SIMALUNGUN - Jaksa Fransiska Sitorus SH dari Kejaksaan Negeri Simalungun menuntut hukuman SS (17) sebut saja Saprol (nama samaran) selama 7 tahun penjara. Karena diyakini bersalah turut serta melakukan perencanaan pembunuhan.

"Menyatakan Saprol bersalah melanggar pasal 340 Jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP," sebut jaksa disidang PN Simalungun, Kamis (17/11/2022).

Menurut jaksa Penuntut Umum, Saprol secara bersama sama dengan Akim Ambarita (disidangkan terpisah) terbukti menghilangkan nyawa korban Rudolf Situmorang. Peristiwa itu terjadi pada Jumat 14 Oktober 2022 pukul 13.30 Wib di Dusun Huta Tongah Nagori Pondok Bulu Dolok Panribuan Simalungun.

Siang itu, Waktu itu terdakwa Saprol dan temannya Akim Ambarita masuk ke dalam warung tuak di Simpang Palang Pondok Buluh. Lalu duduk satu meja dengan korban.

Terdakwa meminta agar korban mematikan musik di handphonnya karena terdakwa ingin bernyanyi sambil mengikuti lagu yang ada di handphone terdakwa. Tiba-tiba Akim Ambarita berkata, teruskanlah musiknya aku mau nyanyi sampai pagi.

Korban tidak terima lalu berkata, "matikan musik, kalau kau gak puas nanti di titi Kisat kita duel", ucap korban.

Setelah habis minum tuak, Akim Ambarita dan terdakwa Saprol pulang dan menunggu korban di titi Kisat. Persis di dekat rumah Mangerbang Sipahutar, Akim Ambarita memungut sepotong kayu dari samping rumah Sipahutar lalu memukul bagian kepala korban hingga jatuh tersungkur.

Akim dan terdakwa bergantian memukul kepala korban hingga tewas. Terdakwa Saprol ditangkap polisi di Sibolga, Tapanuli Tengah.

Kematian korban Rudolf Situmorang dikuatkan Visum dr Misatar Ritonga SpF (K) tanggal 15 Oktober 2022 pada RSU Bhayangkara TK II Medan menyimpulkan matinya korban akibat pendarahan hebat dan pecahnya tulang tengkorak kepala.

Atas tuntutan jaksa, terdakwa didampingi pengacara Josia Manik SH dari Posbakum PN Simalungun memohon agar hukuman terdakwa Saprol diringankan. Karena menurut Josia Manik dalam pledoi tertulisnya tidak sependapat dengan pasal 340 yang dituduhkan.

Terdakwa terbukti menghilangkan nyawa korban sebagaimana dalam pasal 338 KUHP, tidak ada perencanaan pembunuhan.

Karena alat yang digunakan untuk memukul korban berasal dari lokasi kejadian, bukan sengaja dipersiapkan oleh pelaku. Perbuatan tersebut hanya untuk memberi pelajaran kepada korban, jelas Josia Manik.