JAKARTA, HETANEWS.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengkhawatirkan kondisi manufaktur dalam negeri yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi akan masih diikuti dengan penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) atau Indeks Manufaktur Indonesia di mana beberapa negara sudah lebih rendah dari Indonesia.

"Ke depan pertumbuhan ekonomi diikuti penurunan PMI. Beberapa negara sudah lebih rendah dari Indonesia," ujar Airlangga dalam Rapat Koordinasi Nasional Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah, Selasa (6/12).

PMI Indonesia turun dari 51,8 pada Oktober menjadi 50,3 per November 2022. Ia juga menyebutkan 11 sektor mengalami kontraksi dan juga penurunan permintaan atau purchase order terutama untuk sektor manufaktur.

"Kami monitor 11 sektor mengalami kontraksi dan juga penurunan daripada purchase order terutama untuk sektor manufaktur," kata dia.

Untuk itu, kontraksi ini menjadi catatan tersendiri. Airlangga juga mengimbau agar kepala daerah, gubernur, bupati dan wali kota, membantu hal ini.

"Menjadi catatan bagi para gubernur dan bupati untuk membantu mengantisipasi penurunan di 11 sektor terutama padat karya," ungkapnya.

Sebelumnya Airlangga menyebut ada 12 sektor mengalami kontraksi imbas konflik geopolitik dan krisis global di berbagai sektor. Salah satunya industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, dan pakaian.

Meski demikian, ia menggarisbawahi PMI manufaktur Indonesia dalam keadaan yang lebih baik dari negara-negara lainnya seperti Vietnam, Jepang, Myanmar, dan Malaysia.

Selain itu, ia menyebutkan terdapat 11 sektor industri yang ekspansif. Ia berpesan kepada Kadin tetap waspada untuk menjaga sektor yang ekspansif serta mengembangkan sektor yang mengalami kontraksi.

“Vietnam PMI-nya 47,4, Jepang 49, Myanmar 44,6 dan Malaysia 47,9. Ini artinya kita juga harus waspada," tuturnya.