Oleh: Abas Mei Julita Pasaribu

PENYALAHGUNAAN Narkotika merupakan salah satu problem sosial yang kian hangat diperbincangkan.

Berbagai peristiwa ramai menghiasi layar kaca dan menjadi headline news di media massa serta menjadi topik yang sangat trend ditengah gempuran globalisasi dan pergaulan bebas.

Para pelaku kejahatan narkotika kerap kali menggunakan berbagai cara untuk melancarkan aksi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

Mulai dari merekrut orang-orang sekitar yang diduga membutuhkan pekerjaan, melibatkan orang-orang dengan usia anak dan perempuan yang seyogyanya bagian dari kaum lemah.

Ironisnya, dalam perjalanan peredaran gelap narkotika, perempuan banyak memainkan peran dalam jerat narkoba, mulai dari kurir, pengedar, pemakai yang pada kemungkinannya adalah korban.

Dugaan kuat, terjeratnya perempuan dalam peredaran narkotika dikarenakan faktor psikologis dan ekonomis.

Kerentanan perempuan secara fisik dan psikis dapat dijadikan dasar dari modus yang digunakan oleh para sindikat pelaku kejahatan narkotika.

Jebakan dan tipuan digunakan untuk menjerat para perempuan ini masuk dalam lingkaran jaringan peredaran narkotika.

Salah satu contohnya seperti memanfaatkan relasi personal, istri, pacar, selingkuhan atau siapapun perempuan yang berada di sekelilingnya yang dianggap rentan dan tidak mampu atau tidak punya kekuatan untuk menolak tawaran atau paksaan untuk masuk dalam peredaran gelap narkotika.

Selain itu sindikat narkotika ini menggunakan ancaman pembunuhan, teror, kekerasan fisik dan psikis, penculikan, pemalsuan untuk merekrut para perempuan ini.

Modus operandi yang lebih ekstrim lagi yaitu menggunakan tubuh perempuan dan organ tubuh untuk menyelundupkan narkotika.

Modus operandi yang digunakan sangat beragam, namun mereka tetap menggunakan pola yang sama yaitu menggunakan kerentanan perempuan.

Perlindungan hukum yang dapat diberikan adalah dengan membuat dan memperkuat perundang-undangan terkait.

Negara juga seharusnya meratifikasi konvensi Internasional guna menjamin perlindungan hukum para perempuan Indonesia di luar negeri, dan lebih memperhatikan latar belakang dan aspek kekerasan yang dialami.

Sehingga tercipta suatu keadilan dalam proses peradilan Pemenuhan kebutuhan yang semakin kompleks dan kemiskinan yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia.

Perempuan sebagai peran domestik dalam keluarga menjadi salah satu penyebab mereka terjebak dalam jerat narkoba. Iming-iming terbebas dari masalah, mendapatkan kesenangan, penghasilan yang besar menjadi faktor perempuan terjebak dalam jerat narkoba.

Bagi sebagian perempuan, masuk dalam jerat narkoba mendatangkan untung yang menjanjikan, namun dibalik itu semua, hukuman bahkan ancaman kematian ada di sekitar mereka.

Untuk dapat meminimalisir kecenderungan perempuan masuk dan terlibat dalam jerat narkoba, maka diperlukan strategi dakwah yang tepat, model dakwah yang dapat menyentuh aspek psikologis dan memberikan landasan pedoman kehidupan yang jelas dan matang.

Dengan demikian diharapkan perempuan tidak lagi menjadi korban dalam peredaran gelap narkotika.

Penulis: Mahasiswa Program Magister Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
ig @meipasaribu_