JAKARTA, HETANEWS.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim menjanjikan 600 ribu guru honorer akan menjadi ASN PPPK (Aparatur Sipil Negara berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) hingga akhir tahun 2022.

Hal ini merupakan bagian dari target program Satu Juta Guru PPPK Kemendikbudristek. Nadiem mengatakan, melalui program tersebut hingga saat ini ratusan ribu guru honorer telah diangkat menjadi PPPK.

"Akhirnya mereka mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik. Akhir tahun ini total 600 ribu guru honorer akan menjadi PPPK dan semua ini terjadi berkat gotong royong kita semua," kata Nadiem di acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2022 (HGN 2022) di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 26 November 2022.

Sebelumnya, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti kesejahteraan guru di HGN 2022. Dalam pandangan P2G belum ada perubahan nasib para guru, terutama guru honorer.

"Dalam peringatan Hari Guru Nasional 2022, nasib para guru khususnya guru honorer belum ada perubahan menuju perbaikan," kata Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim dalam keterangannya, kepada Medcom.id, Kamis 24 November 2022.

Adapun seleksi guru PPPK yang semula diharapkan menjadi solusi atas minimnya kesejahteraan guru, ternyata makin terlihat karut-marut. Janji yang pernah diungkapkan Mendikbudristek dan Menpan RB untuk mengangkat satu juta guru honorer menjadi ASN PPPK ternyata ghosting belaka.

"Pada 2021 hanya 293 ribu yang dapat formasi PPPK, padahal kita butuhnya 1 juta guru," jelasnya.

Perkembangan Merdeka Belajar

Dalam kesempatan itu, Nadiem juga menyampaikan perkembangan sejumlah program Merdeka Belajar, seperti Kurikulum Merdeka. Nadiem mengatakan, Kurikulum Merdeka telah memberikan keleluasaan, membuat pembelajaran di sekolah lebih menyenangkan.

"Materi dirampingkan sehingga guru punya ruang mendalami setiap mapel (mata pelajaran). Banyak enggak yang merasa kurikulum kita (selama ini) kebanyakan materi," tanya Nadiem kepada audiens guru yang hadir dalam acara tersebut.

Bukan hanya itu, kata Nadiem, ini pertama kalinya pemerintah memberikan kebebasan untuk memajukan dan memundurkan kecepatan pembelajaran di kelas sesuai kebutuhan dan kompetensi murid-muridnya.

"Kalau siswa sedikit tertinggal, boleh mundur beberapa tahun. Jadwalnya lebih fleksibel. Dulu diatur per minggu, sekarang per tahun. Agar tidak ada anak ketinggalan, itu bisa dilakukan," ujar Nadiem.

Kemudian ia juga menyinggung program Guru Penggerak yang disiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan.

"Sudah tahu ada berapa? (Saat ini) sudah ada 50 ribu Guru Penggerak. 50 ribu itu pasukan kita di lapangan yang melakukan perubahan," imbuhnya.

Nadiem menyebut Guru Penggerak sebagai guru yang "nakal". "Tahu kenapa? Karena mereka akan melakukan apapun demi kebaikan murid, itu yang membedakan guru yang baik dan tidak baik, yang memprioritaskan kebutuhan murid. Saya mengajak kadis (kepala dinas) mengangkat guru penggerak sebagai kepsek dan pengawas sesegera mungkin," tegasnya.

Begitu juga program Platform Merdeka Mengajar. Nadiem menyebut hingga saat ini sudah 1,6 juta guru yang menggunakan platform ini.

"Mereka saling terkoneksi, berbagi, puluhan ribu guru mengunduh dan mengunggah materi. Guru itu belajar terbaik dari guru lain. Ini jauh lebih efektif," tutupnya.

Sumber: medcom.id