JAKARTA, HETANEWS.com - Badan Pangan Nasional, Perum Bulog, dan Kementerian Pertanian (Kementan) adu data stok beras nasional di depan Komisi IV DPR RI. Dalam kesempatan itu, ketiganya memaparkan data yang berbeda.

Badan Pangan Nasional mengungkap data yang sama hasil dari informasi Perum Bulog. Sementara Kementan, berdasarkan informasi data yang mereka terima. Meskipun sebenarnya, data yang mereka ambil sama-sama dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Perdebatan diawali Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi yang mengoreksi data yang disampaikan Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi.

Suwandi mengatakan bahwa data yang disampaikan Badan Pangan mengenai konsumsi beras yang disampaikan Arief berbeda dengan BPS.

Dalam paparan Suwandi, pada 2019 sebanyak 31,31 juta ton, 2020 31,50 juta ton, 2022 sebanyak 31,36 juta ton, dan pada 2022 jumlahnya sebanyak 32,07 juta ton.

Ini merupakan data produksi beras 2019 hingga 2022 dari BPS yang dipaparkan Suwandi. Menurut Suwandi, data yang disampaikan Badan Pangan berbeda dari yang dirilis BPS.

"Berikutnya, saya koreksi pak Kepala Bapanas untuk konsumsi 2022 dicek, itu lebih tinggi rilis BPS yaitu 30,2 juta ton angka BPS konsumsi kalau produksi, dikurangi konsumsi surplusnya akan beda. Kepala Bapanas ini 32,02 juta ton ini data BPS resmi 17 Oktober. Data kepala Bapanas tadi 39 juta ton," katanya di rapat dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (23/11/2022).

Suwandi menegaskan bahwa stok beras untuk pemenuhan di Bulog tersedia. Hal ini menyangkal keterangan dari keterangan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso alias Buwas yang mengatakan stok beras tidak ada di lapangan. Hanya saja menurutnya di lapangan petani enggan dibeli Bulog karena harga rendah.

"Kondisi di lapangan terima kasih dirut Bulog menyampaikan membeli Rp 10.200 tetapi di lapangan ada spek-spek. Kami juga turun di lapangan yang sulit di Jawa Barat, Yogya, Jawa Timur. Berbeda memang di lapangan fenomena barang ada di penggilingan di swasta itu masalah lapangan. Barang ada di penggilingan, ada di rumah tangga, ada di pedagang dan sebarannya sesuai data-data," ujarnya.

Kemudian Ketua Komisi IV DPR RI Sudin mempertanyakan kepada Kementan saat ini stok beras yang disebutkan oleh Dirjen Tanam Pangan ada di mana. Ia juga mempertanyakan metode apa yang digunakan untuk menghitung dari kondisi stok di rumah tangga hingga pedagang.

"Pertanyaan berasnya ada di mana? Pakai metode apa? Berapa juta rumah tangga, stok di dalam rumah tangga sekian ratus ribu ton, sekian juga, sample yang mana saya mau belanja deh," ujar Sudin

"Kemudian di pedagang masih ok masih bisa dilihat, di penggilingan, pengilangan yang mana? Kasih kami data yang mana. Karena ini berita beda-beda nih. Ini kan beda a bilang gini b bilang gini," lanjut Sudin.

Kemudian, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengatakan data yang disampaikan oleh Suwandi merupakan dari Januari hingga September. Sementara data yang disampaikannya dari Januari hingga Oktober.

"Ya data saya sama bapak beda. Data Pak Suwandi itu pakai data sebelumnya. Perhitungan Januari September itu 1,6 juta, 1,4 juta itu lama. Pak Wandi yang kanan ini yang data BPS baru," ujarnya.

Kemudian, Suwandi memotong penjelasan dari Arief. "Izin data terbarunya kapan pak? Coba.." sambil tertawa.

Arief mengatakan bahwa data yang disampaikan ada tanggal terbarunya. Karena merasa dipotong penjelasannya Arief menegaskan agar Suwandi diam.

"Saya dulu dong saya tadi Pak Wandi ngomong saya nggak ngomong. Giliran saya ngomong dong," ungkapnya.

Sumber: detik.com