JAKARTA, HETANEWS.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi 3 September 2022 berimbas terhadap naiknya harga beras di Indonesia. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan ada dampak kenaikan harga BBM bersubsidi pada tanaman pangan, terutama hasil pertanian seperti padi.

"Mungkin karena terkait ongkos produksi seperti transportasi angkut, upah buruh, panen tanam, bajak, hingga harga gabah yang dijual petani mengalami peningkatan," jelas Setianto dalam konferensi pers, Kamis (1/12/2022).

Kendati demikian, harga tanaman pangan yang naik juga disebabkan karena adanya efek musiman. Namun dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2021, kata Setianto, harga hasil pertanian sebelum adanya kenaikan BBM tidak terjadi kenaikan harga.

"Sehingga dugaan awal kami merupakan, second round effect BBM (terjadi) di sektor pertanian," tambahnya.

Ia menurutkan melihat pola pertanian tanaman pangan, khususnya padi, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pada November 2022 sebesar Rp 5.397/kg naik 0,81% secara month to month (mtm). Ini naik Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani pada November 2022 sebesar Rp 5.785/kg turun atau -1,79% secara mtm namun naik 14,32 secara yoy. Adapun perkembangan rata-rata harga beras di penggilingan, grosir, dan eceran, BPS mencatatkan naik, baik secara bulanan ataupun tahunan.

Secara rinci, rata-rata harga beras di penggilingan pada November 2022 sebesar Rp 10.245/kg atau naik 0,85% dari bulan sebelumnya yang masih pada harga Rp 10.158/kg. Dibandingkan dengan November 2021 (yoy), beras di penggilingan pada November 2022 naik 10,78%.

Kemudian, rata-rata harga beras grosir pada November 2022 sebesar Rp 11.012/kg atau naik 0,6% dibandingkan dengan harga bulan sebelumnya yang hanya mencapai Rp 10.947/kg. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, naik 6,14%.

Adapun, rata-rata untuk beras eceran pada November 2022, BPS mencatat harganya mencapai Rp 11.877/kg. Angka ini naik 0,37% jika dibandingkan bulan sebelumnya atau 4,18% jika dibandingkan dengan November 2021.

"Beberapa komoditas pangan lainnya cenderung mengalami kenaikan harga konsumen. Ini dipicu harga produsen seperti telur ayam ras, yang akibat belum optimalnya produksi atau akibat dari akhir dini yang terjadi di telur ayam ras," jelas Setianto.

Sumber: cnbcindonesia.com