JAKARTA, HETANEWS.com - Pesawat kepresidenan RI BBJ2 dalam foto yang viral di media sosial tampak mungil dibanding jet-jet milik kepala negara G20 lainnya di Bali. Meski begitu, spesifikasinya tetap terbilang padat.

Hal itu tampak dalam beberapa unggahan berupa foto dan video yang berisi pesawat-pesawat yang tengah parkir di Bandara Ngurah Rai, Bali. Narasinya menyebutkan bahwa pesawat Jokowi itu "terlihat imut dibanding pesawat kepresidenan negara G20 lainnya."

Kenapa mungil? Ada perbedaan tipe pesawat antara jet kepresidenan RI dengan, misalnya, Air Force One yang ditumpangi Presiden AS Joe Biden.

Air Force One memakai Boeing 747-200B yang memiliki tinggi 19,33 meter, panjang 70,66 m, diameter 6,49 m, tinggi 19,33 m, dan bentangan sayap 59,64 m.

Dengan bobot tanpa isi mencapai 170.600 Kg (170 ton) serta maksimal muatan 68.180 Kg, pesawat AS ini bisa mencapain kecepatan maksimal 969 km/jam. Sementara, BBJ 2, yang merupakan kependekan dari Boeing Business Jet 2, memakai pesawat tipe 737-800.

Dikutip dari situs Boeing, seri pesawat ini memiliki tinggi 12,3 meter, panjang 39,5 meter, dan bentangan sayap 35,9 meter. Berat kosongnya mencapai 50.012 Kg dengan daya tempuh 11.973 Km.

Jelas beda bukan?

Mengutip Aerospace Technology, BBJ merupakan hasil kerja sama The Boeing Company dan General Electric Company yang diumumkan pada 2 Juli 1996.

Pengiriman BBJ pertama dilakukan pada Oktober 1998 dan pesanannya sudah lebih dari 154 kali per Juli 2011 (termasuk BBJ, BBJ2, BBJ C dan BBJ3). Sementara, BBJ2 dirilis pada Oktober 1999 dan pertama kali dikirimkan pada Maret 2001. Selain Indonesia, BBJ2 juga dipakai oleh pemerintah Belarus.

Konstruksi pesawat

BBJ2 berasal dari desain badan pesawat 737-800, yang memberikan peningkatan kinerja dalam hal jangkauan dan kecepatan yang lebih tinggi, tingkat kebisingan yang lebih rendah, dan emisi yang lebih rendah daripada anggota keluarga Boeing 737 sebelumnya.

Badan pesawat terbuat dari struktur aluminium fail-safe. Sayap dan ekor memiliki struktur dua tiang jalur ganda. Bagian sayapnya memiliki winglet (sayap kecil) campuran dari Aviation Partners untuk mengurangi turbulensi udara dan meningkatkan jarak tempuh bahan bakar, jangkauan, dan ketinggian.

Penghematan signifikan didapat dari penggunaan material komposit, dengan grafit, kevlar, dan plastik yang diperkuat karbon untuk aileron, elevator, dan kemudi.

Pesawat ini memiliki dua mesin turbofan CFM56-7B27 yang dikembangkan oleh CFM International, sebuah perusahaan yang dibentuk bersama oleh General Electric dari AS dan Snecma dari Perancis.

Pesawat ini pun disebut mampu terbang non-stop dari New York ke London, Moskow atau Dubai atau London ke Rio de Janeiro, Johannesburg, Singapura, atau Tokyo.

Selain itu, luas lantai kabin mencapai lebih dari 93 m² yang membuatnya dapat menampung hingga 78 penumpang di luar lounge eksekutif.

Sistem komunikasinya mencakup Rockwell Collins triple VHF dan komunikasi dual HF dan sistem panggilan selektif Coltech (SelCal). Perekam suara kokpit (CVR) memiliki durasi 120 menit dan perekam data penerbangan (FDR) dipasok oleh L-3 Communications.

Dibeli era SBY

Dikutip dari situs setneg, proses pabrikasi dan modifikasi pesawat BBJ2 itu berlangsung hampir 5 tahun. Harganya mencapai US$89,6 juta atau sekitar Rp847 milyar (kurs tahun 2014).

Harga tersebut sudah termasuk pabrikasi, modifikasi interior, dan "modifikasi lainnya yang diperlukan". Pembayaran harga pesawat dilakukan melalui skema kontrak tahun jamak mulai 2010 hingga 2014.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Sudi Silalahi, pada April 2014, menyebutkan ada tiga pertimbangan memiliki Pesawat Kepresidenan.

Pertama, penggunaan Pesawat Kepresidenan diklaim bisa menghemat Rp114,2 miliar per tahun bila dibandingkan dengan menyewa pesawat komersial.

Kedua, tidak akan mengganggu jadwal dan kinerja maskapai penerbangan komersial.

Ketiga, "sebagai negara besar kita tentu lebih berbangga apabila Presiden Republik Indonesia menggunakan pesawat khusus kepresidenan yang canggih, modern, aman, dan benar-benar difungsikan untuk melayani tugas konstitusional Presiden Republik Indonesia."

Pada era Presiden Jokowi, tepatnya pada Agustus 2021, pesawat ini mengubah tampilannya dengan mengganti warna cat dari semula biru-putih menjadi merah-putih.

Saat itu, banyak yang menyindir soal latar belakang partai sebagai alasan pergantian warna. Pihak Istana mengatakan biaya perubahan warna ini mencapai Rp2 miliar.

Sumber: cnnindonesia.com