HETANEWS.com - Tak seperti gelaran-gelaran sebelumnya, Piala Dunia 2022 memang berbeda. Bukan tentang bagaimana Qatar memperoleh keistimewaan dari FIFA untuk menyelenggarakan hajatan sepakbola terbesar, melainkan absennya pemain-pemain terbaik dunia.

Mereka tidak ikut bukan karena protes terhadap rezim Al Thani yang tidak memanusiakan para pekerja migran ataupun represi terhadap kaum LGBTQ+, tetapi karena cedera.

Sehari sebelum Piala Dunia 2022 dimulai, Karim Banzema mundur dari Timnas Prancis karena cedera yang menimpa paha kirinya. Hal serupa menimpa Sadio Mane, ujung tombak dan andalan Timnas Senegal.

Mundurnya jawara dan runner-up Ballon d'Or itu didahului dengan absennya Ben Chilwell, Reece James, Kyle Walker, Kalvin Phillips, N'Golo Kante, Paul Pogba, Wesley Fofana, Diogo Jota, Pedro Neto, dan Georginio Wijnaldum atas alasan serupa.

Menurut data yang dipaparkan Jacob Whitehead untuk The Athletic, terdapat 42 bintang sepakbola dunia dari 13 timnas yang dijagokan menjuarai Piala Dunia 2022 tak bisa berangkat ke Qatar karena cedera, dengan kerusakan pada jaringan lunak dan otot sebagai pangkal utamanya.

Dalam catatan Ben Dinnery, pendiri Premier Injuries yang memetakan cedera pemain-pemain Liga Primer Inggris, terdapat 39 pemain Liga Primer yang tak bisa bertanding dalam Piala Dunia Qatar akibat cedera, meningkat dibandingkan Piala Dunia 2018 yang berjumlah 35 pemain.

Ibarat tak ada asap jika tak ada api, rentetan cedera yang menimpa para bintang sepakbola dunia ini juga ada penyebabnya. Pertama, kompetisi sepakbola khususnya di Eropa, kian ketat dan jadwalnya padat. Kedua, Piala Dunia 2022 digelar pada akhir tahun (November-Desember), bukan di pertengahan tahun (Juni-Juli) sebagaimana gelaran-gelaan sebelumnya.

Untuk poin pertama, sebagaimana dipaparkan Kieran Howle dalam "Recovery Profile Following Single and Multiple Matches per Week in Profesional Football" (European Journal of Sport Science, 2019), lumrah bagi para pemain di liga-liga Eropa bertanding lebih dari satu pertandingan per pekan untuk kompetisi domestik maupun regional.

Sebagai contoh, para pemain asal Liga Primer Inggris harus berlaga bukan cuma untuk Liga Primer, tetapi juga FA Cup, Carabao Cup, Liga Champion atau Liga Eropa, serta ditambah pertandingan Timnas. Akibatnya, pemain memiliki waktu istirahat yang terlalu sedikit, yakni kurang dari tiga hari. Padahal, tulis Howle, "jeda 3 hari atau 72 jam merupakan waktu yang dibutuhkan pemain sepakbola untuk memulihkan kondisi mereka."

Jika pemain tak bisa beristirahat setidaknya selama 72 jam, imbuh Howle, "total cedera tanpa kontak fisik meningkat, pemain yang harus bertanding dalam kerangka 2 vs 1 pertandingan per pekan memiliki kemungkinan mengalami cedera sebanyak 25 vs 4,1 per 1.000 jam pertandingan yang dilalui."

Tingginya kemungkinan cedera pada pemain yang melakukan multi-pertandingan terjadi karena tingkat testoteron dan Saliva IgA yang menurun, berada jauh di bawah ambang normal bagi manusia. Suatu temuan yang ironisnya disadari pemangku kebijakan sepakbola di Eropa.

Dalam Perspectives in Football Medicine (2018), Markus Walden menyebut bahwa Union of European Football Associations (UEFA) membentuk UEFA Elite Club Injury Study (ECIS) sejak 1999 untuk memonitor pengaruh multi-pertandingan bagi pesepakbola.

Hasilnya, hingga studi tersebut dipublikasikan, UEFA menemukan 14.000 pemain dari 51 klub yang berasal dari 18 negara Eropa mengalami cedera akibat masifnya jumlah pertandingan yang harus mereka lalui. Rata-rata, klaim UEFA, "klub profesional yang terdiri dari 25 pemain akan menghadapi sekitar 50 kali cedera setiap musimnya."

Anehnya, UEFA tak mengutip ketiadaan jarak selama 72 jam atau 3 hari sebagai biang kerok cedera, tetapi, tulis laporan tersebut, "rentetan cedera yang dialami pemain-pemain ini terjadi karena mereka memiliki waktu istirahat kurang dari 5 hari."

Infografik Cedera Piala Dunia. tirto.id/Ecun

Artinya, jika jeda antar pertandingan selama 5 hari saja sudah sangat memberatkan, apalagi hanya 3 hari.

Masifnya jumlah cedera tersebut didukung oleh waktu latihan antar musim (pre-season) yang kian sebentar dapat dilakukan klub-klub sepakbola Eropa gara-gara usaha-usaha klub meraih pendapatan dalam kerangka "promotional travels".

Padahal, sebagaimana dipaparkan Jan Ekstrand dalam "Are Elite Soccer Teams Preseason TRaining Session Associated with Fewer In-Season Injuries?" (The American Journal of Sports Medicine, 2020), latihan pre-season merupakan kunci bagi pemain untuk memulihkan otot-otot dan stamina mereka dalam mengarungi musim berikutnya.

Setiap 10 kali latihan pre-season dilakukan, terjadi penurunan kemungkinan cedera yang dialami pemain kala musim berlangsung hingga 0,20 cedera per 1.000 jam pertandingan.

Poin kedua, yakni waktu penyelenggaraan Piala Dunia 2022, juga dianggap menjadi penyebab rentetan cedera. Dalam dunia sepakbola modern, November diyakini sebagai "cirital zone" waktu akumulatif saat pemain biasanya mengalami cidera.

Tidak ada jurnal saintifik yang mengungkap mengapa November dianggap sebagai "bulan sial" bagi sepakbola. Namun Chris Barnes, ilmuwan olahraga yang sempat bekerja untuk Middlesbrough, West Bromwich Albion, dan Manchaster United, mengungkapkan hal ini.

Ia menyebut bahwa salah satu tim yang sempat memperkerjakannya, yakni Manchaster United, "Selalu berdiskusi tentang kerentanan pertandingan-pertandingan yang dilakukan dalam periode Natal. Kemungkinan ini bukan tentang jumlah pertandingan yang dilakukan, tetapi tentang psikologi pemain menghadapi Natal. Saat masyarakat umumnya berlibur, pemain justru sebaliknya."

Sumber: tirto.id