalah-nyalakan orang lain)," katanya.

Budi Mulyawan, sinyal yang disampaikan kader terbaik PDI Perjuangan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menjabat dua periode, bahwa calon penggantinya berambut putih jangan disia-siakan dan direspon nyinyir.

"Sinyal Pak Jokowi sudah jelas mengarah kepada Ganjar Pranowo. Tentu, sudah mempertimbangan lewat berbagai aspek. Apalagi, semua lembaga survei yang kredibel, rata-rata hasilnya menempatkan Ganjar sebagai Capres paling disukai rakyat," ujarnya.

"Jadi, kita ingatkan jangan sekali kali melawan kehendak rakyat jika PDI Perjuangan tak ingin mengulang pengalaman buruk 2009 yang jeblok," katanya.