JAKARTA, HETANEWS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut peristiwa gempa Cianjur yang terjadi pada Senin (21/11) kemarin, bertepatan dengan waktu ketika anak-anak sedang mengaji.

"Kejadian gempa pukul 13.21 WIB, ini bertepatan dengan banyak anak-anak yang sedang mengaji. Sehingga sebagian yang sudah teridentifikasi banyak anak-anak," ujar Kepala BNPB Letjen Suharyanto dalam konferensi pers, Selasa (22/11).

Kendati demikian, BNPB belum bisa merinci jumlah anak-anak yang tewas akibat insiden gempa tersebut. Suharyanto mengatakan pihaknya masih perlu melakukan pendataan lanjutan. Ia berjanji data lebih lengkap akan disampaikan dalam konferensi pers pada Rabu (23/11) besok.

"Besok jam 5 sore akan kami jawab," tuturnya.

Berdasarkan data terbaru, BNPB menyebut total korban dalam bencana tersebut telah mencapai 268 jiwa. Dari total korban tersebut sebanyak 122 jenazah telah berhasil diidentifikasi.

Sementara 151 warga dikabarkan masih hilang imbas gempa berkekuatan magnitudo 5,6 tersebut. BNPB juga mencatat sebanyak 1.083 orang mengalami luka-luka dan 58.362 orang harus mengungsi. Setidaknya 10 kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Cianjur, Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Warungkondang.

Kemudian Kecamatan Cilaku, Kecamatan Gekbrong, Kecamatan Cugenang, Kecamatan Cibeber, Kecataman Sukaluyu, Kecamatan Sukaresmi, dan Kecamatan Pacet.

Sebanyak 2.834 rumah warga dilaporkan rusak. Lalu 5 fasilitas kesehatan, 5 tempat ibadah, 13 fasilitas pendidikan rusak, hingga 2 jembatan terdampak.

Sumber: cnnindonesia.com