HETANEWS.com - Awal biasa menghisap beberapa puntung rokok sekali duduk. Rata-rata ia menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari. Pengeluarannya untuk aktivitas tersebut mencapai Rp 30 ribu atau hampir sepertiga pendapatan hariannya.

"Cari uang sekarang makin susah. Kalau rokok masih murah, penghasilan masih bisa dirasakan. Kalau harga rokok naik tentu kami tidak setuju," ujar Awal kepada Katadata.co.id, pekan lalu.

Ia mengaku akan mengurangi konsumsi rokok jika harganya semakin mahal. Pasalnya, pendapatannya dari berjualan buah tidak ikut meningkat seperti harga rokok.

Beda dengan Awal, Andi Muhammad tak berencana mengurangi konsumsi rokok elektriknya, vape meski harganya berpotensi naik akibat kenaikan cukai. Pendapatannya sebagai pekerja swasta saat ini, menurut dia, masih dapat mengkompensasi kenaikan vape.

Andi mengaku berhenti mengkonsumsi rokok dalam beberapa tahun terakhir dan menghisap vape. Ini, menurut dia, juga merupakan alternarif untuk lebih hemat.

Sebelum beralih ke vape, Ia biasanya menghabiskan Rp 1,2 juta per bulan untuk membeli sekitar dua bungkus rokok sehari. Sementara pengeluarannya untuk vape saat ini tak sampai separuhnya yakni sekitar Rp 550 ribu.

"Tapi nggak tau juga kalau tahun 2024 dan seterusnya. Sebagian orang yang kecanduan nikotin sebenernya milih vape untuk berhemat, tapi kalau gini yakin bakal banyak orang yang kaya gue malah ngerokok lagi sih," ujar Andi saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Keduanya mengeluhkan keputusan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok dan rokok elektrik di tengah kondisi perekonomian yang masih sulit. Berbagai perkiraan lembaga internasional juga melihat prospek ekonomi dunia tahun depan lebih suram.

Jika ekonomi Amerika hingga Cina melambat, ekonomi Indonesia juga ikut terkena imbasnya. Beberapa perkiraan juga menunjukkan ekonomi Indonesia akan melambat tahun depan meski tidak sampai jatuh ke jurang resesi.

Harga-harga barang diperkirakan masih akan naik tinggi tahun depan. Bank Indoensia memperkirakan inflasi baru akan turun ke bawah 4% pada paruh kedua tahun depan.

Artinya, kenaikan harga-harga masih akan di atas 4% setidaknya sampai enam bulan pertama tahun depan. Kini rokok juga akan dikerek makin mahal.

Pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 10%. Kenaikan ini akan berlaku pada tahun 2023 dan 2024. Namun kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan tahun ini sebesar 12%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tarif cukai untuk golongan SKM I dan II akan meningkat rata-rata 11,5% hingga 11,7%. Sementara SPM I dan II akan naik di angka 12% dan 11%.

"Sedangkan SKP I, II, dan III naik 5%," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam keterangan tertulis Sekretariat Presiden, Kamis (3/11). Tak hanya itu, pemerintah juga akan mengerek cukai rokok elektrik tahun depan sebesar 15%. Kenaikan sebesar ini akan berlaku selama lima tahun ke depan. Cukai untuk hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) juga naik 6% pada tahun depan.

Sumber: katadata.co.id