JAKARTA, HETANEWS.com - Tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan perselisihan hubungan industrial mengalami peningkatan pada September 2022 ini. Begitu juga aksi unjuk rasa dan mogok kerja yang dilakukan pihak pekerja. Saat bersamaan kenaikan PHK juga bertambah meski tak signifikan.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Indah Anggoro Putri, dalam Konferensi Pers Capaian Pertumbuhan Ekonomi Triwulan ke 3, Senin (7/10/2022).

Indah mengatakan dari pandemi 2020 sektor ketenagakerjaan sangat terdampak hingga saat ini. Perselisihan hubungan kerja pada 2020 lalu mengalami peningkatan signifikan hingga puncak pandemi Covid - 19 di 2021 mencapai 9.000-an kasus. Lalu mulai mulai mengalami penurunan yang drastis pada 2022 hingga tersisa 1.210 kasus sengketa hubungan industrial. Namun jumlah kasus kembali meningkat hingga September 2022.

"Peningkatan sedikit sampai September 2022 1.428 kasus ini masih outstanding kasus dan kami masih mediator di Disnaker dan Kemenaker," katanya.

Sementara untuk kasus mogok dan unjuk rasa juga mengalami peningkatan pada periode Maret - September 2022 menjadi 387 kasus di September, dari 18 kasus pada Maret 2022.

Bergeser pada data PHK, Indah menjelaskan, pada September 2022 ini mengalami peningkatan PHK meski tidak signifikan, meski tidak setinggi pada tahun 2021 lalu.

"Kasus PHK di 2020 saat Covid sedang tinggi dan banyak perusahaan tutup mencapai 386.877 kasus, turun pada Maret 2022 menjadi 1.515, September 2022 ini naik tapi nggak signifikan. Ini masih kita perjuangkan. Kemenaker dan asosiasi mengedepankan dialog dan mencegah PHK," jelasnya.

Sebelumnya ramai isu PHK dalam sektor padat karya seperti persepatuan dan tekstil/garmen, yang jumlahnya hingga ratusan ribu. Hal ini disebabkan gejolak geopolitik yang menyebabkan turunnya orderan dari Amerika Serikat dan Eropa.

Sumber: cnbcindonesia.com