HETANEWS.com - Menkes Budi Gunadi Sadikin angkat bicara soal persepsi publik yang menilai pemerintah saling lempar tanggung jawab terkait gagal ginjal pada anak. Budi memastikan semua pihak baik Kemenkes dan BPOM bertanggung jawab.

Kasus gagal ginjal akut meningkat tajam di Indonesia pada akhir Agustus 2022. Hasil investigasi menunjukkan bahwa obat sirop yang mengandung etilen glikol dan dietilen glikol jadi penyebabnya.

"Gini, ini kan semua yang di pemerintah pasti lah bertanggung jawab. Saya pribadi sangat sedih dengan adanya kematian anak-anak, balita. Pemerintah mesti tanggung jawab bagaimana caranya supaya kesehatan masyarakat terjadi," kata Budi usai rapat dengan Komisi IX, BPOM, dan BKKBN terkait penanganan stunting di Gedung DPR RI, Senin (7/11).

"Nah, fokus pemerintah pastikan jangan terjadi korban. Bukannya kita mau lempar-lemparan, enggak sama sekali," imbuh dia.

Budi mengatakan, dia telah berusaha sesegera mungkin menindaklanjuti laporan gangguan ginjal sejak 9 September lalu. Karena sedang terinfeksi COVID-19, Budi melakukan meeting pada 10 September secara virtual saat isoman.

Ilustrasi obat sirup. Foto: Shutterstock

Sekitar satu minggu kemudian atau 18 September, Kemenkes memutuskan menginvestigasi kasus tersebut lebih mendalam.

"Apa bisa lebih cepat? Ya mungkin bisa, cuma di awal-awal kita terus terang tidak tahu itu penyebabnya apa. Kita sudah panggil semua profesor, ahlinya, kita enggak ketemu. Baru 5 Oktober begitu WHO disclose kasus yang sama, baru kita tahu," lanjut dia.

"Dan 5-18 Oktober kan ada waktu hampir 2 minggu. Yang kita lakukan kita cek dulu bener gak di Indonesia [kasusnya] sama [dengan WHO]. Jadi setelah 2 minggu kita tahu, kita ambil keputusan," ujar dia.

Budi menyampaikan duka cita mendalam bagi para korban gagal ginjal akut pada anak. Ia memastikan ke depannya agar memperketat pengawasan agar kejadian serupa tak terulang.

"Sekali lagi, apa [penanganan] itu cepat atau lambat, menurut saya itu semampu kita, secepat kita bisa, sudah dilakukan. Jadi satu bulan satu minggu sejak kita tahu, kita ambil keputusan, dan dua minggu setelah kita tau pasti penyebabnya apa kita ambil keputusan," jelas dia.

"Saya sebagai Menkes ya semua masalah kesehatan oleh Pak Presiden diamanahkan ke saya, jadi saya menyampaikan duka cita dan saya harap ke depannya jangan sampai ini terjadi lagi," pungkas dia.

Pastikan Kasus Terkendali

Sementara itu, Budi menerangkan sejak Kemenkes menyetop pemberian resep obat sirup di RS, kasus gagal ginjal pada anak turun drastis. Menurutnya, tercatat tak ada lagi kasus baru gangguan ginjal pada anak yang masuk RS.

Sebelumnya, Ia mengatakan per minggu dapat mencapai 50-60 kasus. Ini juga berkat pemberian obat Fomepizole injeksi sebagai antidot (penawar) intoksikasi EG/DEG dalam darah bagi gangguan ginjal akut pada anak.

"Tadinya banyak kayak RSCM, Sardjito kemudian di Bali, sekarang sudah tidak ada lagi pasien yang baru. Sehingga kita yakin kondisinya yang baru sudah terkontrol.Kita sekarang tinggal jaga yang ada di perawatan. Di perawatan kalau enggak salah ada yang masih dirawat 25. Sejak kita kasih Fomepizole," terangnya.

"Sebelumnya kan fatality ratenya kan 60% sekarang hampir semuanya sembuh. Jadi kita tinggal jaga yang dirawat ini sampai kena. Fomepizole itu kan kita sudah ada 246 ya bu? Itu sudah didistribusikan 200 ke seluruh RS di seluruh Indonesia, dan itu juga sudah sangat menurun kematiannya. Kalau saya liat yang ini sudah terkendali," ungkap dia.

Sumber: kumparan.com