JAKARTA, HETANEWS.com - Para nasabah Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) harus mulai mengencangkan ikat pinggang. Cicilan bulanan yang harus dibayarkan bakal kian membengkak seiring dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Dalam empat bulan terakhir sejak Agustus 2022, BI telah mengerek bunga acuan sebesar 1,75% ke level 5,25%. Transmisi BI Rate terhadap bunga kredit biasanya paling cepat dilakukan terhadap segmen kredit konsumsi, terutama KPR.

Sejumlah nasabah KPR sudah mulai mengalami kenaikan. Havid, pegawai swasta di Jakarta mengaku cicilan KPRnya di Bank BNI sudah naik dari 3,7 juta jadi 4 juta sejak Oktober 2022 lalu.

Heri, pegawai swasta di Jakarta pemilik KPR di Bank CIMB Niaga juga mengalami hal serupa. Ia baru saja mendapatkan email penyesuaian bunga KPR dari 8,27% jadi 9,35% efektif angsuran baru per 28 November 2022. Sehingga cicilannya naik 130.000 dari Rp 2.103.322 jadi Rp 2,235.111 per bulan.

Manajemen CIMB Niaga dalam suratnya bilang, pemberitahuan penyesuaian bunga ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan perjanjian kredit dengan kondisi, syarat dan ketentuan lain dari perjanjian kredit tetap berlaku.

Heri heran kenapa bunga KPRnya sangat cepat naik saat bunga acuan naik. "Tapi ketika suku bunga acuan turun, bunga KPR saya sudah sempat turun," kata Heri pada Kontan.co.id, Jumat (25/11).

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyebutkan akan berhati-hati dalam menaikkan suku bunga KPR. Welly Yandoko, EVP Consumer Loan BCA, bilang penentuan suku bunga tidak hanya berdasarkan suku bunga acuan saja tetapi harus mempertimbangkan faktor eksternal dan internal perseroan.

"Kami berkomitmen menawarkan suku bunga yang dapat diterima oleh masyarakat luas agar bisa membantu masyarakat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk memperoleh rumah." kata pada Kontan.co.id, Jumat (25/11). Untuk penyaluran KPR baru BCA masih terus memberikan program-program promo.

Direktur Consumer BTN Hirwandi Gafar menyatakan, kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada kenaikan suku bunga dana, sehingga juga berdampak pada suku bunga kredit, termasuk KPR "Walaupun begitu, penyesuaian suku bunga kredit akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga dana dan juga kemampuan nasabah," ujarnya.

Namun, dampaknya hanya pada KPR non subsidi. Haru Koesmahargyo, Direktur Utama BTN, menyebutkan bunga KPR subsidi di BTN tidak akan berubah meskipun suku bunga BI naik. Bunga KPR subsidi yang berlaku tetap 5% sepanjang tenor.

Namun, ia tidak menyebutkan berapa bunga floating untuk KPR non subsidi BTN saat ini. Sedangkan untuk penyaluran KPR baru masih tetap diberikan program promo mulai 2,47% fixed 1 tahun.

Sementara Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto mengklaim saat ini BRI belum menaikkan suku bunga KPR. Menurut dia, BRI terus melakukan review suku bunga secara berkala dan terus membuka ruang untuk melakukan penyesuaian suku bunga.

Namun kata Aestika, secara teknis, penyesuaian suku bunga kredit tidak bisa dilakukan serta merta begitu suku bunga acuan berubah. Hal tersebut karena berbagai faktor, misalnya faktor likuiditas serta struktur simpanan dan pinjaman yang berbeda beda antar masing-masing bank.

Adapun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang telah menaikkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) rata-rata mencapai 25-50 basis poin. Tetapi kenaikan itu, kata Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha, belum berlaku untuk seluruh segmen.

"Kami tentu telah melihat kondisi pasar dan mengantisipasi dengan melakukan penyesuaian suku bunga KPR, tetapi kenaikannya belum berlaku bagi semua segmen. Kami masih ingin memberikan pilihan suku bunga yang kompetitif bagi nasabah. Kenaikan ini juga dilakukan secara terbatas dan sangat selektif hanya untuk beberapa segmen saja," jelas Rudi.

Optimis KPR Akan Tumbuh Baik Tahun 2023

Terlepas dari kenaikan suku bunga acuan, perbankan masih optimis KPR akan tetap tumbuh baik tahun depan. Bank BTN memproyeksikan KPR bisa tumbuh sekitar 10%. Haru mengatakan, prospek KPR masih besar mengingat backlog perumahan di Tanah Air masih sangat besar yakni 12,7 juta per 2021.

“Tahun ini, kami targetkan pertumbuhan KPR 10% untuk subsidi dan non subsidi tumbuh 10%,” kata Haru.

Sementara optimistis penyaluran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) tahun 2023 tetap akan tumbuh meskipun terjadi ketidakpastian ekonomi dan kenaikan suku bunga acuan.

Welly Yandoko, EVP Consumer Loan BCA, mengatakan optimisme itu didorong karena potensi bisnisnya besar di tengah jumlah backlog kebutuhan perumahan masyarakat Indonesia yang masih besar. Sementara pembiayaan KPR masih menjadi pilihan utama dalam membeli rumah saat ini.

Selain itu, prospek pertumbuhan itu juga akan didorong oleh adanya dukungan kebijakan makro prudensial dari Bank Indonesia untuk sektor properti serta kondisi internal BCA yang bagus.

"Jadi KPR BCA masih optimis prospek KPR tahun 2023 masih akan bagus. Kami berharap, pencairan KPR baru tahun depan akan lebih baik, paling tidak sama dengan tahun 2022." kata Welly.

Meskipun berharap tetap dapat tumbuh positif seperti tahun-tahun sebelumnya, Welly tidak merinci detail angka pertumbuhan KPR yang dibidik BCA tahun depan.

Hingga kuartal III-2022, BCA telah membukukan portofolio KPR sebesar Rp 105 triliun. Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, BCA telah berhasil membukukan booking baru KPR sebesar Rp 27,9 triliun.

BCA merupakan pemimpin pangsa pasar KPR terbesar kedua. Portofolio KPR bank ini telah berkontribusi sekitar 15,35% terhadap total kredit perseroan per September 2022.

Dari penyaluran KPR baru itu sebesar Rp 27,9 triliun itu, sebesar Rp 10,5 triliun pencairan KPR tersebut dilakukan sepanjang bulan Juli-September. Lalu sebesar Rp 10,2 triliun didapat pada kuartal II -2022 dan Rp 7,2 triliun pada kuartal I-2022.

Booking baru KPR selama sembilan bulan pertama tahun ini meningkat pesat hingga 21,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2021 yang hanya tercatat Rp 22,9 triliun. Walaupun pencairan KPR baru melesat, namun di saat yang sama bank ini juga mencatatkan run-off atau pembayaran cicilan maupun pelunasan KPR juga cukup besar.

Sepanjang Januari-September 2022, BCA mencatatkan run-off KPR sebesar Rp 20,3 triliun. Alhasil, portofolio KPR perseroan hanya tumbuh 10,4% secara tahunan menjadi Rp 105 triliun.

Sumber: kontan.co.id