HETANEWS.com - Kremlin menyebut pernyataan Paus Fransiskus—bahwa etnis minoritas Rusia merupakan salah satu aktor paling kejam dalam invasi ke Ukraina, tidak mencerminkan Kekristenan pada Kamis (1/12).

Kantor berita milik negara, RIA Novosti, melaporkan bahwa Duta Besar Rusia untuk Vatikan telah mengajukan pengaduan resmi sebagai tanggapan atas komentar Paus Fransiskus.

"Paus Fransiskus menyerukan pembicaraan damai, tetapi juga baru-baru ini membuat pernyataan yang tidak dapat dipahami, sama sekali tidak Kristiani, memojokkan dua bangsa Rusia ke dalam kategori yang melakukan kekejaman selama pertempuran," jelas Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dikutip dari AFP, Kamis (1/12).

"Tentu ini tidak membantu misi dan otoritas Takhta Suci," lanjut dia.

Paus Fransiskus memegang bendera Ukraina yang dikirimkan kepadanya dari kota Bucha saat audiensi umum mingguan di Aula Paulus VI di Vatikan, Rabu (6/4). Foto: Remo Casilli/Reuters

Sejak dekrit mobilisasi parsial diumumkan Rusia pada 14 Oktober, para aktivis telah menuduh bahwa pemerintah Rusia mengorbankan etnis minoritas untuk berperang di Ukraina.

Tudingan itu merujuk pada tentara etnis Chechen dan Buryat. Organisasi anti-perang Free Buryatia Foundation memublikasikan laporan seputar dampak perang terhadap Republik Buryatia.

Wakil Presiden Free Buryatia Foundation, Victoria Maladaeva, mengatakan pemerintah secara tidak proporsional menggunakan minoritas dan migran dalam agresinya di Ukraina.

Moskow yang berpenduduk 17 juta orang melaporkan 50 korban jiwa akibat invasi ke Ukraina per Oktober. Tetapi, Republik Buryatia yang menaungi populasi 980.000 orang mencatat 364 korban jiwa.

"Peluang seorang Buryat tewas dalam perang di Ukraina adalah 7,8 kali lebih tinggi daripada [seorang etnis] Rusia. Seorang Tuvan 10,4 kali lebih tinggi," papar Maladaeva, dikutip dari Al Jazeera.

Kuburan massal dengan mayat warga sipil, yang menurut penduduk setempat dibunuh oleh tentara Rusia di Bucha, Ukraina, Senin (4/4/2022). Foto: Vladyslav Musiienko/Reuters

Walau begitu, para kritikus juga menuding bahwa mereka berperan melakukan kekejaman mengerikan di wilayah Ukraina seperti Bucha.

Ombudsman HAM Ukraina saat itu, Lyudmyla Denisova, meyakini bahwa tentara etnis Chechen dan Buryat bertanggung jawab atas dugaan kejahatan perang yang ditemukan di Bucha pada Mei.

Free Buryatia Foundation lantas meluncurkan penyelidikan untuk menantang tuduhan tentang kekejaman unit Buryat di Bucha.

Maladaeva kemudian menyangkal segala tudingan yang menyasar etnis Buryat, serta mempertanyakan sorotan khusus tersebut.

"Kami menunjukkan bahwa [pelaku kejahatan perang] ini bukan Buryat. Mereka berasal dari etnis lain dan berbicara dalam bahasa yang sama sekali berbeda. Bagi mereka [Ukraina], semua orang Asia adalah Buryat," tegas Maladaeva.

Paus Fransiskus mengulangi tudingan ini dalam wawancara yang diterbitkan pada Senin (28/11). Dia mengindikasikan, personel Chechnya dan Buryat menunjukkan kekejaman lebih di Ukraina.

"Umumnya, yang paling kejam mungkin adalah mereka yang berasal dari Rusia tetapi bukan dari tradisi Rusia, seperti Chechnya, Buryat, dan sebagainya," ujar Paus Fransiskus, dikutip dari The Guardian.

Tidak ada data yang menunjukkan bahwa tentara dari kelompok minoritas nasional yang bertempur di Ukraina berperilaku lebih buruk daripada anggota etnis Rusia. Para pejabat dan aktivis Rusia lantas segera mengutuk keras pernyataan Paus Fransiskus.

"Saya sangat kecewa membaca pernyataan rasis dan tidak bisa dimaafkan ini," kata pendiri Free Buryatia Foundation, Alexandra Garmazhapova.

"Rusia sedang mengobarkan perang kekaisaran yang dimulai dan dipimpin oleh [Presiden Rusia] Vladimir Putin, yang bagaimanapun juga bukan anggota dari etnis minoritas. Paus seharusnya mengkritiknya secara pribadi, tetapi dia memutuskan untuk menghindari Presiden Rusia," pungkas dia.

Sumber: kumparan.com