MEDAN, HETANEWS.com - Terlahir dengan kondisi mata low vision (penglihatan terbatas), Marilyn Lievani tidak ingin menyerah dan melakukan hal biasa dalam hidupnya. Wanita berusia 29 tahun ini mendirikan Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru di Kota Medan, Sumut.

Marilyn mencurahkan semangat hidupnya lewat yayasan tersebut demi pendidikan disabilitas. Sebelum sampai pada tahap ini, Marilyn pernah merasa masa depannya, akan suram. Ia bahkan hanya berani bermimpi punya cita-cita sebatas pengamen di traffic light.

Beruntung Marilyn sempat mengenyam pendidikan formal, hingga akhirnya tumbuh jadi motivator andal. Dari jerih payahnya, dia menabung, hingga akhirnya mendirikan yayasan tersebut bersama 4 temannya di 2014.

Sejak itu, dia mewakafkan dirinya menjadi pengajar di SLB Dwituna Harapan Baru, sebuah sekolah di bawa naungan Yayasan Dwituna Harapan Baru.

Bersama pengajar lain, Marilyn menerapkan pendidikan formal, kepada siswa yang mengalami Multiple Disability with Visual Impairment (MDVI) atau tuna ganda. Jumlah siswanya saat ini 10 orang.

“(Sederhananya) anak kita ini, dia nggak melihat, semua anak-anak di sini nggak, melihat, plus ada yang keterbelakangan mental, ada yang plus hambatan bicara ada plus hambatan bergerak dan lainnya,”ujar Marylin kepada kumparan, Senin (28/11).

Meski tampak sulit, Marilyn tetap menjalankannya tugasnya sepenuh hati. Kehadirannya, mampu menjadi ‘penerang jalan’ bagi siswa tuna ganda, untuk belajar mandiri.

Kegigihan Marilyn terlihat saat kumparan mengikuti aktivitasnya, mengajar di rumah SLB Dwituna yang berada di Jalan Sei Batang Serangan, Kota Medan.

Di sekolah berlantai 4 itu, Senyum Marilyn mereka, menyambut 4 siswa tuna ganda yang datang pukul 09.00. Marilyn lalu mengajak mereka mengikuti upacara.

Diiringi gitar, pengajar lain bernama Ricky, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila.

Di samping Marilyn, tampak siswa bernama Vinsen (12) memainkan marakash, sedangkan siswa lainnya Tasya (14), berjoget, memegang gendang mini.

“Kegiatannya pembelajaran, kita sama dengan sekolah lainnya. Hanya saja penerapannya dilakukan secara langsung,”ujarnya.

“Contohnya matematika, kita langsung membeli ke pedagang langsung, membeli bertransaksi. Pelajaran IPA misalnya, bagaimana belajar fotosintesis melalui berkebun,”ujarnya

Sekejap usai apel, Marilyn mengajak Tasya mengikuti pelajaran orientasi dan mobilitas (OM). Tema kegiatan hari itu, membeli air kelapa di Pasar Pringgan, lokasinya sekitar 2 KM dari tempat Marilyn mengajar.

Dengan hati-hati Marilyn menuntun Tasya menggunakan tongkat. Di tengah perjalanan, Tasya yang memiliki keterbelakangan mental, mengamuk. Sekuat tenaga Marilyn menggendong Tasya. Keadaan itu, mengundang perhatian banyak orang. “Tasya-tasya ayo bangun, kita beli air kelapanya,” ujar anak sulung dari 3 bersaudara ini.

Selang 10 menit, usaha Marilyn membuahkan hasil, setelah digendong, Tasya, mau melanjutkan perjalanan. “Jadi kalau orang lihatnya, kok tega banget sih ? itu bukan tega, tapi itu pengetahuan bagi Tasya, agar tidak duduk di situ,”ujarnya.

Marilyn lalu meminta Tasya memberikan uang kepada penjual es kelapa kepada jual. “Kasih uangnya sama ibu, itu, ayo Tasya ” ujar Marilyn ke Tasya. Pelajaran OM pun, selesai.

Usai membeli air kelapa, Tasya meminta diantarkan pulang degan becak dayung, Marilyn pun menurutinya. Sambil tersenyum dia menuntun Tasya naik ke becak.

Kata Marilyn marahnya, Tasya lantaran merasa tidak nyaman dengan situasi baru. Selama ini mereka, hanya tinggal di rumah.

“Tapi ketika kita mengajarkan bahwa dunia tidak seperti itu. Misalnya jadi kenak panas. ‘aduh kok panas ya, enggak enak yak, aku aku disuruh jalan ya, gitu,” ujarnya menggambarkan perasaan Tasya.

