HETANEWS.com - Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso alias Buwas menegaskan bahwa sulitnya Bulog mendapatkan pasokan beras disebabkan karena ketersediaan beras nasional yang kini sulit.

Adapun ingga Desember 2022, Bulog ditargetkan dapat mengamankan pasokan 1,2 juta ton untuk stabilisasi pangan nasional. Padahal, harga pembelian beras oleh Bulog telah mengikuti harga pasar.

Hanya saja, Buwas mengatakan pasokan di lapangan kali ini sulit didapat. "Sampai hari ini yang target kita di dalam negeri (bisa serap) 550 ribu ton, itu tidak terealisasi bahkan kurang dari 100 ribu ton. Ini sudah tak ada panen di Sulawesi Selatan, di Lampung ada gagal panen, di NTB, Jawa Timur, Jawa Barat ini sebagian juga sudah selesai panennya," kawa Buwas dalam RDP Komisi IV DPR, Rabu (23/11).

Buwas mengatakan, pihaknya telah terjun langsung ke lapangan untuk mencari pasokan beras. Dari 500 ton beras yang ditargetkan dapat diserap, hanya ada kontrak sebesar 138.110, sementara realisasinya hingga 22 November hanya 3.473 ton saja.

Tak Sesuai Janji Kementan

Buwas mengatakan, pihaknya telah mengadakan ratas untuk membahas persoalan tersebut. Waktu itu, kata Buwas, Kementerian Pertanian menjanjikan ada pasokan surplus beras 6 juta ton dan sebanyak 1 juta ton bisa dibeli Bulog dengan harga komersil.

"Sampai hari ini kami membeli yang harga Rp 10.200. Ini kita beli. Bukannya kita tidak mau tapi jumlahnya memang tak tercapai. Jumlahnya tidak ada" tegasnya.

Pada waktu ratas itu, Buwas mengatakan pihak Kementan menjanjikan dalam kurun waktu tak sampai seminggu akan ada 500 ribu ton beras yang bisa diserap Bulog.

"Karena janji itu tidak terealisasi dan saya sudah mencoba pendekatan kepada pengusaha beras besar, mereka juga tidak bersedia memberikan dengan harga komersial karena dia harus jaga supply-nya untuk pasar mereka," pungkasnya.

Sumber: kumparan.com