SIANTAR - Azan Rahmanto alias Bang Hafis (36) warga Jalan Rebung Kelurahan Tomuan Siantar Timur dituntut hukuman 5,6 tahun penjara denda Rp 1,5 milyar, jika denda tidak dibayar diganti hukuman penjara selama 6 bulan.

Demikian surat tuntutan jaksa Ester Lauren yang dibacakan disidang disidang Pengadilan Negeri Siantar, Senin (28/11/2022).

Terdakwa Azan dipersalahkan jaksa melanggar pasal 112 (1) UU RI No 35/2009 tentang narkotika Jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP.

"Turut serta melakukan tindak pidana narkotika," kata jaksa.

Terdakwa Azan ditangkap Satres Narkoba Polresta Siantar pada Senin, 17 Januari 2022 di depan GOR jalan Merdeka Siantar. Polisi Syamuel Simorangkir, Alwin Sihombing dan Riki Sanjaya yang telah mendapatkan informasi langsung menuju TKP.

Azan diamankan bersama Lontas Sibarani (miliki surat sakit jiwa) dengan barang bukti 2 paket shabu dengan berat kotor 0,53 gram.

Sabu tersebut dibeli terdakwa Azan setelah ditelepon Lontas yang mengajak untuk menggunakan sabu bersama sama.

Bermula terdakwa Azan ditelepon oleh saksi Lonras Sibarani dan mengatakan, ”Bang , ayok make kita, tetapi abang belikan dulu buahnya (shabu) pakai duit abang, 2 paket aja nanti kita bagi dua.” Terdakwa mengatakan ”Iya udah nanti aku belikan bahannya (shabu)”.

Lalu saksi Lontas Sibarani mengatakan agar menemuinya di depan GOR Pematang Siantar. Selanjutnya sekira pukul 19.00 Wib terdakwa berangkat ke Jalan Narumonda Bawah dan menemui laki laki yang bernama Beny (DPO) untuk membeli 2 paket shabu seharga Rp.200.000.

Setelah terdakwa terima, dia langsung memasukannya ke dalam kotak rokok surya dan menyimpannya di dalam kantong celana terdakwa sebelah kiri bagian depan.

Selanjutnya terdakwa berangkat ke GOR dan sampai di depan GOR melihat Lontas Sibarani sedang duduk menunggu.

Kemudian terdakwa meletakan 1 buah kotak rokok surya yang berisi 2 paket shabu shabu itu di pagar semen GOR. Saat terdakwa mempersiapkan alat untuk menghisap shabu shabu dan secara tiba tiba datang petugas dan mengamankannya.

Terdakwa dalam persidangan didampingi pengacara Morris Nadapdap, memohon kepada hakim agar dihukum seringan-ringannya, karena menyesali perbuatannya.

"Saya mohon agar hukuman saya diringankan, saya menyesal," kata terdakwa saat menyampaikan permohonannya secara lisan.

Untuk putusan, sidang dipimpin hakim Irwansyah P Sitorus dinyatakan ditunda hingga Senin (5/12/2022) mendatang.