Meski butuh tenaga ekstra, Marilyn tetap konsisten mendidik para siswanya. Apa yang dilakukan Tasya sudah menjadi rutinitas yang sering dihadapinya. Sabar adalah kunci utama menghadapinya

Marilyn ingat betul berbagai pengalaman pahit kerap dirasakannya selama mengajar. Apalagi saat di awal mendidik penyandang tuna ganda ini. Para pendidik kerap di dijambak dan dicakar.

“Mereka ini tidak bisa mengerti bahasa kita, karena mereka ada keterbelakangan mental. Akhirnya mereka agresif, mereka tarik rambut kita. Kita harus potong rambut. Ada (guru) yang sampai botak rambutnya,” katanya.

Namun pengalaman pahit itu sirna, kala melihat para siswa mengalami kemajuan. Setelah belajar di tempatnya. Mulai dari bisa membaca hingga bermain handphone.

Bahkan muridnya bernama Vincen kini telah menjadi drummer dan manggung di beberapa event. “Saat ini kita bisa melihat mereka, ada yang tampil di panggung ada yang bisa menari, senang banget,” katanya.

Tasya kata Mariyln, juga menjadi siswa yang banyak kemajuannya. Saat pertama kali datang. Tasya hanya bisa sujud tanpa mau beraktivitas, hal serupa juga kerap dilakukan di rumahnya.

Sampai akhirnya dalam satu waktu. Ibunya melihat Tasya tiba-tiba, berjoget riang di rumahnya.

“Di situ mamanya bengong dan nangis, hingga akhirnya orang tua Tasya tersentuh melihat progress anaknya lalu mendirikan gedung ini dan meminjamkan untuk kita tempati,” ujarnya.

Ke depan, dia berharap para siswa didiknya, mampu hidup mandiri dan punya pekerjaan. “Sehingga walaupun tidak menghasilkan banyak uangnya, setidaknya kalau ingin beli pisang goreng atau pengin beli minuman Boba bisa beli sendiri,” ujarnya.

Menurut Marilyn dengan hidup mandiri, stigma suram penyandang disabilitas perlahan-lahan bisa diputus.

“Jangan adalagi istilah orang yang dicap nikah paketan gitu atau nikahi adiknya dapat kakaknya disabilitas. kalaupun harus ikut, jangan nyusahin harus bisa hidup mandiri,” katanya.

Marilyn yang memiliki background pendidikan psikolog, bertemu dengan Lindawati Agustin (Pengajar Bahasa inggris) Ricky Darmawan (Pemusik) Eti Saragih (Sastrawan) dan Sri Melati (dokter).

Keempatnya penyandang tunanetra. Mereka lalu bersepakat mendirikan sekolah ini, agar para penderita tuna ganda, mendapat tempat di hati masyarakat.

“Kami semua yang mencetuskan ide ini, pada tahun 2014. Sepakat kami buat sistem sekolah,” ujar Marylin.

Kala itu, mereka meminjam ruko 2,5 lantai milik orang tua Lindawati di Jalan KL Yos Sudarso No 84C, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan. Untuk mengadakan perlengkapan belajar, mereka menyisihkan uang dari profesi yang mereka tekuni.

“Akhirnya kita beli kursi meja, mereka (siswa) mau apa aja, kita fasilitasi. Itu uang kita dari mengikuti berbagai pekerjaan, contoh jadi peneliti, hingga pembawa seminar,” ujarnya.

Ingin sekolah ini lebih berkembang, berkembang, selanjutnya Marilyn dan pelajar lainnya, belajar kepada SLBG Dwituna Rawinla Jakarta.

“Kami dibimbing untuk mempelajari kurikulum fungsional untuk mengajari anak dengan tunaganda MDPI (Multi Disabilities With Visual Impairment),” katanya.

Di kurikulum MDPI ada 4 aspek yang ditekankan yakni to life tantang hidup mandiri, to love soal tentang bagaiman anak berinteraksi dengan orang lain, to play tentang bagaimana anak mengisi waktu dengan kegiatan positif serta to work mengajarkan tentang anak menopang kehidupan di masa mendatang.

Di sisi lain sebelum belajar di SLB Dwituna, para guri terlebih dahulu melakukan berbagai assessment kepada para siswanya. Tujuannya untuk menggali potensi mereka.

“Ada anak suka pukul dan lempar barang. jangan langsung sebut, nakal, harus cari tahu maksudnya. Bisa saja Ternyata ketika melempar ada bunyi irama, mungkin saja dia suka alat musik pukul. Kita berikan gendang, kita akan mencari (potensinya), pelan-pelan kita iringi dengan musik,” ujarnya.

Kemudian bersama para orang tua siswa, mereka lalu meresmikan yayasan ini secara administratif pada 10 April 2019. Dengan harapan, agar para siswa bisa memperoleh ijazah mulai pendidikan SD hingga SMA.

