MEDAN,HETANEWS.com - Kondis korban gempa Cianjur yang selamat kini hidup memprihatinkan di pengungsian.

Meski begitu muncul isu bahwa korban bencana menolak bantuan.

Melansir Kompas.com, Kapolres Cianjur AKBP Doni Hermanto membantah kabar tersebut.

"Informasi adanya penolakan bantuan dari warga Cianjur itu dipastikan tidak benar karena masyarakat Cianjur sangat-sangat membutuhkan, bantuan ini sangat diharapkan oleh masyarakat," kata Doni.

Doni juga mengakui bahwa memang ada distribusi bantuan yang tak merata di sejumlah daerah.

Hal ini yang menyebabkan sejumlah bantuan diarahkan untuk dikumpulkan dan diberikan ke lokasi lain dan bukan ditolak.

"Bantuan oleh masyarakat itu jumlahnya memang cukup banyak di beberapa titik sehingga adanya tempat-tempat untuk dikumpulin kembali agar bisa didistribusikan ke lokasi-lokasi yang lain," ujar Doni.

"Apabila dilakukan secara tersendiri, masing-masing mendatangi titik-titik lokasi, yang terjadi adalah ketidakmerataan bantuan-bantuan logistik," kata dia.

Dilansir Grid.ID dari TribunnewsBogor.com pada Rabu (30/11/2022), KETUA Jabar Bergerak, Atalia Praratya Kamil mengungkap berbagai kebutuhan yang paling dibutuhkan oleh pengungsi.

Pengungsian gempa Cianjur.
Selimut dan jaket menjadi kebutuhan darurat yang dibutuhkan terlebih di malam hari.

2 pengungsi disebut meninggal dunia karena kedinginan di pengungsian.

Sarana pendidikan, sarana ibadah, dan toilet umum juga sangat dibutuhkan mengingat bahwa pengungsi menggunakan air kolam.

"Kami meyakini bahwa pemerintah tidak akan mungkin untuk mampu menyelesaikan semua rekonstruksi ini seperti sedia kala dan waktu cepat," kata Atalia.

"Oleh karena itu, saya menyarankan kepada teman-teman dari berbagai wilayah dan komunitas dari ikatan alumni dan lain sebagainya untuk fokus mempersiapkan juga terkait dengan bagaimana bisa menghadirkan sarana tersebut," lanjutnya.

"Tapi teknisnya harus marathon jangan lari sprint, maksudnya bersambung kerja. Tim satu bergerak, ada yang istirahat, dan terus bergantian," lanjutnya.