HETANEWS.com - Gempa bumi berkekuatan 5,6 Magnitudo di Cianjur yang terjadi pada Senin (21/11) siang menyebabkan ribuan rumah di sejumlah daerah di dekat pusat gempa mengalami kerusakan parah.

Berdasarkan data terbaru yang diumumkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, hingga Senin (21/11) malam, sekitar 2.345 unit rumah warga di Cianjur yang mengalami kerusakan. Sejumlah ruas jalan nasional ataupun provinsi juga sempat terisolir.

Gempa juga menyebabkan 162 orang meninggal dunia akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Selain itu, 326 orang mengalami luka-luka. Saat ini, sekitar 13 ribu warga lebih telah mengungsi. Mereka akan mengungsi ke sekitar 14 titik yang telah disiapkan.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, penyebab gempa 5,6 magnitudo yang mengguncang Cianjur diduga terjadi akibat pergerakan sesar Cimandiri dengan pusat kedalaman gempa 10 km.

Sesar Cimandiri adalah patahan Bumi yang membentang dari Pelabuhan Ratu, kemudian melewati Cianjur, Sukabumi, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, hingga Subang.

Irwan Meilano, pakar gempa di Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan bahwa gempa 5,6 magnitudo di Cianjur sebenarnya bukanlah gempa besar, melainkan gempa dalam skala medium. Kendati begitu, kerusakan yang ditimbulkan tergolong cukup parah. Irwan bilang, ada beberapa faktor kenapa ini bisa terjadi.

Kerusakan bangunan akibat gempa di Cianjur, Senin (21/11/2022). Foto: BNPB

“Yang pertama, gempa yang tadi siang itu bukan besar, itu skala medium. 5,6 magnitudo itu bukan skala yang besar, itu yang menjadi catatan bagi kami. Tapi saya melihat ada beberapa kemungkinan. Apabila mereferensikan gempa dengan magnitudo yang sama di tempat yang berbeda, itu tidak berdampak sebesar yang ada di pulau Jawa,” kata Irwan saat dihubungi kumparanSAINS, Senin (21/11).

Gempa dangkal

Pertama, lokasi gempa yang sangat dangkal dapat menyebabkan dampak guncangan bisa lebih besar. Selain itu, pulau Jawa diketahui terdapat banyak sedimen-sedimen produk vulkanik yang bisa mengamplifikasi atau memperkuat gelombang gempa.

Padat penduduk

Kedua kepadatan penduduk. Menurut Irwan, wilayah Pulau Jawa punya penduduk sangat padat sehingga saat terjadi gempa di daerah penduduk padat, dampak kerusakan dan korban jiwa bisa lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain.

Kualitas bangunan

Ketiga, kualitas bangunan. Ada kemungkinan bangunan-bangunan di sekitar wilayah sumber gempa tidak dipersiapkan untuk menahan goncangan seandainya terjadi gempa.

“Jadi menurut saya ada kemungkinan dari ketiga faktor tersebut, atau bisa jadi kombinasi dari ketiganya,” ujar Irwan.

Sumber: kumparan.com