TELUR merupakan salah satu bahan makanan yang wajib ada di rumah. Telur yang di konsumsi sehari-hari cukup banyak jenisnya. Kita bisa menjumpai berbagai jenis telur di pasar tradisional atau pun minimarket, mulai telur bebek, telur burung dan telur ayam.

Dari semua jenis telur yang ada, telur ayam merupakan jenis telur yang banyak dipilih. Hal ini tidak hanya karena harga yang terjangkau tetapi juga mudah untuk mendapatkannya.

Telur ayam memiliki bentuk oval yang tidak terlalu lonjong dengan ukuran yang pas saat digenggam.

Selain itu telur ayam merupakan salah satu jenis bahan makanan yang sangat mudah dalam pengolahannya. Kita bisa mengkonsumsinya mentah-mentah atau mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan ataupun minuman lezat dan bergizi.

Mulai dari martabak telor, beraneka macam kue atau pudding, omelet, atau minuman seperti, minuman tradisional Susu Telur Madu jahe (STMJ), mencampurnya dengan kopi dan masih banyak lagi.

Penggunaan telur yang melimpah tersebut menghasilkan limbah cangkang telur yang juga banyak. Cangkang telur merupakan limbah rumah tangga yang sangat mudah didapat karena penggunaan telur yang cukup tinggi.

Kurangnya pengetahuan dan wawasan masyarakat mengenai pemanfaatan limbah cangkang telur mengakibatkan penumpukan limbah cangkang telur serta limbah tersebut dapat mencemari lingkungan.

Sehingga, cangkang telur termasuk limbah yang tidak mendapat perhatian khusus, dan dibuang begitu saja tanpa proses daur ulang.

Padahal cangkang telur bisa diolah menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual tinggi dan ekonomis seperti, bahan kerajinan tangan, hiasan, hingga pupuk organik.

Pupuk organik dari cangkang telur sangat baik untuk berbagai jenis tanaman. Hal ini karena kandungan kalsium pada cangkang telur cukup tinggi dan dapat bermanfaat sebagai sumber nutrisi pada tanaman seperti halnya jenis pupuk yang mengandung fosfor tinggi.

Dalam penelitian Dalam penelitian Ori (2011), cangkang telur mengandung 98,2% kalsium karbonat, 0,9% magnesium, dan 0,9% fosfor. Membran cangkang terdiri dari 69,2% protein, 2,7% lemak, 1,5% air, dan 27,2% abu.

Dilihat dari kandungannya, cangkang telur dipastikan dapat digunakan sebagai pupuk tanaman dan penetral tanah yang asam.

Pengolahan limbah menjadi pupuk organik biasanya menggunakan teknologi fermentasi yang memanfaatkan mikroorganisme berupa bakteri. Dalam proses pembuatan pupuk organik dari cangkang telur cukup mudah.

Mengelola cangkar telur

Karena bahan-bahan yang dibutuhkan mudah untuk didapatkan dimana saja. Beberapa bahan yang diperlukan di antaranya ialah cangkang telur, gula jawa, EM4 serta air.

Setelah bahan yang diperlukan sudah terkumpul langkah pertama yang dilakukan yaitu, pilihlah cangkang yang masih bagus dan tidak ada noda minyak ataupun bahan lainnya.

Masukkan cangkang telur ke dalam baskom ataupun ember berisi air bersih dan diamkan selama semalam. Setelah semalam penuh, keesokan paginya cuci bersih cangkang telur hingga bersih.

Gunakan sikat atau alat penggosok untuk mempermudah proses pencucian, jangan lupa gunakan air bersih dan bilas air rendaman agar lebih bersih.

Setelah bersih, angin-anginkan cangkang telur dan jemur selama satu hari penuh agar kering. Jika musim hujan tiba, maka kita bisa menjemurnya selama dua hari untuk mendapatkan cangkang telur yang benar-benar kering.

Setelah kering, masukkan ke dalam wadah berupa baskom ataupun ember dan simpan selagi kita menyiapkan peralatan.

Setelah menyiapkan cangkang telur dan membersihkannya, langkah selanjutnya masukkan cangkang telur yang sudah kering dan bersih ke dalam blender ataupun alat penumbuk dan hancurkan hingga menyerupai tepung.

Setelah cangkang telur benar-benar menyerupai tepung, masukkan ke dalam botol plastik bekas ataupun jirigen bekas minyak. Campurkan cangkang telur dengan air ke dalam botol bekas.

Lalu, tambahkan gula jawa dan EM4 dengan perbandingan 1:1 ke dalam botol. Jangan lupa tutup botol bekas dan campurkan pupuk dengan cara mengocok botol.

Diamkan campuran pupuk selama 10-14 hari untuk memaksimalkan proses fermentasi. Bila perlu, sesekali buka tutup botol bekas supaya gas yang ditimbulkan selama proses fermentasi dapat keluar.

Secara langsung kita hanya perlu menaburkannya begitu saja pada media tanam tanaman secara rata atau mencampurkannya dengan tanah saat menanam tanaman.

Beberapa manfaat pupuk organik untuk tanaman yaitu sebagai pengganti kapur dolomit. Fungsi dari pemberian kapur dolomit untuk menurunkan tingkat keasaman tanah menuju pH netral.

Tanah dengan pH yang asam dapat mempengaruhi ketersediaan unsur hara dalam tanah. Tanah yang asam dapat mengikat unsur hara seperti halnya unsur Fosfor (P) yang diikat kuat oleh aluminium (Al) dan Besi (Fe) sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman.

Penambahan kapur dolomit dapat menaikan pH tanah karena kapur dolomit mengandung unsur Kalsium (Ca) sehingga terjadi reaksi kimia yang merupakan pertukaran ion-ion di dalam koloid tanah dan mampu meningkatkan pH tanah.

Karena cangkang telur mengandung sekitar 98% kalsium, maka dapat digunakan sebagai pengganti kapur dolomit. Akan tetapi, untuk penggunaan lahan yang luas, kita harus mengumpulkan sekitar 2 ton/ha cangkang telur.

Penggunaan cangkang telur sebagai pengganti kapur dolomit akan efektif pada tanaman dengan lahan sedikit atau media tanam pada polybag.

Manfaat lain pupuk organik dari cangkang telur yaitu mencegah pembusukan pada tanaman. Pemberian pupuk organik cangkang telur dapat mencegah pembusukan pada ujung bunga dari tanaman tomat, paprika dan terung.

Hal ini disebabkan kandungan kalsium yang tinggi pada cangkang telur yang dapat diserap oleh tanaman dan membuatnya tidak mudah busuk. Untuk memperoleh hasil yang diinginkan pemberian pupuk organic dilakukan setiap dua minggu sekali.

Pupuk organik cangkang telur bisa digunakan untuk menguatkan tanaman. Peranan penting unsur kalsium bagi tanaman yaitu menguatkan dan menebalkan dinding sel tanaman.

Apabila dinding sel tanaman kuat, maka tanaman akan lebih tahan terhadap cekaman cuaca dan gangguan hama penyakit tanaman.

Sehingga pupuk organik cangkang telur cocok digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menguatkan tanamana karena mengandung kalsium yang tinggi.

Penulis: Anggi Ritonga