SUMUT, HETANEWS.com - Virus flu babi atau African Swine Fever (ASF) menyebabkan 2.000 ekor babi di Kota Medan, mati mendadak. Akibat wabah ini, para peternak mengalami kerugian sebesar Rp 12 miliar.

Ketua Peternak Babi Indonesia, Heri Ginting, mengatakan ribuan babi tersebut mati mendadak sejak September 2022.

“Babi yang mati dari kita ada dari 9 kelurahan, ada 2.000 ekor. Sebelum kasus ini merebak, rata-rata harga babi Rp 65 ribu per kilo. Dari babi yang mati,kerugian kita sekitar Rp 12 miliar,” kata Heri kepada Kumparan.

Sebelum mati, babi-babi tersebut mengalami gejala tidak mau makan. “Lalu tiba-tiba keluar darah dari hidung puting, mulut babi itu, kemudian mati,” ucap Heri.

Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumut telah datang mengecek kondisi babi mereka. Namun belum ditemukan vaksin untuk mengatasi wabah ini.

“Tolonglah cepat disegerakan pengadaan vaksin, yang kedua tolonglah mobilisasi hewan ternak babi yang dari luar, tolong jangan dikasih masuk lagi,” ujarnya.

Heri juga berharap Pemprov Sumut mengikuti Pemprov Bali dalam menangani persoalan ini.

“Pada tahun 2019 di mana Pemprov Bali dan pemkabnya membeli semua ternak babi yang terpapar virus ASF untuk dikebumikan dan kubur untuk memutus rantai penularan virusnya. Itu yang diambil Pemkab Bali,” kata Heri.

Heri menuturkan, saat ini ada sekitar 700 sampai 800 kepala keluarga yang babinya mati karena virus ini.

Edy Rahmayadi Imbau Tidak Jual Beli Babi dari Luar Kota Medan.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi memberikan tanggapannya. Dia meminta para peternak tidak melakukan jual beli babi dari luar Kota Medan.

“Rakyat selalu diingatkan, sampai sekarang belum diizinkan barang (babi) dari luar ke dalam. Kemudian, babi dari dalam di jual ke luar,” ujar Edy.

Eks Ketua Umum PSSI ini mengatakan, Pemprov Sumut ikut menangani kasus ini. Dia berharap para peternak lebih maksimal dalam merawat ternaknya.

“Selalu kita lakukan vaksinasi, vaksin ini jalan. Kalau rakyat tidak bersih, seperti ini lah jadinya," kata Edy.