SIANTAR- Sejumlah kalangan Aktivis, Rohaniawan, Petani, Mahasiswa dan Praktisi Hukum mendeklarasikan Front Gerilyawan Siantar (FGS) di Kampus STAI Samora, Kamis (24/11/2022).

FGS dideklarasikan sebagai respon atas kesewenang wenangan Aparat terhadap para petani di wilayah Gurilla dan Bah Sorma selama okupasi lahan oleh PTPN III Unit Kebun Bangun.

Selain tindakan represi aparat, pemerintah dalam hal ini Pemko Pematang Siantar dan DPRD Pematang Siantar dinilai lepas tangan selama konflik antara petani dan pihak kebun bergulir.

Adapun kelompok yang tergabung dalam FGS antara lain: Forum Tani Sejahtera Indonesia (Futasi), BBH STAI Samora, LMND, Poros Kota, Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Nommensen, LBH Pematang Siantar, Gerak Nusantara Sumut dan Gerakan Masyarakat Melawan (Gerilyawan).

Koordinator FGS Dofasep Hutahaean menuturkan, sampai saat ini masyarakat petani yang menduduki lahan masih mengalami represi dan intimidasi dari aparat yang diturunkan selama okupasi.

"Sampai saat ini masyarakat petani di Gurilla masih mengalami intimidasi," ujar Aktivis LMND ini.

Parluhutan Banjarnahor dari Divisi Hukum FGS menuturkan, pihaknya segera menempuh langkah hukum terkait legitimasi kepemilikan lahan PTPN III di wilayah Kelurahan Gurilla dan Bah Sorma Kota Pematang Siantar.

Selain itu pihaknya juga menyoroti kasus dugaan kekerasan maupun tindak pidana yang dilakukan aparat keamanan selama okupasi lahan berlangsung.

"Kita akan membuat laporan terhadap oknum Tentara dan Polisi yang melakukan pengawalan selama okupasi, yang kita anggap melanggar hukum," kata pengacara Publik LBH Pematang Siantar ini.

Divisi Hukum, kata Banjarnahor, juga akan menyurati Wali Kota Pematang Siantar dan DPRD karena dianggap tak peduli dengan kondisi masyarakat petani selama bergulirnya okupasi lahan yang dilakukan pihak PTPN III.

"Artinya, dalam waktu dekat kita akan mengambil langkah langkah hukum terhadap PTPN III," ucapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Futasi Tiomerli Sitinjak menyambut baik dukungan dari sejumlah elemen masyarakat terhadap perjuangan petani di Gurilla.

Tiomerli menuturkan, sekitar 80 KK dan ratusan anggota Futasi menolak pindah dan terus memperjuangkan tempat tinggal serta lahan pertanian mereka dari upaya okupasi PTPN III.

Penulis: Hendra Ginting