HETANEWS.com - Kemerosotan tajam dalam hubungan China-Australia sejak 2015 tidak hanya menyebabkan regresi dalam kerja sama dalam memajukan tata kelola global, mengatasi tantangan seperti perubahan iklim, mendorong integrasi ekonomi regional, dan menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, tetapi juga mengguncang memenangkan dasar saling percaya antara kedua negara, dan telah secara serius merusak kerja sama ekonomi dan perdagangan yang saling menguntungkan serta kesejahteraan kedua bangsa.

Dalam keadaan ekonomi di seluruh dunia, terutama di negara-negara Barat, menghadapi resesi yang parah, dan harga komoditas di banyak negara termasuk Australia meroket, pemerintah Australia yang baru telah menyatakan kesediaannya untuk meningkatkan hubungan dengan China.

Perdana Menteri Anthony Albanese, menjelang Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC baru-baru ini, menegaskan kembali dukungan untuk kebijakan "satu China". Hal ini dapat dilihat sebagai salah satu langkah yang bertujuan untuk mendekatkan hubungan China-Australia.

Mengingat manuver Australia melawan China di masa lalu, terutama sejak merebaknya pandemi COVID-19, masyarakat China kurang percaya dengan ketulusan Canberra untuk meningkatkan hubungan bilateral.

Mereka khawatir langkah itu hanya dilakukan sementara oleh pemerintah dan politisi Australia di tengah kemerosotan ekonomi Barat dan Australia.

Mereka bahkan khawatir bahwa kebencian terus-menerus dari politisi Australia akan membuat hubungan bilateral menjadi buntu, sehingga sulit untuk mengatur ulang hubungan tersebut. Meski meragukan ketulusan Canberra, publik China tetap menyambut langkah Australia dengan hati-hati.

Tidak ada masalah sejarah atau konflik kepentingan inti antara kedua negara. Sebaliknya, keduanya memiliki tuntutan dan pemikiran yang sama dalam isu-isu besar seperti pembangunan ekonomi dan tata kelola global.

Hubungan tersebut berkembang di tahun-tahun awal abad baru di bawah perhatian penuh dedikasi dari para pemimpin politik visioner dan orang-orang di kedua sisi.

Pada tahun 2014, kedua negara meningkatkan hubungan mereka menjadi kemitraan strategis komprehensif. Perjanjian Perdagangan Bebas China-Australia berhasil diselesaikan dengan upaya bersama dari kedua belah pihak.

Hubungan strategis dan politik yang sangat baik telah meletakkan dasar bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Asia-Pasifik dan berkembang pesatnya kerjasama ekonomi dan perdagangan yang saling menguntungkan antara kedua negara.

Mantan perdana menteri Singapura Lee Kuan Yew pernah memperingatkan bahwa Australia berisiko menjadi "sampah kulit putih yang malang di Asia".

Menurutnya, Australia kaya sumber daya, menjadikannya masyarakat yang santai, dengan konsumsi tinggi, tabungan rendah, daya saing rendah, defisit neraca berjalan tinggi, dan utang tinggi.

Perkembangan ekonomi China yang pesat telah membantu Australia menghindari menjadi "sampah putih miskin di Asia" dan mempertahankan kemakmuran ekonominya selama beberapa dekade terakhir. Tidak heran jika perdana menteri Australia berturut-turut sejak akhir Perang Dingin hingga 2015 menghargai perkembangan yang sehat dari hubungan China-Australia.

Sayangnya, sejak akhir 2015, para pemimpin Australia telah menyimpang dari niat semula dan bersikeras mengikuti AS untuk menahan China. Akibatnya, hubungan bilateral memburuk tajam, mengakibatkan penurunan tajam dalam kerja sama ekonomi dan perdagangan yang saling menguntungkan.

Pemerintah sebelumnya telah berulang kali memblokir investasi China dengan alasan keamanan nasional. Perusahaan China mengeluarkan $778 juta di Australia pada tahun 2021, dibandingkan dengan $2,5 miliar pada tahun 2020.

Canberra juga mengikuti Barat dalam melarang Huawei dari pembangunan jaringan 5G dan bahkan secara tidak masuk akal menuduh siswa China sebagai "mata-mata", yang menyebabkan jumlah siswa China pergi ke Australia. Australia anjlok ke titik terendah sepanjang masa.

Adanya perbedaan pandangan bahkan perselisihan antar negara merupakan fenomena yang wajar dalam hubungan internasional dan tidak boleh dijadikan alasan untuk mempengaruhi kerjasama yang saling menguntungkan, apalagi dijadikan alat bagi politisi tertentu untuk mencari kepentingannya sendiri hingga merugikan pihak yang baik. -menjadi sebagian besar orang.

Faktor fundamental naik turunnya hubungan China-Australia pada masa pasca Perang Dingin bukan terletak pada “perselisihan yang dangkal” antara kedua negara, tetapi pada apakah Australia bersungguh-sungguh menjaga kestabilan perkembangan hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.

Langkah darurat yang kurang tulus dapat membawa kepentingan jangka pendek, tetapi itu akan sangat merusak kepercayaan yang telah diraih dengan susah payah antara kedua negara, terutama antara kedua bangsa, dan sangat merugikan perkembangan hubungan kedua negara di masa depan.

Rakyat Tiongkok dengan tulus berharap kesediaan Australia untuk meningkatkan hubungan Tiongkok-Australia kali ini tulus, dan mereka berharap pemerintah Australia akan mengambil sejarah sebagai cermin dan menghargai kesetaraan yang telah diraih dengan susah payah dan kerja sama yang saling menguntungkan sehingga bermanfaat bagi kedua bangsa.

Sumber: globaltimes.cn