Selama mendidik siswanya, para pengajar tidak pernah menentukan biaya sekolah di sana. Pembayarannya, disesuaikan dengan kondisi ekonomi orang tua siswa. Siapa pun bisa bergabung.

“Kalau biaya murid, subsidi silang, jadi kalau misalnya ada yang mampu, dia bayar. Kalau tidak seberapa dia mampu saja, seiklasnya,” ujar Marilyn.

Meskipun sudah 8 tahun berdiri, Marilyn bermimpi ,Yayasan Dwituna ini bisa memiliki izin operasional. Pihaknya sudah berupaya mengurus ke Kementerian Pendidikan, namun terkendala peraturan.

“Anak-anak harus ada ijazahnya. Kami sudah berupaya cuma karena Persyaratan dari Permendikbud kita harus punya tanah dan bangunan atas nama yayasan tapi sedangkan kami baru HGB pinjam pakai,”ujarnya

Meskipun begitu, Marilyn optimis suatu saat, bisa mencapai mimpinya. Semangat para siswanya belajar jadi pelecutnya. “Kami bisa jadi guru karena kami sekolahkan, jadi kita fight di situ, demi anak-anak (diakui pendidikannya),” tandasnya.

“Kalau dibilang melihat seutuhnya nggak. Mau diobati ini uda dioperasi uda dikasih kaca mata uda dikasih obat segala macam tetap nggak bisa katanya,” ungkap.

Kondisi kian diperburuk, kala dia banyak mendengar persepsi negatif penyandang tunanetra. Dia juga banyak melihat penyandang disabilitas menjadi pengemis dan pengamen di jalanan.

Tak ayal saat guru SMA nya bertanya cita-cita Marilyn, spontan dia menjawab menjadi pengamen.

“Jadi waktu itu kebanyakan diracuni oleh, maaf ya sinetron Indonesia, ini agak-agak ya, kalau orang nggak bisa melihat kenak ajab, sehingga harus ngamen harus jadi tukang pijatlah, saya berfikirnya ke sana,” ujarnya.

Saat itu sang guru kaget lalu memotivasinya agar percaya diri dalam meningkatkan potensinya. Salah satu yang dilakukan Marylin dengan menonton film berteman kisah perjuangan penyandang disabilitas.

“Menonton film Korea ada seorang gadis tunanetra mendapat pekerjaan yang baik mandiri banget. Ada juga kayak di Jepang. Akhirnya saya mempunyai mimpi,” katanya.

“Saya ingin menjadi orang yang banyak membantu lalu bisa pergi ke Jepang saya ingin naik kereta yang super cepat,” ujarnya.

Lantaran tidak memiliki kelebihan menyanyi atau bakat lain, Marilyn mengasah kemampuan publik speaking-nya. Dia lalu banyak mengikuti berbagai lomba pidato dan menjadi juara di masa SMA.

Hadiah menang lombanya dipergunakannya untuk membantu orangtuanya, yang hanya berprofesi sebagai pengusaha rumah makan kecil.

“Jadi kalau bayar uang sekolah masih kadang-kadang ngak ada uang. Tapi saya bersyukur, kepada tuhan kadang saya dapat beasiswa lomba ini dan itu, kayak lomba bahasa Jepang,” ujarnya.

Kini selain motivator dan pengajar Marilyn juga mengisi kegiatannya di Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sumut. Di organisasi itu Merylin ditempatkan di divisi advokasi dan mediasi.

Dia banyak diundang jadi pembicara di seminar-seminar tentang penyandang disabilitas. “Kita menawarkan program training disability inklusif. Jadi kita kasih tahu bagaimana cara yang benar berinteraksi dengan orang disabilitas,” katanya.

Di sisi lain dia juga menstimulasi para mahasiswa agar lebih menghargai para penyandang disabilitas. Di negara lain sudah, banyak penyandang disabilitas dipandang layaknya manusia normal, pada umumnya,

“Pandangan masyarakat kita masih sebatas charity, ayok sumbang beras dari club ini club itu. Tidak banyak yang memberikan kesempatan untuk kamu (penyandang disabilitas) kerja di tempatnya. Masa sih kita kasih dia ikan tak pernah kasih dia kail,” ujarnya.

Stigma buruk terhadap penyandang disabilitas menurutnya harus segera disingkirkan. Pendidikan mereka harus terjamin. Agar masa depan mereka lebih baik.

“Saya masyarakat biasa, nggak punya apa apa. Tapi saya ingin kasih sesuatu untuk negara. Saya punya ilmu pengetahuan untuk anak-anak ini. Semoga kelak mereka punya masa depan lebih baik,” tutupnya.